Suara Una

 Tanggal 31 maret 2026. Malam menjelang, ibu selesai berbuka puasa. Tiba tiba adik merengek minta membuka kulkas. Belum kelar mencuci piring una bilang
“Embug empah, embug empah” (ibu tumpah) 
“Lo apa itu yang tumpah, minta tolong yah serbet biru, mungkin ini airnya daging”
“Apa itu, coba di bau dulu, jangan jangan pipis”
Ku rogoh celananya dan benar, pipis adik tumpah. Sudah sebulan ini adik menolak pakai pempers atau popok. Bila hendak buang air kecil maupun air besar selalu berkata
“Embug pis, embug pub” bila yang mendengar tidak cepat merespon, celana yang dikenakan akan terlambat tertolong. Malam ini sunyi, sawah di depan dan di belakang rumah sudah waktunya di panen. Bila musim panen tiba kepik kerap hinggap ke rumah kami mencari penerangan. Bila ke injak sedikit saja, aroma pertahanannya akan keluar, baunya seperti walang sangit. Bukan satu hewan tapi ribuan. Bila rumah sudah di serang kepik, kebanyakan dari kami penduduk sini memilih mematikan lampu baik dalam rumah maupun teras rumah.  Saat menjelang waktu malam lewat, mereka akan menyurut dengan sendirinya. Rencananya malam ini ada teman ayah berkunjung. Mata ibu dan kaka sudah susah terbuka, ku ajaklah bobog keduanya. Karna si adik masih mau bermain, kami putuskan bermain dalam kamar, supaya tidak mengganggu tamu yang datang. Teman ayah membawa buah tangan, martabak manis dua kotak.
“Waaa, ayah punya apaaaa, makanen ibuk”
Ibu tidak merespon, karna mata yang mulai susah terbuka.  Sementara kaka menyiapkan tempat tidurnya. Sedangkan adik, keluar kamar dan kembali membawa sekantong plastik berisi dua kotak makanan
“Embug ayo kan embug ayo kan” (ibu ayo makan)
Karna usahanya dengan susah payah membawa sekantong kresek ibu terbangun dan tertawa. Kalunaa 💆🏼‍♀️

Suatu pagi tanggal 1 april 2026. Adik sudah bangun lebih dulu, sudah mandi dan berpakaian wangi, sementara kaka masih terlelap dengan tidurnya. Ibu tengah masak di dapur tatkala kaka bangun. 
“Ibuuu, daaar”
“Baca doa nak”
“Alhamdulillahilladi ahyana ba’dama amatana wailaihinnusur”
Seperti pagi sebelum sebelumnya, tiap bangun kaka kerap mengagetkan ibu di dapur. Terkadang kejutannya berhasil terkadang gagal. Ayah tengah sibuk bikin konten kopi di pagi hari. Sedangkan adik
“Embug pi, embug na” (ibu yahanana di tv) kalau sudah begitu adik meminta melihat Ya Hanana di TV. Shalawat penyanyi cilik aishwa nahla. Terkadang permintaan terlupa setelah melihat mainan aneh di depannya. Jam menunjuk pukul 06.30. Tandanya kaka harus segera mandi. Karna ibu belum selesai memasak, tugas memandikan kaka di ambil alih ayah
“Adeek, lihat ini dek lihat” kaka tengah memainkan sabun mandi, menggosok gosoknya supaya busa banyak keluar.
Adik yang tengah asyik bermain bergegas ke depan kamar mandi
“Waaaw, kaka jus” (wah kaka bagus)  kata adik setengah berteriak. Tanpa aba aba, selesai mandi adik bergegas ke lemari kaka, mengambil celana kaka, dan berkata
“Ayo kak kek” (ayo kaka pakai celananya) sembari celana dibentangkan. 
“Tau apa kamu bocil, ayah lihat adek“ Ayah yang berada di balik pintu tertawa melihat  tingkah keduanya. Ternyata, peniru ulung itu sekarang anakku.

