Siapa tidak kenal dia. Anak baru, ketika upacara hari senin, dia menjadi sorotan puluhan mata memandang karna baju yang dikenakan. Mulanya nia sekolah di sma negeri di kotanya berbarengan dengan mondok di pesantren. akibat sakit sakitan, nia dipindahkan ke sekolah di kota sebelah, SMA MUHA. Kala itu waktu menjelang ujian tengah semester di sekolah barunya, nia harus mengejar ketertinggalannya. Untung teman sekelas, kostan dan walikelasnya sangat baik, membimbingnya dengan perlahan. Di kostan, nia mendapati teman semasa SMPnya. Ada beberapa yang dari kota timur, selatan, berbagai kota berkumpul di kostan ini. Kostan flamingo.
Hari berjalan dengan semestinya, masa SMA, masa dimana mengenal apa itu cinta, kedewasaan, tanggung jawab, menjadi mandiri, begitupun nia dan teman teman sekolahnya.
Sma Muha, seperti layaknya SMA pada umumnya, penjurusan dimulai dari kelas 2. Disini terdiri dari 3 jurusan, IPA, IPS dan Bahasa. Jurusan IPA dikenal menjadi sarangnya anak anak pintar, sementara IPS menjadi jurusan buangan, dan bahasa menjadi kelas paling minor. Tapi ketahuilah ketika kita sudah lepas dari masa SMA itu semua tidak penting, yang terpenting itu malah, apasih sebenarnya yang kalian minati, kalian unggul di mana, yang kalian tekuni apa, yang membuat enjoy ketika belajar apa. IPA IPS dan Bahasa semua sama. Hingga tibalah pada ujian akhir semester sekaligus penentuan siswa a siswa b masuk jurusan apa. Sementara nia, pemikiran yang masih kolot dan takut di cap anak tidak rajin, dia memilih jurusan IPA. Hanya demi terlihat rajin dan pintar. Sebenarnya yang dia sukai Geografi dan Sejarah, itupun dirasa ketika dia sudah mulai melihat dunia luar. Ah penyesalan emang tempatnya di akhir cerita. Hingga akhirnya tibalah pada waktu ujian penentuan jurusan dan akhir semester. Hari pertama ujian nia mendapati pesan masuk dari nomor yang tidak di kenal
“Semoga sukses UASnya” nia yang tengah bergegas berangkat sekolah membalas seadanya
“Siapa” tidak ada balasan
Hari kedua
“Semoga sukses UASnya” hari kedua dengan nomor yang sama dan pesan yang sama, misterius sekali pikirnya, mungkin teman sekelasnya yang iseng mengiriminya pesan
“Ini siapa ya” tidak ada balasan
Pesan itu berulang sampai hari terakhir UAS.
Hingga suatu malam.
“Assalamualaikum, maaf mengganggu, ini benar nia?”
“Waalaikumsalam, Iya, ini siapa?”
“Perkenalkan sya temannya veryl, kemarin sudah ijin minta nomornya….” (Kita rajin bertukar pesan, meski tidak sering)
Dia memperkenalkan dirinya dengan sopan. Bercerita kenapa sampai tertarik dan ingin mengenal nia. Dan memberanikan diri meminta nomor ponselnya. Tidak sering mereka bertukar pesan, niapun beranggapan mungkin teman yang sengaja singgah, nantipun bakal hilang seperti yang sudah sudah. Nia memanggilnya mas i
Waktupun berlalu, Hingga suatu malam setelah shalat isyak erna teman kostnya menghampirinya di kamar,
“Nii, ada mas i… di depan” kata erna setengah berteriak
“Sungguh? bohong ya” tanya nia
“ ini lo mas very telfon, katanya masmu sama mas very di depan, ayok”ajaknya. Di depan yang di maksud di depan gang kostan kami
Kamu mengenakan baju gamis coklat muda kekuning kuningan dengan pecinya, sepertinya baru turun shalat isyak di surau dekat kostan tempat nia tinggal. Kamu duduk di atas papan di bawah pohon kismis.
