Orang Dalam Gangguan Jiwa

1. 
Waktu subuh, pagi di awali dengan shalat subuh. Seperti pada hari hari yang berkesudahan. dia di bangunkan bulek (adek dari ibu). 
“Ayo tangii, subuuuh”
Selepas lulus dari sekolah dasar, dia dipindahkan ke kota sebelah, tidak lagi mengikuti kedua orang tuanya yang bolak balik pindah rumah dinas. Orang tuanya tidak rela sekolahnya terganggu seperti kakanya. Akibatnya dia di ungsikan ke rumah neneknya. Di rumah nenek, dia hidup bertiga, nenek, bulek, dan dia. Rumah nenek terletak di tengah petak petak persawahan. Membuka pintu teras dan pintu dapur yang terlihat hamparan sawah. Menengok jendela yang terlihat tanaman hijau yang tengah berusaha tumbuh, bertarung dengan mahkluk kecil yang bertahan hidup. Ada yang mengincar akar, daun, biji, dan yang memangsa kesemuanya. Berusaha hidup, dewasa, berkembang biak dan kembali menyatu dengan tanah.  
Menjelang waktu petang, katak katak kerap bernyanyi, berlomba lomba memikat betina. Makin nyaring bunyinya makin menarik bagi betina. Suaranya
terdengar jelas di penjuru ruangan saling bersahut sahutan. Masing-masing dari mereka akan berhenti ketika fajar menyingsing.
Ketika musim hujan dan tanam padi tiba, tanah menuju rumahnya becek berlumpur. Pernah suatu ketika di pagi buta, teman bertamu ke rumahnya, sepeda yang dikendarai tidak sampai di teras rumah. Karna jalanan sangatlah becek, dan hanya muat dilalui satu sepeda saja, tidak untuk berpapasan. Ketimbang teman jatuh di petak petak sawah, ia memilih menitipkan motornya ke tetangga seberang yang memiliki jalan lebar. Temannya memilih berjalan kaki ke rumah dia. Pagi sekali temannya bertamu, mengantarkan surat ijin tidak masuk sekolah. Di tahun 2004, siswa siswi bila tidak bisa masuk sekolah pastilah mengirim surat, entah surat akan di antar orang tuanya, atau dititipkan ke teman sekelas atau tetangga yang sekolahnya bersamaan….

“Becek sekali ndo jalannya, motorku di tuntun sama bapak bapak di pinggir sawah, ben iso lewat” temannya mengeluh tanpa pembalasan yang pasti oleh dia. Dia yang tengah sibuk menyiapkan peralatan sekolah menjawab sekenanya

“La ko gak nyegat nang pinggir dalan lo amu ndo, tempat biasane nunggu kol, gak sms pisan awakmu ki ndo”
“La pie, ak wedine awakmu wes budal ndo, pie pas suratku, kate titip sopo, meneh e ki ayahku wes ate budal, ak wedi gak nutut”

Nama panggilannya Ana. Ana teman dia, dikenalnya sedari rutin menunggu kol (mobil angkutan umum). Rumah mereka berjarak sekitar dua kilometer. Kelasnya bersebelahan dengan dia. Ceritanya, ada acara mendadak di keluarganya, makanya pagi sekali surat di antarakan ke rumah dia. 

Setiap hari dia bangun pagi, bila waktu sudah menunjuk 
pukul 06.00 dia harus bergegas berangkat. Menuju halte dipinggir jalan besar. Bila tidak kesiangan jalannya santai, tiap pagi dia temani kicauan burung di udara, menyambut mentari yang belum begitu terik. Sesekali katak berlomba dengan pijakan sepatunya, dan juga melompati sepatu yang ia kenakan. Terkadang terlihat keong dengan langkah super pelannya yang mulai menaiki padi, hendak menghisap batang padi. Terlihat juga keong betina tengah bertelur, telur keong berwarna merah muda, mereka berkoloni, ketika musim tetas tiba, banyak bayi bayi keong bermunculan. Belalang tak mau kalah, mereka meloncat diantara satu pohon ke pohon yang lain, mencari daun yang empuk untuk di kunyah. Kesemuanya tengah sibuk mengisi perut masing masing. Sementara tikus, trenggiling belum terlihat, karna padi masih berumur muda. Ketika padi sudah mulai menunduk, tanda mulai sempoyongan menopang biji biji padi yang gembrot, mereka akan sibuk berlalu lalang.  Setiap hari semuanya berlomba untuk mengisi perut.

Sesampainya di halte, dia sendiri, ibu yang biasa bersamanya menunggu angkutan belum juga datang. Pagi ini dia duduk di atas lincak depan warung nasi. Warungnya masih tertutup, artinya ibu pemilik belum datang. Ibu si penjual buah juga belum terlihat. Nyatanya pagi benar dia berangkat. Tidak ada pilihan dia harus sabar duduk menunggu kol langganannya. Jalanan mulai sibuk, kendaraan berlalu lalang, dari arah timur menuju barat, sebaliknya dari arah barat menuju timur. Ada bis, motor, sesekali ada delman yang mencoba parkir di seberang jalan. Peminat delman masih ada. Kebanyakan dari mereka penumpang yang turun dari angkutan umum menuju rumah sakit atau rumah yang letaknya jauh dari jalan raya. Tidak kalah sibuknya, truk berlalu lalang membawa barang. Ada yang jalannya sempoyongan, penanda berat benar yang di angkut. Ada yang jalannya begitu cepat penanda muatan ringan atau truk dalam kondisi kosong. Yang paling menyebalkan ketika dihirup, ada bau amis yang tiba tiba muncul tatkala truk lewat. Mereka mengangkut hasil laut. 
Di seberang timur juga tak kalah sibuknya, mobil maupun motor yang antri mengisi bahan bakar. Di tengah kesibukan jalan raya, tiba tiba ada seorang pemuda mendekat. Perlahan. Dia belum menyadari kedatangan si pemuda, sementara dari seberang jalan terlihat bapak bapak tengah melambaikan tangan ke arah dia. Dia tidak paham yang di maksud. Hingga tiba tiba si pemuda yang mulai mendekatinya menari dihadapannya, menari dan bernyanyi. Seketika bulu kuduk dia berdiri
“Ini orang gila” bapak bapak di seberang jalan mengisyaratkan untuk lari menjauh. Dia takut untuk lari, dia mengingat pesan buleknya, bila melihat atau didekati orang gila jangan lari, nanti kamu di kejar. Dia menahan nafas. Jarak mereka hanya dua meter. Dia memilih menunduk lesu dengan jantung berdegub kencang.
Pemuda itu tetap menari dan bernyanyi di depannya, sambil mengayunkan jemarinya bak ada musik yang melantun di telinga. Sesekali rambut kumal di tariknya, di selipkan ke telinga. Matanya berkedip, senyumnya lebar terlihat gigi hitam dan berlubang dimana mana. Alisnya tebal dengan debu, bibirnya abu abu bak kebanyakan menghisap rokok, sementara pipinya lebam seperti habis dipukuli. Bajunya yang kedodoran dibiarkan menjuntai di pundaknya. Sementara celananya tinggi sebelah. Ada yang bening, matanya bening putih bersih. Penglihatannya ceria, seperti beban berat baru kelar ia taruh. Melihat dia ketakutan, pemuda itu menari sambil berjalan menuju warung yang terbuka sambil cengengesan dan duduk bersila. Dia melirik, si pemuda menunjukkan giginya yang bolong. Dia menunduk, menyesal karna meliriknya. Sementara si pemuda yang setengah duduk mulai berdiri dan menari lagi di teras warung yang tidak berpenghuni. 
Dia takut, tapi tidak takut seperti yang mula mula. Perasaannya sedikit lega. Sementara bapak di seberang jalan tersenyum melihat keberanian dia sambil berucap mengisyaratkan 
“Pergi ndok”
Dari kejauhan kol langganan terlihat. 
Alhamdulillah batin-nya. Beruntungnya pemuda tadi hanya menari, tidak lebih dari itu.