Sabtu pagi tanggal 4 april 2026. Sedari pagi hp ramai dengan ijin wali murid sekolah kaka, ijinnya seragam, berkepentingan. Ibu was was sepertinya yang sekolah bisa terhitung. Sedari kamis para wali murid sepakat untuk tidak sekolah, Karna kemarin adalah tanggal merah, sementara besok hari minggu. Lain dengan ibu, Karna akan ada isu daring dalam waktu dekat, ibu memutuskan tetap sekolah. Dan juga membiasakan tidak ada hari terjepit untuk si kaka, meskipun ada tambahan bumbu kerewelan tatkala nanti di tinggal.
“Buk gak berangkat? Sudah setengah delapan”
“Pas yah?” Sambil berjalan menuju sumber suara
“Iya buk, ooo samean makan, iya sudah lanjutkan”
Nasi goreng kaka tidak habis, sementara nasi goreng adik bersih. Ibu membatasi sarapan pagi, ibu mencoba IF (intermittent fasting) metode pola makan yang membatasi waktu makan tanpa memilah milih makanan. Waktu makan di batasi, dimulai dari pukul sepuluh pagi dan berakhir pukul enam sore hari. Bila ibu tidak berpuasa ibu menerapkannya meskipun ada makanan sisa kaka dan adik yang mubazir bila tidak di makan 💆🏼‍♀️ (sedikit saja).
“Ayah minta tolong pakaikan sepatu adik, ambilkan kaka kaos kaki dan temani pakai sepatu, ayah ayah sepeda ibu siapin” kata ibu sembari berjalan menuju kamar. Ayah belum berangkat kerja, biasanya setelah ibu adik dan kaka berangkat, ayah ikut serta di belakang. Untuk hari ini ibu lupa bertanya, akan kerja naik apa.
“Yah karpetnya di balik, yah karpetnya di angkat, yaaah…”kemarin sore ibu menyempatkan mencuci karpet, bekas dipakai mengaji ayah bersama teman temannya. 
Pagi ini terik, setelah salim dan berpamitan pada ayah, ibu kaka adik berangkat. Di tengah jalan burung burung berhamburan, kucing tetangga tengah sibuk menyeberang jalan, ayam mulai di keluarkan dari kandang. Saat kami melaju, mereka semua seperti menyambut kami, adik yang tengah berdiri di depan ibu berkata
“Encing was dah” (kucing awas sepeda)
“Yam was dah” (ayam awas sepeda)
“Yung was dah” (burung awas sepeda)
“Daadaaa enciiing” (dada kucing)
Ibu tertawa dalam hati sementara kaka tidak menggubris dan tengah asyik melihat jalan dan rumah rumah tetangga.
sesampainya di sekolah senam pagi sudah usai
“Aku terlambat lagi ya ibuk” kata kaka. Anak anak belum masuk kelas, pembiasaan diri setelah senam pagi, membaca asmahul husna, menyanyikan lagu Indonesia raya dan di akhiri dengan doa. Tatkala kami sampai, sekolah sedang menyiapkan diri untuk membaca asmaul husna bersama sama. Setelahnya karna yang sekolah tidak lebih dari 20 siswa, ibu guru memilih mengumpulkan anak anak dalam aula perpustakaan. Setelah kaka masuk aula ibu buru buru mengantar tepung untuk diselep menjadi mie, dan kopi untuk di roasting. Sepeda baru melaju 500meter, adik sudah merengek 
“Embug emmaaa” (ibu aku mau ke oma) ibu tersenyum dan tetap melajukan sepedanya. 
Di jalan ibu teringat, adik sebentar lagi di sapih. Ada rasa sedih yang tiba tiba muncul tanpa di undang. “Anakku tidak akan membutuhkanku lagi, tidak merengek manja lagi, tidak mencari cari aku lagi, tidak mau ku gendong lagi” ketika kuadukan pada bulek
“Yo gak kiro lah, awakmu kan ibu e” 
Nak, bila nanti kalian menemukan tulisan ini, terlepas dari kerasnya kami, ketahuilah ibu maupun ayah sangat menyayangi kalian. 