“Mas, “ dengan suara tertahan
“Iya sini duduk” melihat nia sebentar kemudian menunduk, seperti menjaga pandangan
“Mas kapan kesini” Sapa nia tanpa salam
“Assalamualaikum adek, “ dengan masih menundukkan kepala, nia terheran, ada salahkah dirinya
“Waalaikumsalam”
Lama mereka terdiam, mobil berlalu lalang. Menjadi saksi kebisuan diantara keduanya. Sesekali angin bertiup, menyibak keheningan malam. Orangpun berlalu lalang, karna tempat mereka duduk adalah trotoar di pinggir jalan, tempat singgah penumpang ketika menunggu bus datang. Nia kebingungan mau memulai pembicaraan. Sementara lelaki disebelahnya, seperti ada sesuatu yang ingin di sampaikan, hingga beberapa menit kemudian, mas i memulai percakapan
“Adek tiap hari kalau keluar begini?” Masih dengan menunduk
“Iya mas, kenapa mas” nia belum menyadari arah pembicaraan yang di maksud
“Adek….coba liyat dia” Lina, teman sekolah nia keluar dari rumah kost, dia tengah berjalan menuju depot, sambil melihat memandang ke arah kami dan tersenyum pada nia.
“Itu teman adek?”
“Iya mas”
“ adek…. Adek tidak melakukan apa yang mas suruh? Coba di renungkan, adek tau aurat? Adek tau batasan apa saja yang perlu di tutupi wanita? …adek tau mawar?…” tanpa basa basi arah pembicaraan mas tentang nia
Panjang penjelasan mas kala itu, kini giliran nia yang menunduk, perasaannya kacau, kaget, salah tingkah dan lain sebagainya. Ditengah menunduknya di kagetkan suara isyak tangis lirih di telinganya. Mas berbisik dengan sedikit tangis pilu. Nia sadar, ada perasaan yang berkecamuk kala itu, kecewa yang begitu dalam melihat dirinya. Pertemuan pertama mereka mengecewakan di hati mas nandan
“Adek kostnya ada jam malamkah?” Tanya mas nanda
“Iya mas, kostan di tutup jam 9 malam” jawab nia
“ baiklah, adek in sudah hampir jam 9 kurang 5 menit, adek pulang, istirahat nggeh, maaf kalau ada salah”
“ iya mas, mas bermalam dimana ?” Tanya nia
“Bermalam disitu, (sambil menunjuk mushala)” jawabnya
“Tidak apa apa kah mas?“ Tanya nia kembali
“InsyaAllah, nanti ijin dulu sama warga sini, dan takmirnya”
“Iya sudah mas, aku pulang dulu assalamualaikum”
“Iya Waalaikumsalam”
Nia pulang dengan menunduk, ada pesan yang tidak diperhatikan, nasihatnya sudah lama, tapi nia tidak begitu paham apa yang di maksud. Tapi malam ini, nia mulai melihat dirinya. Sesuatu paling dasar yang ada pada perempuan. Menjadi bunga yang berduri, indah, karna durinya yang tajam hingga kumbangpun enggan mendekat. Alhamdulillah ada lelaki yang mengingatkannya dengan sopan. Nia dikagetkan dengan pesan masuk tentang mawar.
“Adek… jadilah bunga mawar yang indah berpagarkan duri. Jangan biarkan dirimu menjadi sembarang bunga yang indah tapi sayang tidak berduri. Tiada lagi benteng yang melindungi keindahan si bunga melainkan durinya yang melindungi tatkala didekati sang kumbang….”
Keesokan harinya pun tiba. Saat bergegas berangkat sekolah Nia menghampiri mas nandan kembali di surau, berpamitan. Dari kejauhan ia dilihat, berbeda dari hari semalam, tanpa berkedip tanpa bersuara, dah disambutlah dengan senyuman lebar,
“Nah, kalau pakai jilbab kan cantik, cantik lo adek, adem liyatnya” sambut mas nanda
Nia tersipu malu
“Nia sekolah dulu ya mas” pamit nia
“Iya hati hati adek sayang, mas bentar lagi ke rumahnya mbah very, oya mau ku kasih parfum kesukaan mas?”