2.
Aku pernah mengagumi orang gila. Begini ceritanya. 
Suatu malam, dia dengan kawan organisasi gabut, ingin mencoba hal baru, mencari adakah yang bisa kami tulis untuk dijejalkan pada majalah yang bakal terbit. Kala itu dia bersama ketiga kawannya. Dia, nurma, yeni dan coi. Tiga perempuan dan satu laki laki, mereka penghuni sekret (tempat kami luntang luntung menunggu jam kuliah tiba). 
“Ayo engko bengi nang pasar tanjung”
“Nganu opo mad”
“ golek bakso. Eh beknowo oleh bahan tulisanmu bek” 
“Hem” aku ogah ogahan. Membayangkanny sepertinya capek betul. Tengah malam naik motor dingin dingin ke pusat kota
“Aku milu maaaad” celetuk yeni dari sudut ruangan
“Aku oleh milu oraaa”tanyak si coy
“Ayo wes gas budal”
Malam ini dia nurma menginap di kostan yeni. Tak lupa sebelum terlelap kami memasang alarm. Kebiasaan perempuan kalau sudah menginap 
Bersambung dulu ya 🫰

Tujuh Tahun

Aku berasal dari keluarga sederhana, orang tuaku sederhana, kehidupan kami sederhana. Tidak fanatik terhadap agama, tapi bukan islam KTP yang di sebut sebut di luaran sana. Keluarga kami sering pindah tempat, mengikuti dimanapun ayah kami bekerja. Sudah lebih dari puluhan kali ayah pindah dinas. Dan pastinya tiap tempat mempunyai ceritanya sendiri. Ada Satu tempat yang sangat aku kenang dan ingin aku ulang kembali, tempatnya jauh dari kampung halaman ayahibuku. Kami pulang kampung hanya ketika lebaran idul fitri datang, selebihnya, kami berdiam di rumah dinas ayahku. Hal baik selalu bersanding denganku, serasa memang itu berkah dari Allah swt yang di anugerahkan khusus terhadapku. Masih ingat momen kecil waktu aku berusia 7 tahun, ak memang lambat mengenal alquran, tapi tidak sehari pun aku meninggalkan jadwal mengajiku, entah ini anugerah yang luar biasa yang Allah beri padaku. Hingga suatu hari ketika keluargaku pindah rumah dinas kembali pulang ke kampung halaman, ak kembali di kenang oleh mereka yang mengajariku mengaji. 

“Hoala mba, pak muhklis kehilangan muridnya yang rajin, anak e samean itu, sudah pendiam,rajin mengaji, sekarang sudah tidak disini lagi, padahal tidak pernah absen sekalipun mengajinya, meski teman temannya memilih libur ketika hujan, dia tetep ngaji lo mba, sayang temen” kenangnya pada ibuku tatkala ibu pamit

Perjalanan menuju surau lumayan jauh, melewati hamparan teh, kampungku ada di bawah, aku harus naik bukit bila waktu mengaji sudah mulai tiba. Terkadang ada anjing nangkring yang buat bulu kuduk berdiri, bila perjalananku terhalang olehnya, aku memilih putar balik mencari jalan yang lain, asalkan tidak berjumpa dengan si anjing. 

Tempat tinggal kami indah, kami berada di ketinggian 1100 mdpl. Lingkungan kami terdiri dari 4 blok. Mereka menyebutnya kampung etan, bon 10, kampung atas dan bon 1. Tiap tiap blok di pisahkan dengan hamparan kebun teh. Ketika musim hujan tiba, daerah kami berkabut, antar 1 blok ke blok yang lain tidak terlihat, tertutup kabut. Airnya dingin, sedingin es, bila siang cuaca amatlah terik. Kombinasi cuaca dingin dan panasnya matahari yang menyengat membikin kulit cepat sekali berganti warna, menjadi hitam. Bayangkan, sudah pasti para ibu ibu melarang anak anaknya bermain di luar saat siang hari.

Oya, tempat tinggalku di bon 10, sementara surau tempatku mengaji di kampung atas. Bila waktu mengaji hampir tiba, aku mendaki bukit, melewati gladag. Bila musin hujan, jalannya licin, karna tanahnya masih asli, tanah lempung. Di kampung kami ada dua tempat ibadah. Satu masjid dan satu gereja. Lokasinya sama di kampung atas. Jamaahnyapun tersebar di antara 4 blok itu. Teman sekolahku ada yang beragaman islam maupun nasrani. Kala itu, tidak seseram saat ini, antar dua agama ini saling bertoleransi, bertetangga dan saling menghormati satu sama lain. Saat masing masing di antara kami merayakan hari raya, kami ikut serta tanpa membedakan si a dan si b. Indahnya kala itu.