Suara Ara


Suatu sore di kamar mandi kami. Tanggal 31 maret 2026, sedari kemarin adik rewel, tiba tiba teriak bila yang dikehendaki tidak tersampai. Belum lagi tiap menjelang magrib selalu minta tidur. Ayah mendadak ada panggilan kerja sore hari, Maka karenanya sebelum berangkat ayah berpesan 
“Tidak usa masak yang aneh aneh buk”
Ibu terdiam sambil mengangguk. Sembari masak menu sore anak anak bermain di depan tv. Hari ini ara berhasil lolos membunuh kebosanan tanpa tv. Matanya membengkak sedari pagi, entah akibat melihat tv yang teramat dekat atau terlalu banyak makan telur sedari kemarin. Menghindari adik yang mulai mengantuk, ibu mengajak mandi. Selepas mandi ibu membiasakan ngambil air wudhu. Kemudian
“Kata ibu guru, wudhunya sampai sini gak papa ibuk” tangan kecilnya menunjuk mata kaki. 
“Ibu ibu mata kaki ini apa bisa melihat?” Tanyanya dengan penuh penasaran. Pertanyaan sederhana yang membuat hati ibu tertawa. Kinara 🤦🏻‍♀️

Siang ini terik sekali. Tanggal 1 april 2026. Anak anak bermain di rumah oma opa. Sementara ibu membuka kedai mienya. Salah satu karyawannya masih bersekolah. Sudah pasti kedai tidak bisa buka di pagi hari. Ara bersama opa di teras belakang. Sambil mengamati opa yang tengah mencabut kumis
“ opa, temanku banyak lo opa di sekolah, ada yang cantik dan ada yang jelek”
“Ha, jelek?”
“Iya, yang cantik seperti aku itu namanya amel, aza, dan banyak lagi, kalau yang jelek seperti ayah itu arsy, gani, eh opa opa ada yang berkulit gelap juga”
Opa tertawa mendengar pernyataan ara. Sedari kecil ara beranggapan cantik itu perempuan, sementara jelek itu laki laki. 🤦🏻‍♀️
“opa, opa ngapain?”
“Ini nak mencabut kumis yang putih”
“Kenapa di cabut opa, kalau putih terlihat tidak bagus ya”
Sontak opa tertawa kembali mendengar pernyataan ara. 
Sepulang dari kedai opa bercerita pada ibuk. 
“Haduh ndok kinara itu ya, ko iso isone ngunu lo, omongane” 
“Haha, bahasane baku pisan yo yah, iku perkarane kakean delok bing yah” 

3 april, hari ini hari jum’at. Tatkala ayah ke masjid, adik menemukan hp ayah yang tergeletak. Tiba tiba suara aishwa nahla terdengar. Si adek sudah menemukan Spotify, dan kakapun berkata
“Adek nanti matanya hitam lo”
“Ha tam” (ha hitam)
“Itu, itu lihat kopi, kopi itu kan hitam, nanti mata adek jadi hitam, hehe becanda kok” si kaka kemudian berkata lagi
“Buk ibuk, pencuri itu dari mana ya ko bisa ada”
“Tanyak ayah nak”
Umur segini banyak pertanyaan dan tingkah lucu yang buat kita kehilangan akal untuk menjawab. Belum lagi celotehannya makin panjang bila tidak segera mendapat jawaban yang dimaksud.

4 april jam pulang sekolah. 10 menit sebelum pulang ada pesan masuk “mba sudah” tandanya proses penggilingan mie sudah selesai, bisa di ambil. Kali ini perjalanan di temani kaka, karna adik sudah terlelap di rumah oma. Di jalan kaka bercertia peristiwa di sekolah
“buk hari ini tidak belajar”
“buk aku tadi tanyak ke bu guru, kenapa ya yang sekolah ko sedikit”
“Kata ibu guru, karna kemarin libur dan besok libur lagi makanya tidak banyak yang sekolah”
Sayup sayup ibu mendengarkan dengan gemuruh kendaraan bermotor yang berlalu lalang. Selepas mengambil mie, dilanjut mengambil kopi yang sudah selesai di roasting. Sepulangnya di perjalanan
“Ibu ibuk kenapa ya ayah ko suka kopi”
Ibu bingung kenapa kaka tanyak pada ibu, ibupun memutar otak dan berdalih
“Kenapa ayah suka kopi, karena, tidak ada rasa yang di dapat dari selain minum kopi, karena juga ayah mengobati lambungnya, tapi kak, kopi yang diminum tidak sama dengan kopi yang diminum ibuk. Kopi ayah tanpa gula dan tanpa susu”
“Lambung itu apa ya buk”
“Lambung itu organ pencernaan dalam tubuh kita ka, kaka punya, ibu punya, adekpun punya” 
“Oh, buk itu apa?” Sambil menunjuk kuburan 
“Itu kuburan ka, rumah masa depan kita”
“Oh, seperti rumah masa depannya doraemon ya”
Ibu menghela nafas setengah tertahan 🤦🏻‍♀️

