Tidak pernah dibayangkan, rantauan kali ini cukup jauh bagi kami. Ujung barat Jawa Timur. Bahasa yang di gunakan jawa halus, menjadi ciri khas di daerah ini. Kami yang berasal dari ujung timur Jawa notabenenya berbahasa madura, meski jawa halus masih kami kuasai. Perjalanannya panjang. Saat kecil kukira kami sedang beruntung, tinggal di tempat yang indah, berkumpul dengan orang orang yang ramah, tidak pernah terdengar suara keras, ada ikonik peninggalan hindu budha, jauh dari keluarga besar. Hingga aku besar, kenyataannya ini adalah hukuman.
Perjalanan dari Banyuwangi 14jam. Rombongan yang ikut serta banyak yang teler, jangan tanyak aku, akupun begitu. Naik kendaraan langsung yang disediakan kantong plastik di tangan ayah ibu. Kala itu aku duduk di pangku ibu. Tidak terhitung lagi berapa kali makanan keluar dari mulutku. Bagi anak seusiaku, naik kendaraan menjadi momok tersendiri, seperti menjadi rutinitas mual selalu terjadi. Kala kecil aku memilih berkendara menggunakan roda dua, ketimbang roda empat. Nyatanya keinginan itu tertular ke anak sulungku, lebih memilih kemana mana menggunakan sepeda.
Rombongan tiba pukul tujuh pagi. Melihat kompleks perumahan yang beda dari rumah sebelumnya, aku terheran. Aku senang melihat keadaan sekitar. Aku ingat kala itu aku berjalan ke kanan ke kiri membawa sapu, sementara orang dewasa tengah sibuk berlalu lalang mengangkut barang kami. Aku belum tahu betul kenapa kami disini, yang ku tahu aku bersama ayah ibuku, itu saja sudah membuatku tenang.
Setelah semua barang bawaan kami masuk ke dalam rumah, semua rombongan ngaso. “Yu aengngah celep” “iya mba, airnya dingin ya, seger, tapi adem” celetuk mereka bersahutan sambil makan bekal yang di bawa. “Tino endi mba” “nineng mana” tanya salah satu yang lain “o roah main, duh niserah ye, jeuh mon moleh setiyah” “apa tanemannya ye” “iku teh yu” “mon tak norok tak kera tao ye, engak apah bungkanah teh ruah” “iyeh, begus”obrolan mereka kala itu tidak kupahami sama sekali. Hingga sampailah waktu mereka pulang. Kesemuanya menangis, berpelukan, seperti ada duka di antara kami. Sementara aku, masih sibuk membawa sapu ke kanan dan ke kiri (bermain sendiri)
“Se sabber ya mba” “mba aku pamit” “cak aku pamit, se sabber jeu deri pak mak”
Pesan mereka berbarengan
“Iyeh” sahut ayah ibu.
Merekapun pulang, ada yang memelukku ada yang menggendongku sebentar dan ada pula yang mengusap rambutku.
Hari haripun berjalan sebagaimana biasa. Kala itu aku berumur 6 tahun. Sudah waktunya bagiku mengenal apa itu pendidikan, lebih tepatnya terlambat. Di rumah lama kemarin aku pernah pergi sekolah, itupun hanya sekali. Karna jarak yang lumayan jauh, dan medan yang di tempuh amat ekstrim ibu memutuskan untuk tidak sekolah lagi. Berbeda dengan rumah baru kami, sekolah taman kanak kanak disini dekat.
Ketika ayah mendaftarkan aku untuk sekolah “pak persyaratannya harus mencantukan akte kelahiran” “waduh bu, maaf sebelumnya aktenya hilang bu, berbarengan kena banjir waktu di rumah lama” kata ayahku berbohong, kala itu aku maupun mas tino belum memiliki akte lahir. “owala, iya sudah tidak apa apa, besok anaknya bisa langsung sekolah ya, aktenya menyusul segera di urus nggeh pak, sebelumnya apa pernah sekolah pak?” “Nggeh, Pernah bu, itupun hanya ikut ikutan masnya” “o nggehpun, mboten nopo, besok bisa langsung sekolah”
Sesampainya di rumah, angin bertiup begitu dingin, memaksa tubuh untuk meringkuk di bawah selimut. Matahari di luar memang terik, tapi dinginnya hawa kala itu membuat bulu kuduk berdiri. Kami yang berasal dari dataran rendah menuju dataran tinggi harus beradaptasi. Kala itu sore menjelang ashar, aku sudah mandi, mas tino sudah sibuk dengan bukunya.
