Tanggal 31 maret 2026. Malam menjelang, ibu selesai berbuka puasa. Tiba tiba adik merengek minta membuka kulkas. Belum kelar mencuci piring una bilang
“Embug empah, embug empah” (ibu tumpah)
“Lo apa itu yang tumpah, minta tolong yah serbet biru, mungkin ini airnya daging”
“Apa itu, coba di bau dulu, jangan jangan pipis”
Ku rogoh celananya dan benar, pipis adik tumpah. Sudah sebulan ini adik menolak pakai pempers atau popok. Bila hendak buang air kecil maupun air besar selalu berkata
“Embug pis, embug pub” bila yang mendengar tidak cepat merespon, celana yang dikenakan akan terlambat tertolong. Malam ini sunyi, sawah di depan dan di belakang rumah sudah waktunya di panen. Bila musim panen tiba kepik kerap hinggap ke rumah kami mencari penerangan. Bila ke injak sedikit saja, aroma pertahanannya akan keluar, baunya seperti walang sangit. Bukan satu hewan tapi ribuan. Bila rumah sudah di serang kepik, kebanyakan dari kami penduduk sini memilih mematikan lampu baik dalam rumah maupun teras rumah. Saat menjelang waktu malam lewat, mereka akan menyurut dengan sendirinya. Rencananya malam ini ada teman ayah berkunjung. Mata ibu dan kaka sudah susah terbuka, ku ajaklah bobog keduanya. Karna si adik masih mau bermain, kami putuskan bermain dalam kamar, supaya tidak mengganggu tamu yang datang. Teman ayah membawa buah tangan, martabak manis dua kotak.
“Waaa, ayah punya apaaaa, makanen ibuk”
Ibu tidak merespon, karna mata yang mulai susah terbuka. Sementara kaka menyiapkan tempat tidurnya. Sedangkan adik, keluar kamar dan kembali membawa sekantong plastik berisi dua kotak makanan
“Embug ayo kan embug ayo kan” (ibu ayo makan)
Karna usahanya dengan susah payah membawa sekantong kresek ibu terbangun dan tertawa. Kalunaa 💆🏼♀️
Suatu pagi tanggal 1 april 2026. Adik sudah bangun lebih dulu, sudah mandi dan berpakaian wangi, sementara kaka masih terlelap dengan tidurnya. Ibu tengah masak di dapur tatkala kaka bangun.
“Ibuuu, daaar”
“Baca doa nak”
“Alhamdulillahilladi ahyana ba’dama amatana wailaihinnusur”
Seperti pagi sebelum sebelumnya, tiap bangun kaka kerap mengagetkan ibu di dapur. Terkadang kejutannya berhasil terkadang gagal. Ayah tengah sibuk bikin konten kopi di pagi hari. Sedangkan adik
“Embug pi, embug na” (ibu yahanana di tv) kalau sudah begitu adik meminta melihat Ya Hanana di TV. Shalawat penyanyi cilik aishwa nahla. Terkadang permintaan terlupa setelah melihat mainan aneh di depannya. Jam menunjuk pukul 06.30. Tandanya kaka harus segera mandi. Karna ibu belum selesai memasak, tugas memandikan kaka di ambil alih ayah
“Adeek, lihat ini dek lihat” kaka tengah memainkan sabun mandi, menggosok gosoknya supaya busa banyak keluar.
Adik yang tengah asyik bermain bergegas ke depan kamar mandi
“Waaaw, kaka jus” (wah kaka bagus) kata adik setengah berteriak. Tanpa aba aba, selesai mandi adik bergegas ke lemari kaka, mengambil celana kaka, dan berkata
“Ayo kak kek” (ayo kaka pakai celananya) sembari celana dibentangkan.
“Tau apa kamu bocil, ayah lihat adek“ Ayah yang berada di balik pintu tertawa melihat tingkah keduanya. Ternyata, peniru ulung itu sekarang anakku.