Kalau sudah ujiannya, boleh pulang

Di ujung jalan ini
Aku menunggumu aku menantimu
Di tengah terik matahari
Aku menyanyikan kisah tentang kita

Ketika malam telah tiba
Aku menyadari kau takkan kembali

Kita paham betul, masing masing manusia memiliki cobaannya sendiri, entah itu dalam hal finansial, karakter, komitmen, komunikasi dan masih banyak lagi. Sebelum sampai pada titik ini, kita pasti pernah mengalami apa itu karma, tapi sebut saja itu ujian. Begitupun aku. Sejak saat itu aku nyatanya tidak benar benar pergi. Bila caraku kemarin membuatmu benci. Aku turut berbahagia. 


Di ujung jalan ini
Aku menunggumu aku menantimu

Menanti dalam hal kematian. Tidak ada yang tidak pasti didunia yang fana ini. Apa yang kita genggam di detik pertama ini belum tentu di detik berikutnya kita genggam kembali, belum tentu juga kita mampu menggenggamnya. Keadaan di timur tengah makin memanas. Ketika kripik nangka makin menipis, kami mencoba peruntungan di kripik singkong. Ku iseng posting, alhamdulillahnya pesanan di luar ekspektasi. Banyak yang antusias sama jajanan jadul ini. Sembari merajang singkong hasil panenan kemarin, aku mendengarkan salah satu podcast ustad felix. Dan aku menyeletuk begini pada bulek

“Umur bumi diperkirakan tidak mencapai 1500 tahun, tapi itu menurut ulama si ik, sementara bumi sudah berumur 1447. Doaku hanya satu ik, semoga umurku sudah habis ketika dajjal muncul”

“He best iki, ko garai merinding”

Bila daun itu sudah tertiup angin, tandanya waktu kita sudah habis, dahulu, waktu masih mengenyam bangku sekolah, guru, ustad, dosen sering bilang begini

“Kalau sudah ujiannya, boleh pulang”

Pernah tidak merasa kesal dengan munculnya ujian ujian hidup di muka bumi ini. Percaya atau tidak, seberat apapun ujian itu, kalau kita masih bernafas hari ini, berarti Allah mampukan kita melewatinya. Alhamdulillah, maka mari bersemangat menantikan ujian selanjutnya, lain halnya bila Allah sudah bilang begini pada kita 

“Kalau sudah ujian, boleh pulang”



❤️‍🩹 Ramadhan

Ada yang hilang malam ini, 
Perlahan dan tenang, 
Bukan tanpa aba aba dan peringatan 
Tanda tandanya sudah terlihat dari kemarin kemarin
Tapi, meski kita sudah tidak bersua, 
Aku yakin, 
Dalam diam kamu juga menyimpan rindu, 
sepertiku.
Merindu sepanjang hari 
Tidak sabar Menunggu malam tiba
Karna hanya itu waktu kita bebas bermesra
Tapi, 
Sebentar 
Sebenarnya kamu atau aku yang menunggu ? 
Kamu apa aku yang butuh?
Semoga bila saatnya tiba, 
Kita bisa bersua kembali, 
Bukan dengan amarah dan malu malu
Melainkan
Dengan hati tenang dan lapang  
Bila masih mampu
Semoga daunku masih kokoh saat itu 
Assalamualaikum Ramadhan Karim

Sirah kencong

Tidak pernah dibayangkan, rantauan kali ini cukup jauh bagi kami. Ujung barat Jawa Timur. Bahasa yang di gunakan jawa halus, menjadi ciri khas di daerah ini. Kami yang berasal dari ujung timur Jawa notabenenya berbahasa madura, meski jawa halus masih kami kuasai. Perjalanannya panjang. Saat kecil kukira kami sedang beruntung, tinggal di tempat yang indah, berkumpul dengan orang orang yang ramah, tidak pernah terdengar suara keras, ada ikonik peninggalan hindu budha, jauh dari keluarga besar. Hingga aku besar, kenyataannya ini adalah hukuman.

