Ramadhan Kami

Suatu pagi di tanggal 14 maret 2020

Pagi kuawali dengan bismillah, berharap nanti berakhir alhamdulillah. Hari ini ramadhan hari ketiga. Sebelum mengenalmu, aku sangat mengagumi bulan ramadhan, ketika aku tau tiap malam menyimpan doanya sendiri, doa yang berbeda-beda dengan amin yang sama.

Kriiiiing…

Kriiiiing…

alarm berbunyi, Nia molet di kasurnya, jam menunjuk pukul dua dini hari, kamar penghuni kost yang lain masih sunyi pertanda belum ada yang bangun. Rinda teman sekamarnya juga masih terlelap. Nia bangun dan bergegas buka pintu ambil air wudhu. Belum selesai membasuh kaki, Nia di kagetkan dengan suara, 

“Ya Allah Niaaa, ibu kira siapa ya, dari kemarin kemarin ibu terbangun, ko ada suara pet ngalir belum waktu sahur, pintu kamar anak anak juga tertutup semua, ternyata kamu to”

“Hehe, enggeh bu umik” kata Nia cengengesan 

“ alhamdulillah mau shalat malam” kata bu umik menyelidik

“Nggeh bu umik” 

“ ya wes sana” kata bu umik sambil berjalan kembali ke rumahnya. Nyatanya bu umik beberapa hari kerap terbangun ketika Nia keluar kamar, tiap beliau mau menegur Nia sudah kembali masuk dalam kamar. Dan ketika keluar bu umik hanya melihat pintu kamar anak kost yang tertutup semua. Ada perasaan takut, ada malingkah atau kran jebolkah. Antara kamar dengan rumah pemilik kost berjarak, tidak jauh, hanya saja kamar kost anak anak ada di bagian depan, rumah pemilik kost ada di bagian belakang. 

Nia kembali ke kamar, Rinda belum juga bangun. Nia bergegas shalat malam, setelah shalat malam, Nia melihat ponselnya, tidak ada pesan, dibukanya kembali mencari nomor yang di maksud, dibukanya pesan dan di bacanya berulang kali. Pesannya tak kunjung di balas, dalam hati gelisah, kemana mas, apakah ada salah kata yang Nia ucap, hingga tidak ada kabar berhari-hari. Dibukanya kembali pesan lama, karna teramat rindu yang sangat, dibukanya penyimpanan pesan mulai dari awal mas mengirim

“ semoga sukses uasnya”

 Nia terbiasa menyimpan pesan pesannya, karna memang tidak banyak pesan yang dia kirim. Kekasihnya itu tak sering membalas pesannya. Tapi ia tidak marah sedikitpun, ia maklum. ketika rindu mulai menyerang diulanginya kembali membaca pesan demi pesan, saking teramat rindunya terkadang ia membaca pesan hingga tertidur. Tak jarang itu jadi kebiasaannya di tiap malam. Sambil menahan senyum ia mengenang moment bertukar kabar antara dirinya dan mas. Lucu sekali kenangnya, kita yang belum lama kenal, baru sekali bertemu, tak pernah benar benar tau wajah masing-masing tapi sudah menyimpan rasa yang entah datangnya dari mana.

“Mba malam malam ko senyum senyum dewe si samean iki. marai merinding” kata Rinda sambil mengucek mata dengan gerakan molet mengangkat tangan

“ hehe” Nia tersipu malu

“ pasti lagi baca pesan” Rinda menebak nebak

“ iya adeeek, lagi rindu beberapa hari tak bertegur sapa, mungkin lagi sibuk atau entahlah dek”

“Heeem, yang tiap hari selalu merindu” sambil beranjak keluar kamar, bergegas menyiapkan makan sahur.

Jarum jam menunjuk pukul tiga dini hari. Penghuni kost yang lain sudah terbangun, kost mendadak ramai, ada yang keluar membeli makan, ada yang membuka bungkusan makanan yang di beli sedari malam, ada juga yang memasak mie instan dan energen. Tiap bulan ramadhan tiba kami menyempatkan makan bersama penghuni kost yang lain, terkadang tukar lauk pauk, terkadang tukar minuman, terkadang juga tukar pikiran (ngobrol, eh ngerumpi) kebiasaan anak anak perempuan kalau sudah berkumpul. Yang paling lantang di antara kami sebutlah dia Erna, teman sebangkuku di sekolah, tak lain dan tak bukan kalau sudah berkumpul pastinya bercerita tentang kekasihnya. 