Kembali ke surau, di tempat mengajiku ada dua guru. Yang satu guru khusus mengajar iqra, dan yang satu lagi khusus mengaji alquran. Ketika aku mulai aktif mengaji, umurku tujuh tahun. Teman teman sekolahku sudah jauh di depanku, ada yang sudah mengaji juz amma ada yang sudah mengaji alquran. Aku merasakan aku dahulu sungguh giat dan tekun sekali, aku heran, aku tidak pantang menyerah, aku terus belajar dari ketertinggalanku. Hingga akhirnya aku bisa mendahului mereka. Benar kata teman ibuku, aku tidak pernah absen sehari pun kecuali sakit. 

Ketika bulan Ramadhan tiba, tiap tiap murid mengaji menggunakan  mikrofon, sudah pasti seluruh kampung kami mendengarnya.

“Aduh ndok, bapak mau ngrungokne samean ngaji, alhamdulillah sudah lancar yo nduk, bapak terharu, bapak brebes” kenang ayah suatu ketika.

Saat itu aku belum mengenal apa itu tartil. Aku taunya hanya mengaji dengan lantang dan jelas.

Ah masa kecil itu,

Ramadhan Kami

Suatu pagi di tanggal 14 maret 2020

Pagi kuawali dengan bismillah, berharap nanti berakhir alhamdulillah. Hari ini ramadhan hari ketiga. Sebelum mengenalmu, aku sangat mengagumi bulan ramadhan, ketika aku tau tiap malam menyimpan doanya sendiri, doa yang berbeda-beda dengan amin yang sama.

Kriiiiing…

Kriiiiing…

alarm berbunyi, Nia molet di kasurnya, jam menunjuk pukul dua dini hari, kamar penghuni kost yang lain masih sunyi pertanda belum ada yang bangun. Rinda teman sekamarnya juga masih terlelap. Nia bangun dan bergegas buka pintu ambil air wudhu. Belum selesai membasuh kaki, Nia di kagetkan dengan suara, 

“Ya Allah Niaaa, ibu kira siapa ya, dari kemarin kemarin ibu terbangun, ko ada suara pet ngalir belum waktu sahur, pintu kamar anak anak juga tertutup semua, ternyata kamu to”

“Hehe, enggeh bu umik” kata Nia cengengesan 

“ alhamdulillah mau shalat malam” kata bu umik menyelidik

“Nggeh bu umik” 

“ ya wes sana” kata bu umik sambil berjalan kembali ke rumahnya. Nyatanya bu umik beberapa hari kerap terbangun ketika Nia keluar kamar, tiap beliau mau menegur Nia sudah kembali masuk dalam kamar. Dan ketika keluar bu umik hanya melihat pintu kamar anak kost yang tertutup semua. Ada perasaan takut, ada malingkah atau kran jebolkah. Antara kamar dengan rumah pemilik kost berjarak, tidak jauh, hanya saja kamar kost anak anak ada di bagian depan, rumah pemilik kost ada di bagian belakang. 

Nia kembali ke kamar, Rinda belum juga bangun. Nia bergegas shalat malam, setelah shalat malam, Nia melihat ponselnya, tidak ada pesan, dibukanya kembali mencari nomor yang di maksud, dibukanya pesan dan di bacanya berulang kali. Pesannya tak kunjung di balas, dalam hati gelisah, kemana mas, apakah ada salah kata yang Nia ucap, hingga tidak ada kabar berhari-hari. Dibukanya kembali pesan lama, karna teramat rindu yang sangat, dibukanya penyimpanan pesan mulai dari awal mas mengirim

“ semoga sukses uasnya”

 Nia terbiasa menyimpan pesan pesannya, karna memang tidak banyak pesan yang dia kirim. Kekasihnya itu tak sering membalas pesannya. Tapi ia tidak marah sedikitpun, ia maklum. ketika rindu mulai menyerang diulanginya kembali membaca pesan demi pesan, saking teramat rindunya terkadang ia membaca pesan hingga tertidur. Tak jarang itu jadi kebiasaannya di tiap malam. Sambil menahan senyum ia mengenang moment bertukar kabar antara dirinya dan mas. Lucu sekali kenangnya, kita yang belum lama kenal, baru sekali bertemu, tak pernah benar benar tau wajah masing-masing tapi sudah menyimpan rasa yang entah datangnya dari mana.

“Mba malam malam ko senyum senyum dewe si samean iki. marai merinding” kata Rinda sambil mengucek mata dengan gerakan molet mengangkat tangan

“ hehe” Nia tersipu malu

“ pasti lagi baca pesan” Rinda menebak nebak

“ iya adeeek, lagi rindu beberapa hari tak bertegur sapa, mungkin lagi sibuk atau entahlah dek”

“Heeem, yang tiap hari selalu merindu” sambil beranjak keluar kamar, bergegas menyiapkan makan sahur.

Jarum jam menunjuk pukul tiga dini hari. Penghuni kost yang lain sudah terbangun, kost mendadak ramai, ada yang keluar membeli makan, ada yang membuka bungkusan makanan yang di beli sedari malam, ada juga yang memasak mie instan dan energen. Tiap bulan ramadhan tiba kami menyempatkan makan bersama penghuni kost yang lain, terkadang tukar lauk pauk, terkadang tukar minuman, terkadang juga tukar pikiran (ngobrol, eh ngerumpi) kebiasaan anak anak perempuan kalau sudah berkumpul. Yang paling lantang di antara kami sebutlah dia Erna, teman sebangkuku di sekolah, tak lain dan tak bukan kalau sudah berkumpul pastinya bercerita tentang kekasihnya. 

Hari berjalan sebagaimana biasanya, selepas makan sahur, teman teman ada yg tertidur, ada yang shalat kemudian tertidur, ada yang shalat dan di lanjut mengaji, ada yang mencuci pakaian, menyeterika, berbincang bincang yang berujung tertidur dan lain sebagainya. Jadwal mengantre kamar mandi sudah di umumkan sedari malam, Nia kebagian urutan pertama mandi. Sehabis mengaji, Nia bergegas mandi karna jam sudah menunjuk pukul 05.00. Dia lebih awal hari ini, ingin segera berangkat ke sekolah. Sekolah mereka tidak jauh, dengan jarak kurang lebih 50 m keluar dari gang dan menyeberang jalan raya sampailah di sekolah mereka. 

