Tujuh Tahun

Aku berasal dari keluarga sederhana, orang tuaku sederhana, kehidupan kami sederhana. Tidak fanatik terhadap agama, tapi bukan islam KTP yang di sebut sebut di luaran sana. Keluarga kami sering pindah tempat, mengikuti dimanapun ayah kami bekerja. Sudah lebih dari puluhan kali ayah pindah dinas. Dan pastinya tiap tempat mempunyai ceritanya sendiri. Ada Satu tempat yang sangat aku kenang dan ingin aku ulang kembali, tempatnya jauh dari kampung halaman ayahibuku. Kami pulang kampung hanya ketika lebaran idul fitri datang, selebihnya, kami berdiam di rumah dinas ayahku. Hal baik selalu bersanding denganku, serasa memang itu berkah dari Allah swt yang di anugerahkan khusus terhadapku. Masih ingat momen kecil waktu aku berusia 7 tahun, ak memang lambat mengenal alquran, tapi tidak sehari pun aku meninggalkan jadwal mengajiku, entah ini anugerah yang luar biasa yang Allah beri padaku. Hingga suatu hari ketika keluargaku pindah rumah dinas kembali pulang ke kampung halaman, ak kembali di kenang oleh mereka yang mengajariku mengaji. 

“Hoala mba, pak muhklis kehilangan muridnya yang rajin, anak e samean itu, sudah pendiam,rajin mengaji, sekarang sudah tidak disini lagi, padahal tidak pernah absen sekalipun mengajinya, meski teman temannya memilih libur ketika hujan, dia tetep ngaji lo mba, sayang temen” kenangnya pada ibuku tatkala ibu pamit

Perjalanan menuju surau lumayan jauh, melewati hamparan teh, kampungku ada di bawah, aku harus naik bukit bila waktu mengaji sudah mulai tiba. Terkadang ada anjing nangkring yang buat bulu kuduk berdiri, bila perjalananku terhalang olehnya, aku memilih putar balik mencari jalan yang lain, asalkan tidak berjumpa dengan si anjing. 

Tempat tinggal kami indah, kami berada di ketinggian 1100 mdpl. Lingkungan kami terdiri dari 4 blok. Mereka menyebutnya kampung etan, bon 10, kampung atas dan bon 1. Tiap tiap blok di pisahkan dengan hamparan kebun teh. Ketika musim hujan tiba, daerah kami berkabut, antar 1 blok ke blok yang lain tidak terlihat, tertutup kabut. Airnya dingin, sedingin es, bila siang cuaca amatlah terik. Kombinasi cuaca dingin dan panasnya matahari yang menyengat membikin kulit cepat sekali berganti warna, menjadi hitam. Bayangkan, sudah pasti para ibu ibu melarang anak anaknya bermain di luar saat siang hari.

Oya, tempat tinggalku di bon 10, sementara surau tempatku mengaji di kampung atas. Bila waktu mengaji hampir tiba, aku mendaki bukit, melewati gladag. Bila musin hujan, jalannya licin, karna tanahnya masih asli, tanah lempung. Di kampung kami ada dua tempat ibadah. Satu masjid dan satu gereja. Lokasinya sama di kampung atas. Jamaahnyapun tersebar di antara 4 blok itu. Teman sekolahku ada yang beragaman islam maupun nasrani. Kala itu, tidak seseram saat ini, antar dua agama ini saling bertoleransi, bertetangga dan saling menghormati satu sama lain. Saat masing masing di antara kami merayakan hari raya, kami ikut serta tanpa membedakan si a dan si b. Indahnya kala itu.

Kembali ke surau, di tempat mengajiku ada dua guru. Yang satu guru khusus mengajar iqra, dan yang satu lagi khusus mengaji alquran. Ketika aku mulai aktif mengaji, umurku tujuh tahun. Teman teman sekolahku sudah jauh di depanku, ada yang sudah mengaji juz amma ada yang sudah mengaji alquran. Aku merasakan aku dahulu sungguh giat dan tekun sekali, aku heran, aku tidak pantang menyerah, aku terus belajar dari ketertinggalanku. Hingga akhirnya aku bisa mendahului mereka. Benar kata teman ibuku, aku tidak pernah absen sehari pun kecuali sakit. 

Ketika bulan Ramadhan tiba, tiap tiap murid mengaji menggunakan  mikrofon, sudah pasti seluruh kampung kami mendengarnya.

“Aduh ndok, bapak mau ngrungokne samean ngaji, alhamdulillah sudah lancar yo nduk, bapak terharu, bapak brebes” kenang ayah suatu ketika.

Saat itu aku belum mengenal apa itu tartil. Aku taunya hanya mengaji dengan lantang dan jelas.

Ah masa kecil itu,

0 komentar:

Posting Komentar