Sore hari tanggal 11 april 2026. Baru saja ada teman ayah berkunjung bersama keluarga kecil beserta ibunya. Teman ayah akan mengikuti funbike besok, di pantai pulau merah. Ibu mengobrol bersama istri beserta ibunya tamu, sedangkan ayah bersama teman bernostalgia semasa SMA. Setelah ngobrol diketahuilah si istri nyatanya pernah satu kebun bersama ibu semasa kecil. Silosanen, bedanya ibu tinggal di kebun inti sementara istri si tamu di kampung jauh dari kebun. Di kebun yang umurnya sudah teramat tua, pastilah tercipta perkampungan, yang mulanya hanya dihuni beberapa kepala keluarga, tahun demi tahun menjadi bertambah. Begitupun di kebun silosanen. Banyak kampung kampung tercipta di ujung ujung kebun. Ketika mereka sudah beranjak pulang dan setelah membersihkan ruang keluarga yang berantakan, ibu duduk dekat kaka yang tengah asik menonton tv sembari bilang
“Aku ko pusing banget ya mas, bukan pusing si sakit ini di bagian ini” ibu menunjuk dahinya, sudah kesekian kali kalimat ini keluar dari mulut ibu, karena seringnya berucap ayah berkata
“Mau tau tidak, sakit itu bisa jadi ibadah, kalau dinikmati disyukuri, jangan mengeluh, mentok kalau gak kuat ikhtiar diobati”
Ibu mengangguk. Sedari pagi kepala berasa ditekan. Selepas memakan bakso bersama oma diakhiri dengan minum susu coklat di campur cincau sisa dari teman Bintang sedari kemarin.
“Apa karna susu coklat ya mas?” Ibu mengulangi kembali keluh kesahnya.
“Bisa jadi buk, karna lemaknya susu, buk, ayah besok funbike, menemani teman” ibu menoleh pada sumber suara dan menelisik. “Kok tiba tiba”
Suatu hari di tahun 2024, di tengah perjalanan mudik kami. Tahun ini kami berlebaran di kota Bondowoso, kota tempat kelahiran suami. Awalnya rencana mudik diurungkan karena melihat kondisi perut ibu yang makin besar. Hari prediksi kelahiran juga makin dekat. Karena suatu hal akhirnya kami memberanikan diri mudik, dengan membawa peralatan bayi. Takutnya adik lahir di rumah uti. Di tengah perjalanan hujan mulai turun dengan malu malu, lalu lintas kendaraan ramai, karena hari ini puncak mudik.
“Mau tau tidak mas, menjelang adik lahir, ada satu hal yang ibu takutkan. Ibu tidak bisa menemani tumbuh kembangnya bersama ayah”
Ayah terdiam tanda kurang paham arah pembicaraan
“Gimana kalau umurku sudah hampir habis, gimana kalau persalinan besok ini aku di ambil”
“Samean siap?”
“Enggak, aku masih mau nememani anak anak, menikmati rumah yang isinya hanya aku samean dan anak anak, aku tu gelisah mas, gimana kalau bukan aku yang menjadi ibu besok ketika rumah kita selesai, bukan aku yang memasak mencuci membersihkan rumah ketika di pagi hari, gimana kalau waktuku sudah habis..”
“Buk, istigfar, siapa yang tidak takut. Akupun pernah terlintas seperti itu, bila waktunya sudah habis, ya kita mesti terima, makanya ayo perbanyak bekal, samean tau, nasihat paling baik adalah kematian. Dengan mengingat mati kita akan lebih berhati hati di setiap langkah yang kita lalui. Makanya dek, setiap saat ayah ingat, ayah selalu minta maaf ke ibuk, ke ara, karena kita tidak tau ada salah satu tingkah kita yang menyakiti hatinya. Maaf ya kalau aku keras sama samean, maaf juga atas khilaf ku”
Aku pun terdiam, ada perasaan sedikit longgar. Sudah hampir 4 bulan ini hati ibu tidak tentu, bukan memikirkan bekal yang akan di bawa, melainkan bagaimana anak anak dan suami nanti ketika ku tinggal. Ketika mobil melaju ditemani rintikan hujan, kemudian teringat dawuhan gusdur yang berbunyi
"Waladatka Ummuka, Yabna Adama Bakiyan, Wannaasu Haulaka Yadhhakuuna Sururan"
artinya: Hai Anak Adam kau terlahir dari Rahim Ibumu dalam keadaan menangis, sedangkan orang disekitarmu riang gembira akan kelahiranmu.