Hari berjalan sebagaimana biasanya, selepas makan sahur, teman teman ada yg tertidur, ada yang shalat kemudian tertidur, ada yang shalat dan di lanjut mengaji, ada yang mencuci pakaian, menyeterika, berbincang bincang yang berujung tertidur dan lain sebagainya. Jadwal mengantre kamar mandi sudah di umumkan sedari malam, Nia kebagian urutan pertama mandi. Sehabis mengaji, Nia bergegas mandi karna jam sudah menunjuk pukul 05.00. Dia lebih awal hari ini, ingin segera berangkat ke sekolah. Sekolah mereka tidak jauh, dengan jarak kurang lebih 50 m keluar dari gang dan menyeberang jalan raya sampailah di sekolah mereka. 

Hari berjalan seperti biasa, bila bulan ramadhan jam pulang sekolah maju lebih awal, masuk pukul 08.00 dan pulang pukul 11.00. Tiap pagi disekolah kami sebelum jam pelajaran dimulai selalu menyempatkan membaca Alquran, dengan di pandu suara mikrofon dari ruang guru. Kami bersekolah di salah satu sekolah swasta di kota genteng, muhamadiyah dua genteng lebih dikenal dengan sebutan Muha. Aku tidak terlahir dari keluarga muhamadiyah, akupun baru tau itu ketika aku sekolah disini. Apa itu muhamadiyah apa itu NU. Menarik kataku, dari sini banyak hal baru yang ku peroleh. Pada intinya semuanya sama baik itu NU maupun muhamadiyah.

Hari ini teramat terik, haus menyerang, anak anak kembali ke kost dengan wajah menahan haus. Begitupun nia, dia kembali bergegas, belum juga berganti pakaian nia sibuk memencet tool ponselnya. Dibukanya nama al muhibbah di ponselnya, tidak juga ada pesan, nia harap harap cemas, hingga akhirnya teman kostnya datang

“Niaaaa, main yuk, lagi ngapain? Jangan sendirian terus laaaa” kata devi

“Eh ibuuk, Gak ada buk” jawabnya

“ ko terlihat murung, ada masalahkah ni?” Tanya devi

“ gak ada ibuk, hanya saja pesan dari mas tidak kunjung dapat balasan” jawab nia

“ sabar, mungkin masnya masih sibuk, atau ada kegiatan tuh di pondok, kalau ramadhan kan mungkin banyak mengajinya” kata devi mencoba menenangkan

“ mungkin ya buk” 

Devi adalah teman sekamar erna, mereka berdua berasal dari daerah yang sama, sebuah kota di selatan Banyuwangi, Muncar, pulang pergipun juga selalu bersama. Dia baik, diantara teman teman yang lain devi anak yang pendiam, meski diam dia juga punya cerita asmara yang terkadang sedih dan senang. Oiya, saking lemah lembut tutur katanya, keibuan sifatnya kami teman temannya sepakat memberi label “ibuk” padanya

Kebiasaan anak kost kalau pulang sekolah bila tidak main, ngerumpi, keluar atau apalah, hari ini karna cuaca begitu terik, ditambah ini bulan ramadhan mereka lebih memilih menghibur diri main kartu. 

Jarum jam menunjuk pukul 17.00, waktu berbuka hampir tiba. Ada yang membeli takjil, makanan, dan cemilan. Kami terbiasa pesan makanan di depot depan indomaret, di sebelah sekolah kami. Setelah berbuka selesai, kami bergegas menuju surau, adzan berkumandang, tanda waktu sudah masuk waktu isyak, nia bergegas pergi.

“Hari ini harus dapat shaf terdepan, jangan boleh kalah sama nenek nenek ya” gerutu Nia dalam hati

Alhamdulillah sesampainya di surau Nia tidak kebagian shaf depan, tiap shaf terdiri dari 3 jamaah perempuan, nia kebagian shaf kedua, tak apalah.

Alhamdulillah masih kebagian shaf kedua. Shalat isyak berlangsung seperti biasa? Dilanjut shalat ba’da isyak untuk masing masing jamaah yang menginginkan. Setelah shalat ba’da isyak, nia tidak sengaja melihat barisan jamaah laki laki, ada jamaah yang membuat hati nia bergetar, siapakah dia.