“Nak besok sekolah yo samean, gae tas iki, baju iki” “buk gak gae seragam koyok mase?” “Samean gak due seragam nak, engko tak tumbasne karo ibuk ya” “buk tas e cilik, bukune gak iso melbu, pensil e ae gak melbu” “iyo gak popo engko lek ibu mudun tak tumbasne” mudun, kata kata kami tatkala mau ke kota. Jarak tempuh rumah kami ke kota lumayan jauh. Melewati hutan belantara, jalannya sudah pasti makadam dengan bebatuan yang besar besar. Untuk menuju ke kota kami menghabiskan wajtu dua jam, itupun kalau tidak diterjang hujan. Masih ingat betul di ingatan, pertama kali sekolah aku berangkat sendiri, bermodalkan nekat. Sesampainya di sekolah, anak anak mengerubungiku, satu persatu dari mereka mengajakku bermain. Ketika masuk kelas tiba aku disuruh memperkenalkan diri. “Ayo nineng maju ke depan, perkenalan dulu” akupun maju “hayo namanya siapa dari mana asalnya” “eee namaku nineng” “asalnya dari mana?” Aku hanya menggeleng “iya sudah silahkan duduk kembali”
Pelajaran pertama, mewarnai, aku tidak tau betul apa itu mewarnai, “nineng punya krayon?”aku menggeleng. Hingga ibu guru yang baik hati memberiku krayon patah patah di tempatkan di wadah kecil bening. “Ini ya, di warnai kertasnya” akupun mengangguk. Jam istirahatpun tiba, kami bermain di pelataran sekolah. Ada ayunan, jungkat jungkit, rumah kurcaci, perosotan, semuanya mainan anak anak. Aku senang sekali, ini pengalaman pertamaku bermain disekolah. Bila mendekat ke pagar sekolah, terlihat dari tempatku berdiri ada sekolah dasar, blok rumah tempatku tinggal, perbukitan, dan kelompok rumah etan.
Hari berjalan sebagaimana biasa, sebulan sudah aku bersekolah disini. Waktu jam istirahat tiba kami bermain di pelataran, kami anak anak gemar melihat sekolah dasar di bawah. “Sesok awakdewe sekolah nang kunu, iku onok mba nita” “mba nitaaaa, mba meldaaaa” teriak teman teman berbarengan, meski yang di panggil tidak akan pernah mendengar. Jarak antara sekolah taman kanak kanak dengan sekolah dasar lumayan jauh sekitar satu kilometer. “Masku sekolah nang kunu pisan lo” “sopo jengene neng?” “Mas tino”
Dua bulan berlalu. “Ayo anak anak maju kedepan, belajar membaca kata dulu” hingga tiba giliranku membaca, aku hanya menggeleng. Terlihat Ada kekhawatiran di benak ibu guru. Hari berselang aku belum mengenal apa itu angka dan abjad. Ke esokan harinya ketika jam waktu pulang tiba, di sekolah main tebak tebak an, aku yang masih asing apa itu yang di sampaikan, akhirnya pulang paling belakang. Hingga hari haripun berlalu, tiap waktu pelajaran tiba hatiku berdegub kencang, ada perasaan kuatir dan tidak kerasaan. Mungkin karna ketidaktahuan atau keterlambatan belajar.