Hari berjalan seperti biasa, bila bulan ramadhan jam pulang sekolah maju lebih awal, masuk pukul 08.00 dan pulang pukul 11.00. Tiap pagi disekolah kami sebelum jam pelajaran dimulai selalu menyempatkan membaca Alquran, dengan di pandu suara mikrofon dari ruang guru. Kami bersekolah di salah satu sekolah swasta di kota genteng, muhamadiyah dua genteng lebih dikenal dengan sebutan Muha. Aku tidak terlahir dari keluarga muhamadiyah, akupun baru tau itu ketika aku sekolah disini. Apa itu muhamadiyah apa itu NU. Menarik kataku, dari sini banyak hal baru yang ku peroleh. Pada intinya semuanya sama baik itu NU maupun muhamadiyah.

Hari ini teramat terik, haus menyerang, anak anak kembali ke kost dengan wajah menahan haus. Begitupun nia, dia kembali bergegas, belum juga berganti pakaian nia sibuk memencet tool ponselnya. Dibukanya nama al muhibbah di ponselnya, tidak juga ada pesan, nia harap harap cemas, hingga akhirnya teman kostnya datang

“Niaaaa, main yuk, lagi ngapain? Jangan sendirian terus laaaa” kata devi

“Eh ibuuk, Gak ada buk” jawabnya

“ ko terlihat murung, ada masalahkah ni?” Tanya devi

“ gak ada ibuk, hanya saja pesan dari mas tidak kunjung dapat balasan” jawab nia

“ sabar, mungkin masnya masih sibuk, atau ada kegiatan tuh di pondok, kalau ramadhan kan mungkin banyak mengajinya” kata devi mencoba menenangkan

“ mungkin ya buk” 

Devi adalah teman sekamar erna, mereka berdua berasal dari daerah yang sama, sebuah kota di selatan Banyuwangi, Muncar, pulang pergipun juga selalu bersama. Dia baik, diantara teman teman yang lain devi anak yang pendiam, meski diam dia juga punya cerita asmara yang terkadang sedih dan senang. Oiya, saking lemah lembut tutur katanya, keibuan sifatnya kami teman temannya sepakat memberi label “ibuk” padanya

Kebiasaan anak kost kalau pulang sekolah bila tidak main, ngerumpi, keluar atau apalah, hari ini karna cuaca begitu terik, ditambah ini bulan ramadhan mereka lebih memilih menghibur diri main kartu. 

Jarum jam menunjuk pukul 17.00, waktu berbuka hampir tiba. Ada yang membeli takjil, makanan, dan cemilan. Kami terbiasa pesan makanan di depot depan indomaret, di sebelah sekolah kami. Setelah berbuka selesai, kami bergegas menuju surau, adzan berkumandang, tanda waktu sudah masuk waktu isyak, nia bergegas pergi.

“Hari ini harus dapat shaf terdepan, jangan boleh kalah sama nenek nenek ya” gerutu Nia dalam hati

Alhamdulillah sesampainya di surau Nia tidak kebagian shaf depan, tiap shaf terdiri dari 3 jamaah perempuan, nia kebagian shaf kedua, tak apalah.

Alhamdulillah masih kebagian shaf kedua. Shalat isyak berlangsung seperti biasa? Dilanjut shalat ba’da isyak untuk masing masing jamaah yang menginginkan. Setelah shalat ba’da isyak, nia tidak sengaja melihat barisan jamaah laki laki, ada jamaah yang membuat hati nia bergetar, siapakah dia.

“ sepertinya itu mas, apa karna ak terlalu memikirkannya ya, sampai terbawa kesini” gerutu nia

Di surau kami, shalat teraweh terdiri dari 2 salam, tiap salam terdiri dari 4 rakaat, di antara shalat tarawih dan witir ada kutbah. Nia masih saja terus mencuri pandang ke arah yang sama, apa benar dia mas gerutunya dalam hati, tapi itu mustahil, jarak kami cukup jauh. Bertemupun hanya sekali itupun sebentar, mungkin fikiran dan batin ini terlalu berlebihan gerutunya. Seusai shalat tarawih kami bergegas pulang, sejenak nia melupakan gerutunya sedari tadi. Sesampainya di rumah kost erna bergegas buru buru ke kamar nia.

“Niaa, masmu ada di depan” kata erna dengan nafas ngosngosan 

“Ha, mana mungkin, bohong ya” tanya nia

“ ini lo mas very telfon, katanya masmu ada di depan surau, sana kesana” kata erna meyakinkan

Dengan tergesa gesa nia bergegas keluar rumah kost, memakai setelan baju putih dan jilbab putih. Warna putih sengaja ia pilih, karna warna putih kesukaan kekasihnya. sesampainya disana, ya benar ada mas duduk di atas papan di bawah pohon kismis. 

“Mas kapan kesini” sapa nia tanpa salam

“(Tersenyum) assalamualaikum umiiik. sini duduk dekat mas” jawabnya 

“Waalaikumsalam, Mas sekolahnya gimana ko kesini belum musim libur”

“Adek, di pondok itu awal ramadhan selalu libur, sekitar 1 mingguan, mas sempetin ke adek”

“Oiya ya, aduh jadi ngerepoti ya aku mas”

“Mboten, orang mas yang pengen kesini juga ko”

“Mas naik apa tadi? Pantes ya, ak dari tadi liyat ada jamaah yang mengganggu penglihatanku, gk biasanya juga, nyatanya itu samean mas” kenang nia

“(Tersenyum) cari minum yuk, haus” alihnya

Kita bertukar sapa berbincang kesana kemari, hingga akhirnya kami berpindah tempat ke depot seberang jalan.  (Aku lupa kita ngobrol apa saja)

Depot ini melihara kucing, kucing sering berseliweran tatkala pelanggan makan, tapi kami disini hanya minum, segelas teh hangat. Ada kucing lewat dekatku, sontak ak terkaget.