"Fajhad Linafsika Antakuna Idza Bakau, Fi Yaumi Mautika Dhaahikan Masruran"
artinya: Maka Berjihadlah untuk dirimu sendiri sebagai bekal diharimu mati nanti kau pergi dalam keadaan Tersenyum bahagia, sedangkan orang disekitarmu Menangisi kepergianmu.
Suatu siang yang teramat terik di pertengahan tahun 2025 ibu sedari kemarin dihantui berita yang berseliweran di sosial media. Berita yang muncul tanpa di undang, muncul sendiri karena sedang booming.
“Mas, ko banyak banget si kasus perselingkuhan jaman sekarang ini”
“La terus kenapa, mau marah marah samean seperti orang gak jelas diluaran sana, mau ikut ikutan muring muring tanpa sebab? Samean ini aneh, ngapain si ngurusi dunianya orang, urus anak anak sama aku aja sudah tidak usah ngurusi mereka, urusi miemu itu juga”
Ibu berpaling dengan senyuman
“Orang paling keren saat ini itu orang yang setia, bukan orang yang dikelilingi banyak wanita, wes tidak usah ngurusi urusan orang, apa mau samean tak bantu mempermudah mendapatkan surga?”
Mata ibu melotot, tanpa di aba aba cubitan kecil melayang di perut ayah.
Suatu malam selesai mengaji. Kisaran pukul 00.11 dini hari dua minggu kemarin (hari ini tanggal 13 april 2026)
“Yah, ngaji apa tadi?” Kebiasaan bila ibu ingat, selepas ngaji selalu di todong pertanyaan.
Minggu pertama mulai mengaji, teman teman beserta ustad meminta mengaji di rumah kami. Karena hening nan syahdu katanya. Di temani suara kodok yang berseliweran, untungnya kepik tidak hadir malam ini. Sepertinya mereka tidak hadir karena merestui apa yang kami kerjakan di rumah malam ini.
“Tadi ngaji tentang memuliakan istri, oh iya lebih kepada bagaimana hakikatnya kita hidup, mencontoh sunah sunah rasul, samean gak nyimak tadi?”
“Tidak la mas, aku ketiduran di kamar belakang”
“Memuliakan istri dengan cara apa?”
“Menyukai merestui apa yang di sukai istri, semuanya tanpa terkecuali asalkan masih dalam koridor hukum islam, intinya samean mesti bahagia dulu, supaya semuanya menjadi lancar, apapun itu. Samean bahagia tidak? Bila belum, berarti aku mesti berusaha lebih keras lagi” diakhiri dengan senyuman
“masih ingat samean ustad dawuh apa saja waktu halal bihalal?”
Ibu tersenyum sambil mengingat dengan keras, makin diingat makin tidak muncul apa yang pernah disimak
“ kita dianjurkan hidup mencontoh rosul, memang mustahil untuk mencontohnya keseluruhan, tapi kita mesti berusaha, seperti pernah suatu ketika nabi itu belum bersedekah pada hari itu, dan uang yang dipunya hanya tinggal itu saja, apa yang dilakukan nabi, ya disedekahkan tanpa pikir panjang, kalau kita bagaimana? Masih mikir seribu kali toh, kalau dikasihkan gimana mau makan nanti besok dan lain sebagainya. Kekhawatiran itu mesti muncul di benak kita, dan kalau kita sampai berfikir seperti itu berarti kita tidak percaya sama Allah dong. Nabi itu, kalau masih ada uang di sakunya, nabi itu gatel mau mengeluarkannya untuk sedekah. Dan sedekah itu dilakukan dalam keadaan sempit maupun lapang, bersedekah memberikan apa yang paling kita sayang dan yang di eman eman. Itu lo yang bikin greget, insyaAllah punya nilai plus di mata Allah”.
Hari ini tanggal 16 april 2026.
“Semalam ngaji apa yah?” Seperi biasa, bila ibu ingat ayah kerap ditanya topik mengaji semalam.
“Tentang istiqomah bismillah”
“Wah apa itu”
“Panjang dek, pada intinya bila kita hendak melakukan segala macam aktivitas, kita harus mengucapkan Bismillahirrohmanirrohim, apapun itu yang kita kerjakan. Supaya ada keberkahan dibalik kerjaan kita, bisa menjadikan ladang pahala juga bagi kita”
Ibu menyimak sambil manggut manggut.
Satu minggu kemudian
“Buk, mana tasbihku yang cetak cetek?”
“Kurang tau yah, coba samean lihat di rak atas”
Sedang riweh kesana kemari mencari tasbih.
“Buat apa si mas”
“Malam ini ada agenda 1000 langkah bismillah”