Perjalanan dari Banyuwangi 14jam. Rombongan yang ikut serta banyak yang teler, jangan tanyak aku, akupun begitu. Naik kendaraan langsung yang disediakan kantong plastik di tangan ayah ibu. Kala itu aku duduk di pangku ibu. Tidak terhitung lagi berapa kali makanan keluar dari mulutku. Bagi anak seusiaku, naik kendaraan menjadi momok tersendiri, seperti menjadi rutinitas mual selalu terjadi. Kala kecil aku memilih berkendara menggunakan roda dua, ketimbang roda empat. Nyatanya keinginan itu tertular ke anak sulungku, lebih memilih kemana mana menggunakan sepeda.

Rombongan tiba pukul tujuh pagi. Melihat kompleks perumahan yang beda dari rumah sebelumnya, aku terheran. Aku senang melihat keadaan sekitar. Aku ingat kala itu aku berjalan ke kanan ke kiri membawa sapu, sementara orang dewasa tengah sibuk berlalu lalang mengangkut barang kami. Aku belum tahu betul kenapa kami disini, yang ku tahu aku bersama ayah ibuku, itu saja sudah membuatku tenang.

Setelah semua barang bawaan kami masuk ke dalam rumah, semua rombongan ngaso. “Yu aengngah celep” “iya mba, airnya dingin ya, seger, tapi adem” celetuk mereka bersahutan sambil makan bekal yang di bawa. “Tino endi mba” “nineng mana” tanya salah satu yang lain “o roah main, duh niserah ye, jeuh mon moleh setiyah” “apa tanemannya ye” “iku teh yu” “mon tak norok tak kera tao ye, engak apah bungkanah teh ruah” “iyeh, begus”obrolan mereka kala itu tidak kupahami sama sekali. Hingga sampailah waktu mereka pulang. Kesemuanya menangis, berpelukan, seperti ada duka di antara kami. Sementara aku, masih sibuk membawa sapu ke kanan dan ke kiri (bermain sendiri)

“Se sabber ya mba” “mba aku pamit” “cak aku pamit, se sabber jeu deri pak mak” 

Pesan mereka berbarengan 

“Iyeh” sahut ayah ibu.

Merekapun pulang, ada yang memelukku ada yang menggendongku sebentar dan ada pula yang mengusap rambutku. 

Hari haripun berjalan sebagaimana biasa. Kala itu aku berumur 6 tahun. Sudah waktunya bagiku mengenal apa itu pendidikan, lebih tepatnya terlambat. Di rumah lama kemarin aku pernah pergi sekolah, itupun hanya sekali. Karna jarak yang lumayan jauh, dan medan yang di tempuh amat ekstrim ibu memutuskan untuk tidak sekolah lagi. Berbeda dengan rumah baru kami, sekolah taman kanak kanak disini dekat. 

Ketika ayah mendaftarkan aku untuk sekolah “pak persyaratannya harus mencantukan akte kelahiran” “waduh bu, maaf sebelumnya aktenya hilang bu, berbarengan kena banjir waktu di rumah lama” kata ayahku berbohong, kala itu aku maupun mas tino belum memiliki akte lahir. “owala, iya sudah tidak apa apa, besok anaknya bisa langsung sekolah ya, aktenya menyusul segera di urus nggeh pak, sebelumnya apa pernah sekolah pak?” “Nggeh, Pernah bu, itupun hanya ikut ikutan masnya” “o nggehpun, mboten nopo, besok bisa langsung sekolah”

Sesampainya di rumah, angin bertiup begitu dingin, memaksa tubuh untuk meringkuk di bawah selimut. Matahari di luar memang terik, tapi dinginnya hawa kala itu membuat bulu kuduk berdiri. Kami yang berasal dari dataran rendah menuju dataran tinggi harus beradaptasi. Kala itu sore menjelang ashar, aku sudah mandi, mas tino sudah sibuk dengan bukunya. 