“Adek takut kucing?” Tanya mas terheran

“Hehe iya mas, matanya itu yang bikin takut, seperti mau menikamku” 

“Aduh sayang, jangan takut ya, tau gak, kucing itu hewan kesayangan nabi Muhammad saw, jadi mboten usah takut, bukan semua kucing tapi ya, hanya kucing yang memiliki ekor panjang dan melengkung” terang mas nanda

“Hehe iya mas” 

Tidak banyak yang kami obrolkan, nia yang pendiam lebih memilih mendengarkan celotehan kekasihnya.

“ baiklah, adek in sudah hampir jam 9 kurang 5 menit, adek balik, istirahat”

“ iya mas, mas bermalam dimana?” Tanya nia

“Bermalam disitu, (sambil menunjuk mushala) biar dekat sama samean” 

“Di surau sini? Tidak d rumah mas very mas? “ Tanya nia kembali

“Tidak mas very baru saja pulang, iya sudah adek pulang dulu nggeh, takut gerbangnya di kunci lo”

“Iya mas, aku pulang dulu pamit, assalamualaikum”

“Waalaikumsalam”

Nia kembali ke kostan, perasaannya campur aduk, berhari hari tidak ada kabar, tiba tiba muncul di depan mata, sudah pasti nia sedang berbahagia. Sesampainya di kostan, nia masih penasaran kabar kekasihnya, di ambilnya ponselnya, segera dia kirim pesan

“Assalamualaikum, mas lagi ngapain?”

“Waalaikumsalam, tidak ada adek, adek istirahat ya, supaya tidak telat sahurnya” 

Singkat padat dan jelas, bukan karna tidak mau di ganggu, tapi lebih dari itu, mas nanda berfikir tidak ingin mengganggu waktu nia beristirahat. Aneh bukan, ya begitulah mas nandan. Cara berfikirnya teramat dalam, buatku geleng geleng. Yang mengawali pesan siapa yang merasa terganggu juga siapa, terkadangpun salah ketik bisa jadi bomerang. Nah kalau ini bagian yang amat sensitif.

Waktu sahurpun tiba

Nia bergegas membeli makan sahur untuk mas nandan, sesampainya di surau, alih alih mas nanda menerima nasi bungkus dari nia, mas nandan menolaknya. Disitu campur aduk perasaan nia, ada apakah? 

“Mas belum sahurkah?” Tanya nia

“Belum”

“Ini kubawakan nasi bungkus mas”

“Lo ko adek repot repot, tidak perlu, mas sudah kenyang”

“Lo makan apa lo kan belm sahur”

“Sudah, seteguk air putih sudah bikin kenyang”

Nia melongo, kecewa juga si, karna pemberiannya tertolak

“Disini dingin dek, ak gemeteran semalaman”

“Hadu mas, kasiannya, terus pakai selimut apa”

“Ini jaket aja”

“Ko ndag bilang aku mas, kan bisa kukasih selimut”

“(Tersenyum) dingin menjadi selimutnya mas dek, sudah terbiasa begini, di gubug sudah terbiasa kedinginan”

“Hem”

“Adek belum sahur ? Sana keburu imsyak nanti lo”

Dalam hati biarlah tidak sahur, asalkan bisa bertegur sapa denganmu mas, tapi karna nia tidak akan pernah berani melawan, nia hanya menurut

“Iya mas, ak sahur dulu ya, samean sungguhan ndag mau makan ini” rayu nia

“Mboten adek, sudah buat adek saja, atau kasihkan teman adek”

“Baiklah ak balik dulu mas. Assalamualaikum “

“Waalaikumsalam “

Nia bersegera makan sahur, setelah selesai dia bergegas shalat subuh. Waktu berjalan sebagaimana mestinya. Hingga waktu berangkat sekolah tiba. Perjalanan menuju sekolah melewati depan surau, nia menengok, 

“sepertinya mas sudah tidak di surau lagi. Mungkin sudah di jemput mas very” gerutunya.

Sepulang sekolah nia melihat ponselnya, ada pesan masuk

“Assalamualaikum umik, umik, abi di rumah mbah (mbah adalah nama sebutan buat mas very) karna kedinginan yang sangat badan abi sedikit lemas, abi istirahat dulu disini” 

“Waalaikumsalam, itu kan abi, samean jadi gak enak badan kan, coba ngomong semalam, apalagi di tambah gak sahur” 

“Iya Mboten nopo umik, di buat istirahat nanti sudah enak an, abi istirahat dulu ya, sayang umiiiik 
assalamualaikum”

“Waalaikumsalam abiku sayang, cepet pulih kembali ya :)”

Waktu berjalan seperti biasa, hingga waktu berbukapun tiba, malam itu mas nandan tidak taraweh di surau dekat kostan nia. Selepas shalat teraweh, ada pesan masuk di ponsel nia

“Assalamualaikum umik, umik dimana, ikut abi yuk cari oleh oleh buat keluarga dirumah, abi tunggu depan gang ya”
 
“Waalaikumsalam iya abi, aku keluar”
Sesampainya di depan gang
“Mas sudah mau pulang? Ko sudah mau cari oleh oleh?”
“Iya bhebbyku sayang, waktunya harus di bagi-bagi, setelah liburan pondok di mulai mas langsung ke adek, sekarang waktunya mas pulang ke rumah, keluarga mas kan juga kangen, bukan samean aja yang kangen, mereka juga” 
Nia hanya tersenyum
“Yuk ikut mas cari oleh-oleh, dimana ya toko oleh oleh disini sayang?”
“Em dimana ya mas, ak juga tidak begitu mengenal daerah sini”
“Oiya, di deket terminal aja, mas kemarin sempet tau”

Kamipun bergegas menaiki motor. kala itu mas nandan meminjam motor mas very

“Adek pegangan ya, ko mas gemeter dek?”
“Eh,lo kenapa mas?” nia terkecoh
“Iya mas takut adek jatuh, mas gak pernah bonceng perempuan soalnya, pegangan jaketnya mas adeek”
“Eeh, baik mas”
 
Kamipun bergegas menuju toko oleh oleh yang dimaksud. Jarak toko oleh oleh tidak begitu jauh, sekitar 1km. Malam itu terasa kota Genteng jadi milik kami berdua, sementara waktu begitu cepat berlalu. Sesampainya di toko oleh oleh kami segera di sapa ibu ibu si penjual

“Malam mba mas, mau cari apa?” Sambutnya
“Ini bu cari oleh oleh” jawab mas nandan