“ sepertinya itu mas, apa karna ak terlalu memikirkannya ya, sampai terbawa kesini” gerutu nia

Di surau kami, shalat teraweh terdiri dari 2 salam, tiap salam terdiri dari 4 rakaat, di antara shalat tarawih dan witir ada kutbah. Nia masih saja terus mencuri pandang ke arah yang sama, apa benar dia mas gerutunya dalam hati, tapi itu mustahil, jarak kami cukup jauh. Bertemupun hanya sekali itupun sebentar, mungkin fikiran dan batin ini terlalu berlebihan gerutunya. Seusai shalat tarawih kami bergegas pulang, sejenak nia melupakan gerutunya sedari tadi. Sesampainya di rumah kost erna bergegas buru buru ke kamar nia.

“Niaa, masmu ada di depan” kata erna dengan nafas ngosngosan 

“Ha, mana mungkin, bohong ya” tanya nia

“ ini lo mas very telfon, katanya masmu ada di depan surau, sana kesana” kata erna meyakinkan

Dengan tergesa gesa nia bergegas keluar rumah kost, memakai setelan baju putih dan jilbab putih. Warna putih sengaja ia pilih, karna warna putih kesukaan kekasihnya. sesampainya disana, ya benar ada mas duduk di atas papan di bawah pohon kismis. 

“Mas kapan kesini” sapa nia tanpa salam

“(Tersenyum) assalamualaikum umiiik. sini duduk dekat mas” jawabnya 

“Waalaikumsalam, Mas sekolahnya gimana ko kesini belum musim libur”

“Adek, di pondok itu awal ramadhan selalu libur, sekitar 1 mingguan, mas sempetin ke adek”

“Oiya ya, aduh jadi ngerepoti ya aku mas”

“Mboten, orang mas yang pengen kesini juga ko”

“Mas naik apa tadi? Pantes ya, ak dari tadi liyat ada jamaah yang mengganggu penglihatanku, gk biasanya juga, nyatanya itu samean mas” kenang nia

“(Tersenyum) cari minum yuk, haus” alihnya

Kita bertukar sapa berbincang kesana kemari, hingga akhirnya kami berpindah tempat ke depot seberang jalan.  (Aku lupa kita ngobrol apa saja)

Depot ini melihara kucing, kucing sering berseliweran tatkala pelanggan makan, tapi kami disini hanya minum, segelas teh hangat. Ada kucing lewat dekatku, sontak ak terkaget.

“Adek takut kucing?” Tanya mas terheran

“Hehe iya mas, matanya itu yang bikin takut, seperti mau menikamku” 

“Aduh sayang, jangan takut ya, tau gak, kucing itu hewan kesayangan nabi Muhammad saw, jadi mboten usah takut, bukan semua kucing tapi ya, hanya kucing yang memiliki ekor panjang dan melengkung” terang mas nanda

“Hehe iya mas” 

Tidak banyak yang kami obrolkan, nia yang pendiam lebih memilih mendengarkan celotehan kekasihnya.

“ baiklah, adek in sudah hampir jam 9 kurang 5 menit, adek balik, istirahat”

“ iya mas, mas bermalam dimana?” Tanya nia

“Bermalam disitu, (sambil menunjuk mushala) biar dekat sama samean” 

“Di surau sini? Tidak d rumah mas very mas? “ Tanya nia kembali

“Tidak mas very baru saja pulang, iya sudah adek pulang dulu nggeh, takut gerbangnya di kunci lo”

“Iya mas, aku pulang dulu pamit, assalamualaikum”

“Waalaikumsalam”

Nia kembali ke kostan, perasaannya campur aduk, berhari hari tidak ada kabar, tiba tiba muncul di depan mata, sudah pasti nia sedang berbahagia. Sesampainya di kostan, nia masih penasaran kabar kekasihnya, di ambilnya ponselnya, segera dia kirim pesan

“Assalamualaikum, mas lagi ngapain?”

“Waalaikumsalam, tidak ada adek, adek istirahat ya, supaya tidak telat sahurnya” 

Singkat padat dan jelas, bukan karna tidak mau di ganggu, tapi lebih dari itu, mas nanda berfikir tidak ingin mengganggu waktu nia beristirahat. Aneh bukan, ya begitulah mas nandan. Cara berfikirnya teramat dalam, buatku geleng geleng. Yang mengawali pesan siapa yang merasa terganggu juga siapa, terkadangpun salah ketik bisa jadi bomerang. Nah kalau ini bagian yang amat sensitif.

Waktu sahurpun tiba

Nia bergegas membeli makan sahur untuk mas nandan, sesampainya di surau, alih alih mas nanda menerima nasi bungkus dari nia, mas nandan menolaknya. Disitu campur aduk perasaan nia, ada apakah? 