“Nak besok sekolah yo samean, gae tas iki, baju iki” “buk gak gae seragam koyok mase?” “Samean gak due seragam nak, engko tak tumbasne karo ibuk ya” “buk tas e cilik, bukune gak iso melbu, pensil e ae gak melbu” “iyo gak popo engko lek ibu mudun tak tumbasne” mudun, kata kata kami tatkala mau ke kota. Jarak tempuh rumah kami ke kota lumayan jauh.  Melewati hutan belantara, jalannya sudah pasti makadam dengan bebatuan yang besar besar. Untuk menuju ke kota kami menghabiskan wajtu dua jam, itupun kalau tidak diterjang hujan. Masih ingat betul di ingatan, pertama kali sekolah aku berangkat sendiri, bermodalkan nekat. Sesampainya di sekolah, anak anak mengerubungiku, satu persatu dari mereka mengajakku bermain. Ketika masuk kelas tiba aku disuruh memperkenalkan diri. “Ayo nineng maju ke depan, perkenalan dulu” akupun maju “hayo namanya siapa dari mana asalnya” “eee namaku nineng” “asalnya dari mana?” Aku hanya menggeleng “iya sudah silahkan duduk kembali”

Pelajaran pertama, mewarnai, aku tidak tau betul apa itu mewarnai, “nineng punya krayon?”aku menggeleng. Hingga ibu guru yang baik hati memberiku krayon patah patah di tempatkan di wadah kecil bening. “Ini ya, di warnai kertasnya” akupun mengangguk. Jam istirahatpun tiba, kami bermain di pelataran sekolah. Ada ayunan, jungkat jungkit, rumah kurcaci, perosotan, semuanya mainan anak anak. Aku senang sekali, ini pengalaman pertamaku bermain disekolah. Bila mendekat ke pagar sekolah, terlihat dari tempatku berdiri ada sekolah dasar, blok rumah tempatku tinggal, perbukitan, dan kelompok rumah etan.

Hari berjalan sebagaimana biasa, sebulan sudah aku bersekolah disini. Waktu jam istirahat tiba kami bermain di pelataran, kami anak anak gemar melihat sekolah dasar di bawah. “Sesok awakdewe sekolah nang kunu, iku onok mba nita” “mba nitaaaa, mba meldaaaa” teriak teman teman berbarengan, meski yang di panggil tidak akan pernah mendengar. Jarak antara sekolah taman kanak kanak dengan sekolah dasar lumayan jauh sekitar satu kilometer. “Masku sekolah nang kunu pisan lo” “sopo jengene neng?” “Mas tino” 

Dua bulan berlalu. “Ayo anak anak maju kedepan, belajar membaca kata dulu” hingga tiba giliranku membaca, aku hanya menggeleng. Terlihat Ada kekhawatiran di benak ibu guru. Hari berselang aku belum mengenal apa itu angka dan abjad. Ke esokan harinya ketika jam waktu pulang tiba, di sekolah main tebak tebak an, aku yang masih asing apa itu yang di sampaikan, akhirnya pulang paling belakang. Hingga hari haripun berlalu, tiap waktu pelajaran tiba hatiku berdegub kencang, ada perasaan kuatir dan tidak kerasaan. Mungkin karna ketidaktahuan atau keterlambatan belajar.

Tiga bulan berselang, suatu sore di rumah kami, ada ibu guruku datang berkunjung. Tidak masuk ke dalam rumah, hanya di pelataran, mereka bercakap cakap, sementara aku bermain. “Pak, bu, ngapunten sakderenge , ini mau ada kenaikan kelas, saya amati selama tiga bulan sekolah disini, nineng belum ada perkembangan, belum mampu untuk dinaikkan ke sekolah dasar, pripun? Apa tetap tinggal di taman kanak kanak saja dulu?kasian” “Waduh bu, umurnya sudah cukup untuk masuk ke sekolah dasar nggeh, kasian kalau lebih tua dari teman temannya yang lain” “la nggeh niku pak, anaknya belum mengenal angka, abjad” “mboten nopo pun bu, biar saya yang ngajari di rumah” “o nggeh minta kerjasamanya nggeh pak” “nggeh, matur nuwun sakderenge”ada kekhawatiran di benak ibu guru, sepertinya aku tidak mampu untuk melanjutkan ke jenjang sekolah dasar, tapi ada yang lebih khuatir lagi. Ayah. Ayah tidak ingin aku tertinggal dengan melihat umurku yang mulai beranjak besar.

