Sore itu aku beranjak keluar dari kamarku dan tertuju pada televisi
di ruang tengah. Ketika itu salah satu saluran TV terputar acara reality show. Aku
tidak tau begitu pasti apa tema acara kali ini, yang ku tahu seorang anak kecil
sedang memanjat salah satu pohon jamblang. Dari cuplikan itu membuatku ingin
melihat acara reality show sampai akhir.
“Buah jamblang yang
sudah masak itu berwarna ungu, rasanya masam dan pohonnya curam. Hanya di waktu
bulan idul adha saja tanaman ini berbuah. Demi sesuap nasi untuk keluarnganya Andi
memberanikan diri memanjat pohon jamblang”, kata salah satu crew acara reality
show.
“Ditengah teriknya
mentari di siang hari Andi merelakan waktu istirahatnya untuk mecari uang, ajakan
bermain teman-temannyapun tak ia hiraukan” Tambah crew dengan suara yang sama.
Andi adalah anak berumur 10 tahun, ia tinggal bersama adik
dan ibunya. Adiknya berumur 5 tahun sedangkan ibunya berumur 35 tahun. Dua
tahun yang lalu ibunya divonis menderita kanker rahim dan tidak dapat beraktivitas. Sedangkan ayahnya sudah 5 tahun merantau dan hingga kini tidak pernah
pulang. Mengalami keadaan ini, mau tidak mau Andi yang menjadi anak sulung di
keluarganya harus menghidupi adik serta ibunya.
Berkat beasiswa dari sekolah Andi masih bisa menuntut
ilmu, Andi duduk dibangku kelas 4 SD di salah satu desa di Bandung. Sepulang sekolah
Andi memiliki rutinitas, yakni mencari uang dengan cara mencari keong di sawah
dekat rumahnya. Dulu, sebelum ibunya jatuh sakit, beban Andi berkurang. Ibunya sering
membuat tempe goreng yang bakal dijual di warung-warung dan lebihnya di jual
keliling desa, namun kini melihat kondisi ibunya yang tidak dapat beraktivitas
Andi memiliki tanggung jawab penuh untuk memberi penghidupan keluarganya.
Pada saat idul adha Andi memiliki rutinitas tambahan, yakni memetik
tanaman jamblang dihutan, selebihnya ia biasa mencari keong emas yang tersebar
di sawah. Hasil kerjanya itu biasa ia jual di pasar. Terkadang ada saja yang
menyeloteh jualannya tidak terlihat segar dan dibeli dengan harga dibawah harga
pasar. Apabila buah jamblang dan keongnya tidak habis dijual ia tdak putus asa,
Andi kembali menjualnya dipinggir jalan raya. Terkadang ada juga yang membeli, akan
tetapi apabila jualannya tidak habis terjual, terpaksa jualannya diolah untuk
makan pada hari itu juga. Sering juga Andi dan keluarganya menerima belas kasihan
dari tetangganya berupa makanan dan baju bekas.
Di malam harinya Andi selalu menyempatkan diri ke langgar
untuk belajar mengaji bersama teman-temannya.
Ritunitas ini Andi lakukan tiap hari sepulang dari menuntut
ilmu.
Coba di renungkan. Sampai kapan kita akan membuang-buang
waktu, tenaga, uang hanya untuk hal yang tidak berguna, hanya untuk memuaskan
diri, dan ketika puas kita bakal lupa akan nikmat yang diberikan sang Illahi. Apalagi yang sering membuang-buang makanan. Sudah
banyak kisah hidup yang menceritakan kisah serupa yang dialami Andi. Yuk buka
mata dan hati kita.
Mari berbedah diri J