Tiga bulan berselang, suatu sore di rumah kami, ada ibu guruku datang berkunjung. Tidak masuk ke dalam rumah, hanya di pelataran, mereka bercakap cakap, sementara aku bermain. “Pak, bu, ngapunten sakderenge , ini mau ada kenaikan kelas, saya amati selama tiga bulan sekolah disini, nineng belum ada perkembangan, belum mampu untuk dinaikkan ke sekolah dasar, pripun? Apa tetap tinggal di taman kanak kanak saja dulu?kasian” “Waduh bu, umurnya sudah cukup untuk masuk ke sekolah dasar nggeh, kasian kalau lebih tua dari teman temannya yang lain” “la nggeh niku pak, anaknya belum mengenal angka, abjad” “mboten nopo pun bu, biar saya yang ngajari di rumah” “o nggeh minta kerjasamanya nggeh pak” “nggeh, matur nuwun sakderenge”ada kekhawatiran di benak ibu guru, sepertinya aku tidak mampu untuk melanjutkan ke jenjang sekolah dasar, tapi ada yang lebih khuatir lagi. Ayah. Ayah tidak ingin aku tertinggal dengan melihat umurku yang mulai beranjak besar.
Cuaca di pagi hari amat dingin, sebelum berangkat sekolah, kudahului dengan mandi air hangat dan sarapan pagi. Ibu lebih dulu membangunkan mas ketimbang aku, karna jam masukku sekolah lebih siang dari mas. Setelah mas selesai dan berangkat sekolah, kemudian giliran aku di urus ibu. Setelah selesai, aku berangkat sekolah. Di sekolah hari ini ada pemotretan. Foto untuk di pajang di ijazah nanti. Kala itu aku belum memiliki seragam. Hingga akhirnya aku meminjam seragam teman. “Ayo Nineng sini, pinjam seragamnya ita dulu ya, ita tukeran seragam dulu ya,” “iya bu guru, jawab mereka berbarengan” setelah selesai foto kami bertukar baju kembali. Detik detik mendekati kelulusan, kami lebih sering berada di luar kelas, Kami habiskan waktu dengan bermain.
Waktu Pembagian ijazahpun tiba. Anak anak diliburkan, sementara rapor dan ijazah di ambil oleh orang tua masing masing. Karna di rumah tidak ada orang, akhirnya aku ikut serta mengambil rapor dan ijazahku. Saat itu aku terheran, o begini ya ijazah itu, o ini ya yang dinamakan rapot itu, tulisan di dalamnya tidak begitu penting bagiku kala itu. Aku hanya mengagumi foto diriku di antara buku keduanya. Dan itu menjadi foto pertamaku terbingkai yang tercetak.
…
Hari pertama menjadi murid sekolah dasar. Kala itu aku sudah berseragam merah putih dengan tas dan sepatu baruku. Kukira sekolah dasar tempatnya masih bermain seperti sekolah sebelumnya. Hari pertama adalah perkenalan, masing masing dari kami memperkenalkan diri. Satu kelas terdiri dari 19 siswa, berasal dari afdeling tempatku tinggal, desa sebelah dan afdeling atas. Kesemuanya jalan kaki menuju sekolah, tidak ada satupun di antara kami yang diantar orang tua. Jarak yang teman temanku tempuh lumayan jauh, berkilo kilo meter, tapi hebatnya tidak menyurutkan semangat belajar mereka. Dalam satu kelas umur kami beragam, ada kaka tingkat yang masih tertinggal di kelas, karna memang belum mampu untuk di naikkan ke kelas dua.
Berbeda dengan sekarang, mampu tidaknya anak untuk tertinggal di kelas bukan penghalang lagi, tidak jarang saat ini ada siswa yang di temui belum mahir membaca meski sudah duduk di kelas enam sekolah dasar. Miris bukan pendidikan sekarang ini. Bila jamanku dulu, jika si anak tidak mampu, sekolah tidak memberikan toleransi apapun, harus tetap tinggal sampai anak mampu untuk melanjutkan ke tingkat yang lebih tinggi.
Sekolah dasar disini terdiri dari 5 ruang kelas dan satu rumah penjaga sekolah. Satu ruang untuk kelas satu, ruang kedua berisi anak anak kelas dua dan tiga. Ruang ke tiga berisi anak anak kelas empat dan lima dan ruang enam berisi anak kelas enam. Satu lagi ruang khusus untuk bapak ibu guru dan perpustakaan. Murid sekolah di sini sedikit, karna sedikitnya, siswa kelas dua tiga empat lima di gabung menjadi dua kelas. Satu ruangan di sekat menggunakan triplek. Bila saat mengajar sudah pasti bersahut sahutan antar masing masing kelas. Tapi dari sini kami siswa belajar empati, berbagi dan tertib serta patuh.