Cuaca di pagi hari amat dingin, sebelum berangkat sekolah, kudahului dengan mandi air hangat dan sarapan pagi. Ibu lebih dulu membangunkan mas ketimbang aku, karna jam masukku sekolah lebih siang dari mas. Setelah mas selesai dan berangkat sekolah, kemudian giliran aku di urus ibu. Setelah selesai, aku berangkat sekolah. Di sekolah hari ini ada pemotretan. Foto untuk di pajang di ijazah nanti. Kala itu aku belum memiliki seragam. Hingga akhirnya aku meminjam seragam teman. “Ayo Nineng sini, pinjam seragamnya ita dulu ya, ita tukeran seragam dulu ya,” “iya bu guru, jawab mereka berbarengan” setelah selesai foto kami bertukar baju kembali. Detik detik mendekati kelulusan, kami lebih sering berada di luar kelas, Kami habiskan waktu dengan bermain.

Waktu Pembagian ijazahpun tiba. Anak anak diliburkan, sementara rapor dan ijazah di ambil oleh orang tua masing masing. Karna di rumah tidak ada orang, akhirnya aku ikut serta mengambil rapor dan ijazahku. Saat itu aku terheran, o begini ya ijazah itu, o ini ya yang dinamakan rapot itu, tulisan di dalamnya tidak begitu penting bagiku kala itu. Aku hanya mengagumi foto diriku di antara buku keduanya. Dan itu menjadi foto pertamaku terbingkai yang tercetak.

Hari pertama menjadi murid sekolah dasar. Kala itu aku sudah berseragam merah putih dengan tas dan sepatu baruku. Kukira sekolah dasar tempatnya masih bermain seperti sekolah sebelumnya. Hari pertama adalah perkenalan, masing masing dari kami memperkenalkan diri. Satu kelas terdiri dari 19 siswa, berasal dari afdeling tempatku tinggal, desa sebelah dan afdeling atas. Kesemuanya jalan kaki menuju sekolah, tidak ada satupun di antara kami yang diantar orang tua. Jarak yang teman temanku tempuh lumayan jauh, berkilo kilo meter, tapi hebatnya tidak menyurutkan semangat belajar mereka. Dalam satu kelas umur kami beragam, ada kaka tingkat yang masih tertinggal di kelas, karna memang belum mampu untuk di naikkan ke kelas dua. 

Berbeda dengan sekarang, mampu tidaknya anak untuk tertinggal di kelas bukan penghalang lagi, tidak jarang saat ini ada siswa yang di temui belum mahir membaca meski sudah duduk di kelas enam sekolah dasar. Miris bukan pendidikan sekarang ini. Bila jamanku dulu, jika si anak tidak mampu, sekolah tidak memberikan toleransi apapun, harus tetap tinggal sampai anak mampu untuk melanjutkan ke tingkat yang lebih tinggi. 

Sekolah dasar disini terdiri dari 5 ruang kelas dan satu rumah penjaga sekolah. Satu ruang untuk kelas satu, ruang kedua berisi anak anak kelas dua dan tiga. Ruang ke tiga berisi anak anak kelas empat dan lima dan ruang enam berisi anak kelas enam. Satu lagi ruang khusus untuk bapak ibu guru dan perpustakaan. Murid sekolah di sini sedikit, karna sedikitnya, siswa kelas dua tiga empat lima di gabung menjadi dua kelas. Satu ruangan di sekat menggunakan triplek. Bila saat mengajar sudah pasti bersahut sahutan antar masing masing kelas.  Tapi dari sini kami siswa belajar empati, berbagi dan tertib serta patuh. 