“Adek, oleh oleh asli Banyuwangi apa?” Tanya mas nandan pada nia
“Em apa ya, in mas bagiak” 

“O bagiak, ini ada, ada beberapa ukuran, in oleh oleh khasnya sini, samean dari mana mas?” Tanya ibu toko
“Saya dari p… bu” jawab mas
“Wah jauh ya” ibu toko menimpali
“Hehe iya” jawab mas
“Mbanya juga dari p…?” tanya ibu toko
“Mboten bu, in mbanya asli sini, saya dateng kesini nyamperi mbanya” terangnya tanpa menberiku kesempatan menjawab
“Ooo iya ya” kata ibu toko

“Adek, mana lagi” tanya mas nandan menghancurkan lamunan nia
“Eeee apa ya” 

“In lagi mas oleh oleh khas sini, gak ada di kota P…, ini, itu, sebentar, saya amat amati mas sama mbaknya mukanya ko serasi, mirip, katanya kalau mukanya mirip itu berjodoh lo” sembari menunjukkan kue jualannya

Ak sama mas bengong, kala itu mas berada di belakangku, sontak kata amin terdengar jelas di telingaku, tak terdengar kata amin dari mulutku, mas langsung berucap 
“adek amiiiin” bisik mas di telingaku, di telinga sebelah kiriku 
“Iya mas amiiiin” nia tersenyum malu

“Adek mau apa buat teman teman di kostan?”
“Tidak perlu repot repot mas, tidak usah”
“Sungguhan”
“Iya mas”

Setelah memilih oleh oleh yang di maksud dan membayar total pesanan, mas nanda minta tolong pada ibu penjual

“Permisi bu, minta tolong fotokan bisa? Buat kenang kenangan bu”
“Oiya mas bisa sekali”
“Niki” Sambil menyodorkan kamera

📸 dua jepretan
(Itu menjadi foto pertama dan kedua kami yang terbingkai dalam satu frame)

“Terimakasih bu”
“Iya sama sama, hati hati di jalan, semoga kalian berjodoh soalnya serasi sekali di pandang”

“Amiiin”sahut kami berbarengan

Kami bergegas menaiki motor, tujuan selanjutnya pulang, di atas motor kami masih geleng geleng kepala

“Ko bisa ya dek ibu itu ya, kita serasi katanya”
“Iya mas, amiiiin ya mas”

Sepanjang jalan kami geleng geleng sambil mengulum senyum masing-masing. Motor melaju pelan, seperti ogah yang di tunggangi turun darinya. Tapi pelannya laju motor mengisyaratkan tanda perpisahan akan tiba. Kota Genteng amat indah malam ini, Genteng kota kami. Dan motorpun akhirnya menemukan ujung jalannya, mereka akhirnya sampai ke tujuan, kami berhenti di depan gang kostan.

“Adek, mas pamit ya, mas mau pulang, kasian abah umik nanti kalau mas gak cepat pulang, pasti mereka kuatir” mas nanda mengawali pembicaraan, menghancurkan senyum sedari tadi, di malam yang makin sunyi. Genteng kami menjadi sendu kembali, mengisyaratkan untuk memupuk rindu kembali, rindu yang panjang, entah sampai kapan rindu ini akan habis, kembali rindu, habis kembali. 

“Iya mas, mas pulang malam ini?” Tanya nia lirih
“Iya adek, insyaallah sebelum sahur mas sudah sampai. Bentar lagi minta anter mbah ke terminal” terang mas
“Nggeh punan hati hati di jalan ya mas, kabari kalau sudah sampai, ak minta fotonya nanti ya mas, foto kita 😊” nia mencoba tegar
“Oiya nanti sesampainya di rumah ya, ya sudah mas pamit, assalamualaikum” jawab mas
“Waalaikumsalam” nia mengulurkan tangan mengisyaratkan salim, dan maspun mengulurkan tangannya pula. Salim cium tangan, entah kapan itu menjadi kebiasaan kami, tanpa aba aba tanpa awal dan tanpa basa basi. Malam itu kami berpisah di gang kostan. Ak kembali ke kostan sementara mas bergegas pulang.

Tahun demi tahun berganti,  tiap bulan Ramadhan tiba, nia selalu teringat mas nandan, selalu berharap, diantara shaf jamaah laki laki selalu ada kekasihnya, membersamainya shalat tarawih bersama. Nia sangat mengagumi bulan ramadhan, bukan hanya karna doa doa di tiap malamnya, tapi kini nikmat itu bertambah, bahwasanya bulan Ramadhan adalah bulan bagi mereka berdua yang selalu nia harapkan akan terulang kembali.

Ujian Akhir Semester

Siapa tidak kenal dia. Anak baru, ketika upacara hari senin, dia menjadi sorotan puluhan mata memandang karna baju yang dikenakan. Mulanya nia sekolah di sma negeri di kotanya berbarengan dengan mondok di pesantren. akibat sakit sakitan, nia dipindahkan ke sekolah di kota sebelah, SMA MUHA. Kala itu waktu menjelang ujian tengah semester di sekolah barunya, nia harus mengejar ketertinggalannya. Untung teman sekelas, kostan dan walikelasnya sangat baik, membimbingnya dengan perlahan. Di kostan, nia mendapati teman semasa SMPnya. Ada beberapa yang dari kota timur, selatan, berbagai kota berkumpul di kostan ini. Kostan flamingo. 

Hari berjalan dengan semestinya, masa SMA, masa dimana mengenal apa itu cinta, kedewasaan, tanggung jawab, menjadi mandiri, begitupun nia dan teman teman sekolahnya.

