Resensi Seorang Laki-laki yang Keluar dari Rumah-Puthut ea

“Tidak ada hubungan antara pernikahan dengan cinta, cinta ya cinta, menikah ya menikah. Hanya orang yang beruntung jika bisa saling mencintai lalu menikah”

“Kamu yakin”

“Ya, banyak temanku yang melakukan itu. Mereka menikah karna harus menikah. Sudah saatnya menikah.  Mungkin hanya ada sedikit cinta atau perasaan sayang satu sama lain. Tapi menurutku bagaimana rumah tangga di bangun dan didirikan tidak ada hubungannya secara erat dengan saling mencintai. Ibarat makanan. Kita harus makan, persoalan enak atau tidak, tidak ada hubungannya secara langsung. Beruntunglah ketika kita makan mendapatkan makanan yang enak. Tapi kalau tidak ya kita harus tetap makan”.

“Kalau begitu bisa dipastikan mereka yang melakukan ini tidak bahagia”

“Oh itu lain lagi, bahagia itu tidak harus dengan cinta. Itu berbeda. Kamu lapar malam malam, lalu tidak ada makanan, terus kamu masak nasi goreng, gak begitu enak tapi kamu kenyang. Kamu bahagia. Orang berumah tangga tidak karena cinta, tapi karena memang sudah saatnya menikah. Mereka berdua cocok. Lalu menikah. Lalu mereka bahagia, ya sesederhana”

Mereka yang kita cintai tidak pernah benar benar pergi. Waktu boleh menghapus langkah dan suara. Tapi hati menyimpan mereka dalam ruang yang tidak disentuh lupa. Disanalah mereka berdiam, bukan sebagai kehadiran melainkan menggema di setiap langkah yang kita lalui. Mereka hidup dalam ingatan yang tidak meminta ijin untuk muncul. Dalam kesunyian dan dalam jeda nafas yang panjang dalam perasaan yang tiba tiba familiar tanpa sebab dan jelas. Setiap kisah yang datang diam diam kerap mengukur dirinya pada kenangan itu. Bukan untuk menyaingi bukan untuk mengalahkan tetapi karna hati berusaha mengenali cinta yang tersentuh paling dalam. Namun mereka datang bukan untuk mengikat, mereka hadir sebagai pembelajaran tentang betapa besarnya hati pernah mencinta dan kehilangan. Dari mereka kita belajar untuk ikhlas dan lulus dengan doa yang teramat panjang. Ku kira ketika ijab terlaksana, semuanya akan runtuh perlahan. Nyatanya satu demi satu mereka datang. Ijab bukan akhir, melainkan awal dari sebuah perjalanan panjang. Mereka datang bukan untuk menjadi lemah, melainkan untuk menjadi kuat. Menjadi diri dengan level yang terbaik. Tujuan akhirnya di suatu tempat dimana sungai sungainya mengalir air susu. Semuanya tampak muda dan berseri.

Ada pula ulama bilang begini 

Cinta tidak disebut dalam al-quran, dalam hubungan suami istri. Cinta hanya ada di sebagain keluarga saja dan justru di kebanyakan keluarga cinta itu tidak ada. Bisa jadi dalam berumah tangga awalnya cinta itu amat kuat, kemudian melemah, bahkan bisa no, tapi kemudian hidup kembali, karena itulah dalam al-quran tidak disebutkan kata cinta dalam berumah tangga, melainkan disebutkan dengan kata mawaddah (rasa kasih). Mawaddah itu lingkupnya sangat luas, sementara cinta bagian kecil dari mawaddah. Suatu ketika seorang pria datang kepada Umar bin Khattab mengadu perihal istrinya, lelaki itu berkata 

“Aku ingin menceraikannya”

“Kenapa”

“Tidak ada cinta lagi di antara kita”

“Celaka kamu” jawab Umar

“Apa semua rumah tangga di bangun atas dasar cinta?lihat niat pernikahan yang salah, tapi dalam mawaddah, mawaddah lebih besar dari sekedar cinta. Mawaddah adalah hubungan yang baik. Bisa jadi melanjutkan hubungan demi anak anak, mungkin karena kebutuhan tertentu, mungkin karna kemaslahatan, mungkin karna ikatan keluarga besar, yang pasti ada tujuan tertentu, jadi cinta bukanlah syarat utama. Tapi jika hubungan suami istri ada cinta ini adalah nikmat yang luar biasa dan kebaikan yang melimpah”

Kutipan buku Puthut dan ulama Timur Tengah menyadarkanku bahwa kita hidup didunia tidak pernah luput dari ujian, sekecil apapun. Dan kadangkala kita tidak menyadari bila ternyata ujian itu sedang berlangsung. Yuk perbanyak bismillah dalam setiap langkah yang kita jalani. Dan jangan lupa selalu hati-hati dan senantiasa mengingat Allah SWT dalam diri, semoga kita selalu diberikan kekuatan iman dan taqwa.

0 komentar:

Posting Komentar