Suatu sore di kamar mandi kami. Tanggal 31 maret 2026, sedari kemarin adik rewel, tiba tiba teriak bila yang dikehendaki tidak tersampai. Belum lagi tiap menjelang magrib selalu minta tidur. Ayah mendadak ada panggilan kerja sore hari, Maka karenanya sebelum berangkat ayah berpesan
“Tidak usa masak yang aneh aneh buk”
Ibu terdiam sambil mengangguk. Sembari masak menu sore anak anak bermain di depan tv. Hari ini ara berhasil lolos membunuh kebosanan tanpa tv. Matanya membengkak sedari pagi, entah akibat melihat tv yang teramat dekat atau terlalu banyak makan telur sedari kemarin. Menghindari adik yang mulai mengantuk, ibu mengajak mandi. Selepas mandi ibu membiasakan ngambil air wudhu. Kemudian
“Kata ibu guru, wudhunya sampai sini gak papa ibuk” tangan kecilnya menunjuk mata kaki.
“Ibu ibu mata kaki ini apa bisa melihat?” Tanyanya dengan penuh penasaran. Pertanyaan sederhana yang membuat hati ibu tertawa. Kinara 🤦🏻♀️
Siang ini terik sekali. Tanggal 1 april 2026. Anak anak bermain di rumah oma opa. Sementara ibu membuka kedai mienya. Salah satu karyawannya masih bersekolah. Sudah pasti kedai tidak bisa buka di pagi hari. Ara bersama opa di teras belakang. Sambil mengamati opa yang tengah mencabut kumis
“ opa, temanku banyak lo opa di sekolah, ada yang cantik dan ada yang jelek”
“Ha, jelek?”
“Iya, yang cantik seperti aku itu namanya amel, aza, dan banyak lagi, kalau yang jelek seperti ayah itu arsy, gani, eh opa opa ada yang berkulit gelap juga”
Opa tertawa mendengar pernyataan ara. Sedari kecil ara beranggapan cantik itu perempuan, sementara jelek itu laki laki. 🤦🏻♀️
“opa, opa ngapain?”
“Ini nak mencabut kumis yang putih”
“Kenapa di cabut opa, kalau putih terlihat tidak bagus ya”
Sontak opa tertawa kembali mendengar pernyataan ara.
Sepulang dari kedai opa bercerita pada ibuk.
“Haduh ndok kinara itu ya, ko iso isone ngunu lo, omongane”
“Haha, bahasane baku pisan yo yah, iku perkarane kakean delok bing yah”
3 april, hari ini hari jum’at. Tatkala ayah ke masjid, adik menemukan hp ayah yang tergeletak. Tiba tiba suara aishwa nahla terdengar. Si adek sudah menemukan Spotify, dan kakapun berkata
“Adek nanti matanya hitam lo”
“Ha tam” (ha hitam)
“Itu, itu lihat kopi, kopi itu kan hitam, nanti mata adek jadi hitam, hehe becanda kok” si kaka kemudian berkata lagi
“Buk ibuk, pencuri itu dari mana ya ko bisa ada”
“Tanyak ayah nak”
Umur segini banyak pertanyaan dan tingkah lucu yang buat kita kehilangan akal untuk menjawab. Belum lagi celotehannya makin panjang bila tidak segera mendapat jawaban yang dimaksud.
4 april jam pulang sekolah. 10 menit sebelum pulang ada pesan masuk “mba sudah” tandanya proses penggilingan mie sudah selesai, bisa di ambil. Kali ini perjalanan di temani kaka, karna adik sudah terlelap di rumah oma. Di jalan kaka bercertia peristiwa di sekolah
“buk hari ini tidak belajar”
“buk aku tadi tanyak ke bu guru, kenapa ya yang sekolah ko sedikit”
“Kata ibu guru, karna kemarin libur dan besok libur lagi makanya tidak banyak yang sekolah”
Sayup sayup ibu mendengarkan dengan gemuruh kendaraan bermotor yang berlalu lalang. Selepas mengambil mie, dilanjut mengambil kopi yang sudah selesai di roasting. Sepulangnya di perjalanan
“Ibu ibuk kenapa ya ayah ko suka kopi”
Ibu bingung kenapa kaka tanyak pada ibu, ibupun memutar otak dan berdalih
“Kenapa ayah suka kopi, karena, tidak ada rasa yang di dapat dari selain minum kopi, karena juga ayah mengobati lambungnya, tapi kak, kopi yang diminum tidak sama dengan kopi yang diminum ibuk. Kopi ayah tanpa gula dan tanpa susu”
“Lambung itu apa ya buk”
“Lambung itu organ pencernaan dalam tubuh kita ka, kaka punya, ibu punya, adekpun punya”
“Oh, buk itu apa?” Sambil menunjuk kuburan
“Itu kuburan ka, rumah masa depan kita”
“Oh, seperti rumah masa depannya doraemon ya”
Ibu menghela nafas setengah tertahan 🤦🏻♀️
0 komentar:
Posting Komentar