Sma Muha, seperti layaknya SMA pada umumnya, penjurusan dimulai dari kelas 2. Disini terdiri dari 3 jurusan, IPA, IPS dan Bahasa. Jurusan IPA dikenal menjadi sarangnya anak anak pintar, sementara IPS menjadi jurusan buangan, dan bahasa menjadi kelas paling minor. Tapi ketahuilah ketika kita sudah lepas dari masa SMA itu semua tidak penting, yang terpenting itu malah, apasih sebenarnya yang kalian minati, kalian unggul di mana, yang kalian tekuni apa, yang membuat enjoy ketika belajar apa. IPA IPS dan Bahasa semua sama. Hingga tibalah pada ujian akhir semester sekaligus penentuan siswa a siswa b masuk jurusan apa. Sementara nia, pemikiran yang masih kolot dan takut di cap anak tidak rajin, dia memilih jurusan IPA. Hanya demi terlihat rajin dan pintar. Sebenarnya yang dia sukai Geografi dan Sejarah, itupun dirasa ketika dia sudah mulai melihat dunia luar. Ah penyesalan emang tempatnya di akhir cerita. Hingga akhirnya tibalah pada waktu ujian penentuan jurusan dan akhir semester. Hari pertama ujian nia mendapati pesan masuk dari nomor yang tidak di kenal

“Semoga sukses UASnya” nia yang tengah bergegas berangkat sekolah membalas seadanya

“Siapa” tidak ada balasan

Hari kedua

“Semoga sukses UASnya” hari kedua dengan nomor yang sama dan pesan yang sama, misterius sekali pikirnya, mungkin teman sekelasnya yang iseng mengiriminya pesan

“Ini siapa ya” tidak ada balasan

Pesan itu berulang sampai hari terakhir UAS.

Hingga suatu malam.

“Assalamualaikum, maaf mengganggu, ini benar nia?”

“Waalaikumsalam, Iya, ini siapa?”

“Perkenalkan sya temannya veryl, kemarin sudah ijin minta nomornya….” (Kita rajin bertukar pesan, meski tidak sering)

Dia memperkenalkan dirinya dengan sopan. Bercerita kenapa sampai tertarik dan ingin mengenal nia. Dan memberanikan diri meminta nomor ponselnya. Tidak sering mereka bertukar pesan, niapun beranggapan mungkin teman yang sengaja singgah, nantipun bakal hilang seperti yang sudah sudah. Nia memanggilnya mas i

Waktupun berlalu, Hingga suatu malam setelah shalat isyak erna teman kostnya  menghampirinya di kamar,

“Nii, ada mas i… di depan” kata erna setengah berteriak 

“Sungguh? bohong ya” tanya nia

“ ini lo mas very telfon, katanya masmu sama mas very di depan, ayok”ajaknya. Di depan yang di maksud di depan gang kostan kami

Kamu mengenakan baju gamis coklat muda kekuning kuningan dengan pecinya, sepertinya baru turun shalat isyak di surau dekat kostan tempat nia tinggal. Kamu duduk di atas papan di bawah pohon kismis. 

“Mas, “ dengan suara tertahan

“Iya sini duduk” melihat nia sebentar kemudian menunduk, seperti menjaga pandangan

“Mas kapan kesini” Sapa nia tanpa salam

“Assalamualaikum adek, “ dengan masih menundukkan kepala, nia terheran, ada salahkah dirinya

“Waalaikumsalam” 

Lama mereka terdiam, mobil berlalu lalang. Menjadi saksi kebisuan diantara keduanya. Sesekali angin bertiup, menyibak keheningan malam. Orangpun berlalu lalang, karna tempat mereka duduk adalah trotoar di pinggir jalan, tempat singgah penumpang ketika menunggu bus datang. Nia kebingungan mau memulai pembicaraan. Sementara lelaki disebelahnya, seperti ada sesuatu yang ingin di sampaikan, hingga beberapa menit kemudian, mas i memulai percakapan 

“Adek tiap hari kalau keluar begini?” Masih dengan menunduk

“Iya mas, kenapa mas” nia belum menyadari arah pembicaraan yang di maksud

“Adek….coba liyat dia” Lina, teman sekolah nia keluar dari rumah kost, dia tengah berjalan menuju depot, sambil melihat memandang ke arah kami dan tersenyum pada nia. 

“Itu teman adek?”

“Iya mas”

“ adek…. Adek tidak melakukan apa yang mas suruh? Coba di renungkan, adek tau aurat? Adek tau batasan apa saja yang perlu di tutupi wanita? …adek tau mawar?…” tanpa basa basi arah pembicaraan mas tentang nia

Panjang penjelasan mas kala itu, kini giliran nia yang menunduk, perasaannya kacau, kaget, salah tingkah dan lain sebagainya. Ditengah menunduknya di kagetkan suara isyak tangis lirih di telinganya. Mas berbisik dengan sedikit tangis pilu. Nia sadar, ada perasaan yang berkecamuk kala itu, kecewa yang begitu dalam melihat dirinya. Pertemuan pertama mereka mengecewakan di hati mas nandan

“Adek kostnya ada jam malamkah?” Tanya mas nanda

“Iya mas, kostan di tutup jam 9 malam” jawab nia

“ baiklah, adek in sudah hampir jam 9 kurang 5 menit, adek pulang, istirahat nggeh, maaf kalau ada salah”

“ iya mas, mas bermalam dimana ?” Tanya nia

“Bermalam disitu, (sambil menunjuk mushala)” jawabnya

“Tidak apa apa kah mas?“ Tanya nia kembali

“InsyaAllah, nanti ijin dulu sama warga sini, dan takmirnya”

“Iya sudah mas, aku pulang dulu assalamualaikum”

“Iya Waalaikumsalam”

Nia pulang dengan menunduk, ada pesan yang tidak diperhatikan, nasihatnya sudah lama, tapi nia tidak begitu paham apa yang di maksud. Tapi malam ini, nia mulai melihat dirinya. Sesuatu paling dasar yang ada pada perempuan. Menjadi bunga yang berduri, indah, karna durinya yang tajam hingga kumbangpun enggan mendekat. Alhamdulillah ada lelaki yang mengingatkannya dengan sopan. Nia dikagetkan dengan pesan masuk tentang mawar. 

“Adek… jadilah bunga mawar yang indah berpagarkan duri. Jangan biarkan dirimu menjadi sembarang bunga yang indah tapi sayang tidak berduri. Tiada lagi benteng yang melindungi keindahan si bunga melainkan durinya yang melindungi tatkala didekati sang kumbang….”

Keesokan harinya pun tiba. Saat bergegas berangkat sekolah Nia menghampiri mas nandan kembali di surau, berpamitan. Dari kejauhan ia dilihat, berbeda dari hari semalam, tanpa berkedip tanpa bersuara, dah disambutlah dengan senyuman lebar,

“Nah, kalau pakai jilbab kan cantik, cantik lo adek, adem liyatnya” sambut mas nanda

Nia tersipu malu

“Nia sekolah dulu ya mas” pamit nia 

“Iya hati hati adek sayang, mas bentar lagi ke rumahnya mbah very, oya mau ku kasih parfum kesukaan mas?”