Sabtu pagi tanggal 4 april 2026. Sedari pagi hp ramai dengan ijin wali murid sekolah kaka, ijinnya seragam, berkepentingan. Ibu was was sepertinya yang sekolah bisa terhitung. Sedari kamis para wali murid sepakat untuk tidak sekolah, Karna kemarin adalah tanggal merah, sementara besok hari minggu. Lain dengan ibu, Karna akan ada isu daring dalam waktu dekat, ibu memutuskan tetap sekolah. Dan juga membiasakan tidak ada hari terjepit untuk si kaka, meskipun ada tambahan bumbu kerewelan tatkala nanti di tinggal.
“Buk gak berangkat? Sudah setengah delapan”
“Pas yah?” Sambil berjalan menuju sumber suara
“Iya buk, ooo samean makan, iya sudah lanjutkan”
Nasi goreng kaka tidak habis, sementara nasi goreng adik bersih. Ibu membatasi sarapan pagi, ibu mencoba IF (intermittent fasting) metode pola makan yang membatasi waktu makan tanpa memilah milih makanan. Waktu makan di batasi, dimulai dari pukul sepuluh pagi dan berakhir pukul enam sore hari. Bila ibu tidak berpuasa ibu menerapkannya meskipun ada makanan sisa kaka dan adik yang mubazir bila tidak di makan 💆🏼♀️ (sedikit saja).
“Ayah minta tolong pakaikan sepatu adik, ambilkan kaka kaos kaki dan temani pakai sepatu, ayah ayah sepeda ibu siapin” kata ibu sembari berjalan menuju kamar. Ayah belum berangkat kerja, biasanya setelah ibu adik dan kaka berangkat, ayah ikut serta di belakang. Untuk hari ini ibu lupa bertanya, akan kerja naik apa.
“Yah karpetnya di balik, yah karpetnya di angkat, yaaah…”kemarin sore ibu menyempatkan mencuci karpet, bekas dipakai mengaji ayah bersama teman temannya.
Pagi ini terik, setelah salim dan berpamitan pada ayah, ibu kaka adik berangkat. Di tengah jalan burung burung berhamburan, kucing tetangga tengah sibuk menyeberang jalan, ayam mulai di keluarkan dari kandang. Saat kami melaju, mereka semua seperti menyambut kami, adik yang tengah berdiri di depan ibu berkata
“Encing was dah” (kucing awas sepeda)
“Yam was dah” (ayam awas sepeda)
“Yung was dah” (burung awas sepeda)
“Daadaaa enciiing” (dada kucing)
Ibu tertawa dalam hati sementara kaka tidak menggubris dan tengah asyik melihat jalan dan rumah rumah tetangga.
sesampainya di sekolah senam pagi sudah usai
“Aku terlambat lagi ya ibuk” kata kaka. Anak anak belum masuk kelas, pembiasaan diri setelah senam pagi, membaca asmahul husna, menyanyikan lagu Indonesia raya dan di akhiri dengan doa. Tatkala kami sampai, sekolah sedang menyiapkan diri untuk membaca asmaul husna bersama sama. Setelahnya karna yang sekolah tidak lebih dari 20 siswa, ibu guru memilih mengumpulkan anak anak dalam aula perpustakaan. Setelah kaka masuk aula ibu buru buru mengantar tepung untuk diselep menjadi mie, dan kopi untuk di roasting. Sepeda baru melaju 500meter, adik sudah merengek
“Embug emmaaa” (ibu aku mau ke oma) ibu tersenyum dan tetap melajukan sepedanya.
Di jalan ibu teringat, adik sebentar lagi di sapih. Ada rasa sedih yang tiba tiba muncul tanpa di undang. “Anakku tidak akan membutuhkanku lagi, tidak merengek manja lagi, tidak mencari cari aku lagi, tidak mau ku gendong lagi” ketika kuadukan pada bulek
“Yo gak kiro lah, awakmu kan ibu e”
Nak, bila nanti kalian menemukan tulisan ini, terlepas dari kerasnya kami, ketahuilah ibu maupun ayah sangat menyayangi kalian.
0 komentar:
Posting Komentar