“Mas belum sahurkah?” Tanya nia

“Belum”

“Ini kubawakan nasi bungkus mas”

“Lo ko adek repot repot, tidak perlu, mas sudah kenyang”

“Lo makan apa lo kan belm sahur”

“Sudah, seteguk air putih sudah bikin kenyang”

Nia melongo, kecewa juga si, karna pemberiannya tertolak

“Disini dingin dek, ak gemeteran semalaman”

“Hadu mas, kasiannya, terus pakai selimut apa”

“Ini jaket aja”

“Ko ndag bilang aku mas, kan bisa kukasih selimut”

“(Tersenyum) dingin menjadi selimutnya mas dek, sudah terbiasa begini, di gubug sudah terbiasa kedinginan”

“Hem”

“Adek belum sahur ? Sana keburu imsyak nanti lo”

Dalam hati biarlah tidak sahur, asalkan bisa bertegur sapa denganmu mas, tapi karna nia tidak akan pernah berani melawan, nia hanya menurut

“Iya mas, ak sahur dulu ya, samean sungguhan ndag mau makan ini” rayu nia

“Mboten adek, sudah buat adek saja, atau kasihkan teman adek”

“Baiklah ak balik dulu mas. Assalamualaikum “

“Waalaikumsalam “

Nia bersegera makan sahur, setelah selesai dia bergegas shalat subuh. Waktu berjalan sebagaimana mestinya. Hingga waktu berangkat sekolah tiba. Perjalanan menuju sekolah melewati depan surau, nia menengok, 

“sepertinya mas sudah tidak di surau lagi. Mungkin sudah di jemput mas very” gerutunya.

Sepulang sekolah nia melihat ponselnya, ada pesan masuk

“Assalamualaikum umik, umik, abi di rumah mbah (mbah adalah nama sebutan buat mas very) karna kedinginan yang sangat badan abi sedikit lemas, abi istirahat dulu disini” 

“Waalaikumsalam, itu kan abi, samean jadi gak enak badan kan, coba ngomong semalam, apalagi di tambah gak sahur” 

“Iya Mboten nopo umik, di buat istirahat nanti sudah enak an, abi istirahat dulu ya, sayang umiiiik 
assalamualaikum”

“Waalaikumsalam abiku sayang, cepet pulih kembali ya :)”

Waktu berjalan seperti biasa, hingga waktu berbukapun tiba, malam itu mas nandan tidak taraweh di surau dekat kostan nia. Selepas shalat teraweh, ada pesan masuk di ponsel nia

“Assalamualaikum umik, umik dimana, ikut abi yuk cari oleh oleh buat keluarga dirumah, abi tunggu depan gang ya”
 
“Waalaikumsalam iya abi, aku keluar”
Sesampainya di depan gang
“Mas sudah mau pulang? Ko sudah mau cari oleh oleh?”
“Iya bhebbyku sayang, waktunya harus di bagi-bagi, setelah liburan pondok di mulai mas langsung ke adek, sekarang waktunya mas pulang ke rumah, keluarga mas kan juga kangen, bukan samean aja yang kangen, mereka juga” 
Nia hanya tersenyum
“Yuk ikut mas cari oleh-oleh, dimana ya toko oleh oleh disini sayang?”
“Em dimana ya mas, ak juga tidak begitu mengenal daerah sini”
“Oiya, di deket terminal aja, mas kemarin sempet tau”

Kamipun bergegas menaiki motor. kala itu mas nandan meminjam motor mas very

“Adek pegangan ya, ko mas gemeter dek?”
“Eh,lo kenapa mas?” nia terkecoh
“Iya mas takut adek jatuh, mas gak pernah bonceng perempuan soalnya, pegangan jaketnya mas adeek”
“Eeh, baik mas”
 
Kamipun bergegas menuju toko oleh oleh yang dimaksud. Jarak toko oleh oleh tidak begitu jauh, sekitar 1km. Malam itu terasa kota Genteng jadi milik kami berdua, sementara waktu begitu cepat berlalu. Sesampainya di toko oleh oleh kami segera di sapa ibu ibu si penjual

“Malam mba mas, mau cari apa?” Sambutnya
“Ini bu cari oleh oleh” jawab mas nandan

“Adek, oleh oleh asli Banyuwangi apa?” Tanya mas nandan pada nia
“Em apa ya, in mas bagiak” 