“Mau mas” sambil mengulurkan parfum belagio merah

“Terimakasih mas, iya sudah mas aku sekolah dulu, assalamualaikum ”

“Waalaikumsalam “

Dagdigdug hati nia bergetar, senang bahagia, di kelas bukannya konsen dengan pelajaran, nia lebih konsen dengan hatinya yang berdegub kencang. Sepulang sekolah ditengoknya mas nandan sudah tidak di surau.

Ke esokan harinya, setelah pulang sekolah, ada pesan masuk

“Assalamualaikum, mas mau pamit adek, mas mau pulang, bisa keluar ke depan sebentar?” Bunyi sms dari mas nandan

“Waalaikumsalam nggeh mas” letih sedih kacau campur jadi satu begitu perasaan nia ketika melangkah ke gang depan kostan. 

“ hai adek, mas pamit dulu ya, semoga ada kesempatan bisa bertemu kembali, ini ada hadiah buat adek” kata mas nandan menyambut nia

Kalung dengan liontin berbentuk hati, tapi setengah, yang satunya kemana tebak nia, 

“ liontin ini di jaga ya adek, satu disimpan adek, satunya lagi di simpan mas” sambil tersenyum. 

“ semoga liontin ini dapat bersatu nantinya” imbuhnya

Nia masih terdiam, perasaan sedih gembira senang sayang cinta campur jadi satu.

“ adek jangan sedih, insyaAllah bila Allah mengijinkan, mas akan kesini lagi” tambahnya menghibur nia yang menunduk lesu.

“ baik mas, hati hati di jalan, naik apa mas?” Tanya nia

“Naik bis adek, sebentar lagi” jawabnya

“Aku ikut anter ya mas” pinta nia

“ jangan adek, kita berpisah disini saja nggeh” jawabnya

“ baik mas” nia menurut

“Adek sudah dapat pengumuman masuk jurusan apa?”

“Sudah mas, jurusan …”

“ alhamdulillah sesuai yang diinginkan ya adek, nggehpun mas pulang, pamit assalamualaikum “ 

“Waalaikumsalam mas, hati hati” jawab nia

Mas nandanpun pergi bersama temannya, nia lari ke rumah kost, mencari erna. Seperti hatinya tidak rela mas nanda pulang. Setengah terisak menangis dan ter engah engah nia berkata

“Erna aku minta tolong, mas sudah pulang, ak ingin melihatnya pergi, anterin aku, ku mohon”

“ ayo ayo”

Bergegaslah kami ke halte bus, di halte bus tidak ada mas nandan, kemudian nia berinisiatif menunggu di pinggir jalan agak jauh dari terminal bus, berharap masih bisa melambaikan tangan, meskipun itu mustahil.

Sesampainya di jalan, nia berharap cemas, semoga masih sempat melambaikan tangan pada kekasihnya. Beberapa menit kemudian Ada bus lewat, mendekat, padahal nia maupun erna bukanlah penumpang, akan tetapi bus itu tidak berhenti, dari kaca depan kondektur ada yang melambaikan tangan.

“Jangan menangis” sambil melambaikan tangan dan tersenyum

Iya itu mas nandan, nia menangis sejadi jadinya melihat lambaian tangan itu. Buspun melaju, nia kembali k rumah kost bersama erna. Di tengah perjalanan pulang ada kabar dari mas veryl, mas nandan tidak berhenti menangis mengingat nia, kusarankan untuk minum air nyatanya mas sedang berpuasa. 

“I puasa nazar, buat nia, i puasa saat tadi dapat kabar kalau nia masuk ke jurusan yang diinginkan”pesan mas very pada erna. Yang di sambugkan ke nia

“Allahuakbar”nia tidak berhenti geleng geleng, sedalam itukah perasaan mas nandan terhadapku

Hari demi hari berjalan sepertimana biasa, nia kembali dengan rutinitasnya, begitupun mas nandan, kembali dengan rutinitas pondok di gubugnya

Mungkin inikah yang dinamakan mukjizat atau petunjuk melalui hambanya yang penuh kasih, kamu yang hadir bagaikan anugerah, hingga sampai kini jilbab nia tidak pernah terlepas lagi.

Terimakasih 



Kinara gadis kecil




 Suatu pagi yang cerah di TK Tunas Mulia, ibu guru memberi tugas para siswa menceritakan apa cita cita mereka nanti. Ibu belum pernah memberi edukasi tentang apa itu cita cita.

Ibu : kaka cita-citanya apa?

Kinara : aku tidak tau, apa itu cita-cita 

Ibu : 🙂 cita cita itu keinginan, kalau sudah besar nanti kaka ingin menjadi dokterkah, gurukah, penuliskah atau apalah profesi

Kinara : apa si ibu, aku tidak ingin menjadi apa-apa, ak ingin bersantai

Ibu : 🥲 (sepertinya virus nobita sudah tertular). Kaka suka mewarnai dan menggambar ibu adek dan ayah?

Kinara : iya bu, 

Ibu : nah ituuu

Kinara : oya, mau mau jadi melukis 😊

Ibu : eee, iya boleh, baik baik nak, nanti kalau ditanya bu guru jawabnya?

Kinara : aku mau jadi melukis ,aha 😉

Ibu : mbatin (ayah ibumu tidak punya daya seni nak)

Itu kinara, si pendiam yang ingin menjadi pelukis, menggeser keinginan kuekueh yang ingin selalu bersantai 😑 kini yang selalu ditanyakan, 

Kinara : kapan lomba mewarnai lagi ibu? 

         …

Suatu siang kita bernyanyi 

Ost jumbo selalu ada di nadimu

Kinara : ibu ko menangis 

Ibu : ibu sayang kaka dan sayang adek

Kinara : kalau ibuk meninggal

Ibu: doain ibuk ya nak

Kinara : agar ibuk kembali

Ibu : supaya ibu masuk surga

Kinara : kalau ak meninggal? aku gak kira meninggal ya

Ibu : Allah

Kinara : bu, ibu kalau sudah besar mau jadi apa?

Ibu : haaa

Kinara: iya kalu sudah besar mau jadi apa, masak mie ya, bikin kopi?