Satu minggu terlewati, belajar mengajar mulai rutin di gelar. Pelajaran pertama bahasa indonesia. Anak anak di dikte oleh guru, menyalin ke buku masing masing. Aku yang belum mengenal huruf kala itu mendapati nilai nol. Ke esokan harinya, pelajaran matematika, penjumlahan dan pengurangan, lagi lagi aku yang belum mengenal angka mendapati nilai nol kembali. Karna sudah beberapa kali mendapat nilai nol akhirnya aku dan salah satu teman kelasku (kaka angkatan yang tertinggal) di panggil untuk maju ke depan. Kami dinasehati beragam, pada intinya belajar. Sepulangnya sekolah, ibu melihat buku sekolahku, ada kekhawatiran ketika melihatnya, hingga akhirnya sampailah nilai nol ini pada ayahku. Hingga ayahpun teringat pesan ibu guru taman kanak kanak dulu. Selepas kejadian nilai nol itu, sepulang ayah kerja, aku diajarinya angka, abjad, membaca menulis. Setiap hari, bila sepulang kerja aku tidak berada di rumah, dicarinya aku keliling blok. Pernah suatu hari ketika aku bersama teman teman tengah asik bermain, ayah mencariku, sontak aku bersembunyi, sambil memberi aba aba “sssttt, ojo ngomong aku nang kene yo rek yo”. “Kliatan nineng?”tanya ayahku kala itu. “Tidak pak, gak tau gak main sama kita”. Setelah ayah pergi, aku kembali bermain. Hingga sorepun tiba, aku kembali ke rumah dengan baju kotor berdebu. “Nineeeeng, nangdi ae yo, digolek i ayah e ko dolen ae sampe sore, ooo ikii” tegur ayah dengann nada marah dan keras. “Cepet adus ayo sinau” dengan nada yang tidak kalah tingginya. Aku tidak memberikan jawaban apapun, aku langsung bergagas mandi dan belajar bersama ayah. 

Sebagai seorang ibu, kini aku kagum pada ayah, karna kegigihan dan kesabarannya membimbingku hingga aku bisa mengenal abjad angka, aku bisa menulis membaca, bisa mengejar ketertinggalanku. Saat aku membersamai anak sulungku belajar, aku kerap geleng geleng kepala, “susah betul ternyata mengajari anak membaca menulis”tidak jarang aku sering naik darah tatkala mengajari anak sulungku membaca menulis. Nyatanya aku tidak sesabar beliau. Kekagumanku mengantarkan doa yang diam diam tertuju padanya. Sembari mengusap air mata bangga dan terharu. “Mengajari baca tulis itu nyatanya tidak mudah ya buk, ayah e sabar banget yo mbiyen iku, aku kagum, ya Allah ayah, lek ayah e gak sabar aku gak kiro iso moco nulis” kenangku kini diam diam bersama ibu.

Pendidikan saat ini ambigu menurutku. Lulus taman kanak kanak harus sudah bisa membaca menulis. Berbeda jauh dengan pendidikan di luar Indonesia yang lebih fokus pada bermain. Ada salah satu temanku yang sering berkunjung ke rumah, dia bercerita anaknya tidak pernah dikenalkan buku, di sekolah hanya bermain. O sepertinya tidak semua sekolah mewajibkan baca tulis. Satu lagi pendidikan yang hanya mengenalkan alam, tanpa menyentuh buku. Sepertinya beberapa yayasan saat ini sudah mulai sadar pentingnya bermain. Tapi melihat pendidikan saat ini, anak sekolah dasar kelas satu kebanyakan bisa membaca dan menulis, menggunakan akal dan pikirannya. Di tengah gempuran slogan “anak di bawah tujuh tahun waktunya bermain” “jangan sita waktu anak bermain” tapi melihat keadaan di lapang, banyak anak kelas satu sekolah dasar yang mahir membaca menulis membuatku bimbang. Mana yang harus di olah lebih dulu. Hingga akhirnya tidak ada akhir yang hanya meminta pertolongan dari yang Maha Kuasa. 

Wallahu a’lam bishawab - dan Allah lebih mengetahui kebenaran yang sesungguhnya