“O bagiak, ini ada, ada beberapa ukuran, in oleh oleh khasnya sini, samean dari mana mas?” Tanya ibu toko
“Saya dari p… bu” jawab mas
“Wah jauh ya” ibu toko menimpali
“Hehe iya” jawab mas
“Mbanya juga dari p…?” tanya ibu toko
“Mboten bu, in mbanya asli sini, saya dateng kesini nyamperi mbanya” terangnya tanpa menberiku kesempatan menjawab
“Ooo iya ya” kata ibu toko

“Adek, mana lagi” tanya mas nandan menghancurkan lamunan nia
“Eeee apa ya” 

“In lagi mas oleh oleh khas sini, gak ada di kota P…, ini, itu, sebentar, saya amat amati mas sama mbaknya mukanya ko serasi, mirip, katanya kalau mukanya mirip itu berjodoh lo” sembari menunjukkan kue jualannya

Ak sama mas bengong, kala itu mas berada di belakangku, sontak kata amin terdengar jelas di telingaku, tak terdengar kata amin dari mulutku, mas langsung berucap 
“adek amiiiin” bisik mas di telingaku, di telinga sebelah kiriku 
“Iya mas amiiiin” nia tersenyum malu

“Adek mau apa buat teman teman di kostan?”
“Tidak perlu repot repot mas, tidak usah”
“Sungguhan”
“Iya mas”

Setelah memilih oleh oleh yang di maksud dan membayar total pesanan, mas nanda minta tolong pada ibu penjual

“Permisi bu, minta tolong fotokan bisa? Buat kenang kenangan bu”
“Oiya mas bisa sekali”
“Niki” Sambil menyodorkan kamera

📸 dua jepretan
(Itu menjadi foto pertama dan kedua kami yang terbingkai dalam satu frame)

“Terimakasih bu”
“Iya sama sama, hati hati di jalan, semoga kalian berjodoh soalnya serasi sekali di pandang”

“Amiiin”sahut kami berbarengan

Kami bergegas menaiki motor, tujuan selanjutnya pulang, di atas motor kami masih geleng geleng kepala

“Ko bisa ya dek ibu itu ya, kita serasi katanya”
“Iya mas, amiiiin ya mas”

Sepanjang jalan kami geleng geleng sambil mengulum senyum masing-masing. Motor melaju pelan, seperti ogah yang di tunggangi turun darinya. Tapi pelannya laju motor mengisyaratkan tanda perpisahan akan tiba. Kota Genteng amat indah malam ini, Genteng kota kami. Dan motorpun akhirnya menemukan ujung jalannya, mereka akhirnya sampai ke tujuan, kami berhenti di depan gang kostan.

“Adek, mas pamit ya, mas mau pulang, kasian abah umik nanti kalau mas gak cepat pulang, pasti mereka kuatir” mas nanda mengawali pembicaraan, menghancurkan senyum sedari tadi, di malam yang makin sunyi. Genteng kami menjadi sendu kembali, mengisyaratkan untuk memupuk rindu kembali, rindu yang panjang, entah sampai kapan rindu ini akan habis, kembali rindu, habis kembali. 

“Iya mas, mas pulang malam ini?” Tanya nia lirih
“Iya adek, insyaallah sebelum sahur mas sudah sampai. Bentar lagi minta anter mbah ke terminal” terang mas
“Nggeh punan hati hati di jalan ya mas, kabari kalau sudah sampai, ak minta fotonya nanti ya mas, foto kita 😊” nia mencoba tegar
“Oiya nanti sesampainya di rumah ya, ya sudah mas pamit, assalamualaikum” jawab mas
“Waalaikumsalam” nia mengulurkan tangan mengisyaratkan salim, dan maspun mengulurkan tangannya pula. Salim cium tangan, entah kapan itu menjadi kebiasaan kami, tanpa aba aba tanpa awal dan tanpa basa basi. Malam itu kami berpisah di gang kostan. Ak kembali ke kostan sementara mas bergegas pulang.

Tahun demi tahun berganti,  tiap bulan Ramadhan tiba, nia selalu teringat mas nandan, selalu berharap, diantara shaf jamaah laki laki selalu ada kekasihnya, membersamainya shalat tarawih bersama. Nia sangat mengagumi bulan ramadhan, bukan hanya karna doa doa di tiap malamnya, tapi kini nikmat itu bertambah, bahwasanya bulan Ramadhan adalah bulan bagi mereka berdua yang selalu nia harapkan akan terulang kembali.

0 komentar:

Posting Komentar