“Mau mas” sambil mengulurkan parfum belagio merah
“Terimakasih mas, iya sudah mas aku sekolah dulu, assalamualaikum ”
“Waalaikumsalam “
Dagdigdug hati nia bergetar, senang bahagia, di kelas bukannya konsen dengan pelajaran, nia lebih konsen dengan hatinya yang berdegub kencang. Sepulang sekolah ditengoknya mas nandan sudah tidak di surau.
Ke esokan harinya, setelah pulang sekolah, ada pesan masuk
“Assalamualaikum, mas mau pamit adek, mas mau pulang, bisa keluar ke depan sebentar?” Bunyi sms dari mas nandan
“Waalaikumsalam nggeh mas” letih sedih kacau campur jadi satu begitu perasaan nia ketika melangkah ke gang depan kostan.
“ hai adek, mas pamit dulu ya, semoga ada kesempatan bisa bertemu kembali, ini ada hadiah buat adek” kata mas nandan menyambut nia
Kalung dengan liontin berbentuk hati, tapi setengah, yang satunya kemana tebak nia,
“ liontin ini di jaga ya adek, satu disimpan adek, satunya lagi di simpan mas” sambil tersenyum.
“ semoga liontin ini dapat bersatu nantinya” imbuhnya
Nia masih terdiam, perasaan sedih gembira senang sayang cinta campur jadi satu.
“ adek jangan sedih, insyaAllah bila Allah mengijinkan, mas akan kesini lagi” tambahnya menghibur nia yang menunduk lesu.
“ baik mas, hati hati di jalan, naik apa mas?” Tanya nia
“Naik bis adek, sebentar lagi” jawabnya
“Aku ikut anter ya mas” pinta nia
“ jangan adek, kita berpisah disini saja nggeh” jawabnya
“ baik mas” nia menurut
“Adek sudah dapat pengumuman masuk jurusan apa?”
“Sudah mas, jurusan …”
“ alhamdulillah sesuai yang diinginkan ya adek, nggehpun mas pulang, pamit assalamualaikum “
“Waalaikumsalam mas, hati hati” jawab nia
Mas nandanpun pergi bersama temannya, nia lari ke rumah kost, mencari erna. Seperti hatinya tidak rela mas nanda pulang. Setengah terisak menangis dan ter engah engah nia berkata
“Erna aku minta tolong, mas sudah pulang, ak ingin melihatnya pergi, anterin aku, ku mohon”
“ ayo ayo”
Bergegaslah kami ke halte bus, di halte bus tidak ada mas nandan, kemudian nia berinisiatif menunggu di pinggir jalan agak jauh dari terminal bus, berharap masih bisa melambaikan tangan, meskipun itu mustahil.
Sesampainya di jalan, nia berharap cemas, semoga masih sempat melambaikan tangan pada kekasihnya. Beberapa menit kemudian Ada bus lewat, mendekat, padahal nia maupun erna bukanlah penumpang, akan tetapi bus itu tidak berhenti, dari kaca depan kondektur ada yang melambaikan tangan.
“Jangan menangis” sambil melambaikan tangan dan tersenyum
Iya itu mas nandan, nia menangis sejadi jadinya melihat lambaian tangan itu. Buspun melaju, nia kembali k rumah kost bersama erna. Di tengah perjalanan pulang ada kabar dari mas veryl, mas nandan tidak berhenti menangis mengingat nia, kusarankan untuk minum air nyatanya mas sedang berpuasa.
“I puasa nazar, buat nia, i puasa saat tadi dapat kabar kalau nia masuk ke jurusan yang diinginkan”pesan mas very pada erna. Yang di sambugkan ke nia
“Allahuakbar”nia tidak berhenti geleng geleng, sedalam itukah perasaan mas nandan terhadapku
Hari demi hari berjalan sepertimana biasa, nia kembali dengan rutinitasnya, begitupun mas nandan, kembali dengan rutinitas pondok di gubugnya
Mungkin inikah yang dinamakan mukjizat atau petunjuk melalui hambanya yang penuh kasih, kamu yang hadir bagaikan anugerah, hingga sampai kini jilbab nia tidak pernah terlepas lagi.
Terimakasih
0 komentar:
Posting Komentar