Satu minggu terlewati, belajar mengajar mulai rutin di gelar. Pelajaran pertama bahasa indonesia. Anak anak di dikte oleh guru, menyalin ke buku masing masing. Aku yang belum mengenal huruf kala itu mendapati nilai nol. Ke esokan harinya, pelajaran matematika, penjumlahan dan pengurangan, lagi lagi aku yang belum mengenal angka mendapati nilai nol kembali. Karna sudah beberapa kali mendapat nilai nol akhirnya aku dan salah satu teman kelasku (kaka angkatan yang tertinggal) di panggil untuk maju ke depan. Kami dinasehati beragam, pada intinya belajar. Sepulangnya sekolah, ibu melihat buku sekolahku, ada kekhawatiran ketika melihatnya, hingga akhirnya sampailah nilai nol ini pada ayahku. Hingga ayahpun teringat pesan ibu guru taman kanak kanak dulu. Selepas kejadian nilai nol itu, sepulang ayah kerja, aku diajarinya angka, abjad, membaca menulis. Setiap hari, bila sepulang kerja aku tidak berada di rumah, dicarinya aku keliling blok. Pernah suatu hari ketika aku bersama teman teman tengah asik bermain, ayah mencariku, sontak aku bersembunyi, sambil memberi aba aba “sssttt, ojo ngomong aku nang kene yo rek yo”. “Kliatan nineng?”tanya ayahku kala itu. “Tidak pak, gak tau gak main sama kita”. Setelah ayah pergi, aku kembali bermain. Hingga sorepun tiba, aku kembali ke rumah dengan baju kotor berdebu. “Nineeeeng, nangdi ae yo, digolek i ayah e ko dolen ae sampe sore, ooo ikii” tegur ayah dengann nada marah dan keras. “Cepet adus ayo sinau” dengan nada yang tidak kalah tingginya. Aku tidak memberikan jawaban apapun, aku langsung bergagas mandi dan belajar bersama ayah.
Sebagai seorang ibu, kini aku kagum pada ayah, karna kegigihan dan kesabarannya membimbingku hingga aku bisa mengenal abjad angka, aku bisa menulis membaca, bisa mengejar ketertinggalanku. Saat aku membersamai anak sulungku belajar, aku kerap geleng geleng kepala, “susah betul ternyata mengajari anak membaca menulis”tidak jarang aku sering naik darah tatkala mengajari anak sulungku membaca menulis. Nyatanya aku tidak sesabar beliau. Kekagumanku mengantarkan doa yang diam diam tertuju padanya. Sembari mengusap air mata bangga dan terharu. “Mengajari baca tulis itu nyatanya tidak mudah ya buk, ayah e sabar banget yo mbiyen iku, aku kagum, ya Allah ayah, lek ayah e gak sabar aku gak kiro iso moco nulis” kenangku kini diam diam bersama ibu.
Pendidikan saat ini ambigu menurutku. Lulus taman kanak kanak harus sudah bisa membaca menulis. Berbeda jauh dengan pendidikan di luar Indonesia yang lebih fokus pada bermain. Ada salah satu temanku yang sering berkunjung ke rumah, dia bercerita anaknya tidak pernah dikenalkan buku, di sekolah hanya bermain. O sepertinya tidak semua sekolah mewajibkan baca tulis. Satu lagi pendidikan yang hanya mengenalkan alam, tanpa menyentuh buku. Sepertinya beberapa yayasan saat ini sudah mulai sadar pentingnya bermain. Tapi melihat pendidikan saat ini, anak sekolah dasar kelas satu kebanyakan bisa membaca dan menulis, menggunakan akal dan pikirannya. Di tengah gempuran slogan “anak di bawah tujuh tahun waktunya bermain” “jangan sita waktu anak bermain” tapi melihat keadaan di lapang, banyak anak kelas satu sekolah dasar yang mahir membaca menulis membuatku bimbang. Mana yang harus di olah lebih dulu. Hingga akhirnya tidak ada akhir yang hanya meminta pertolongan dari yang Maha Kuasa.
Wallahu a’lam bishawab - dan Allah lebih mengetahui kebenaran yang sesungguhnya
0 komentar:
Posting Komentar