Bola

Suara itu terdengar renyah. Terdengar nyaring di tiap ruangan, apalagi di  ruanganku. Suara gemericik air, jangkrik, tawa, bicara, nada marah, jengkel, semuanya berisik seperti suara lalat mengerubungi makanan. Kalau melihat waktu, ini hari sudah petang, malah-malah mendekati pagi. Namun di ruangan tempatku duduk semuanya berbeda. Di sini benda-benda serta aku semuanya memilih diam.

Dan aku memilih memperhatikan bolaku. Bola itu semakin lincah berlari, kesana ke mari. Beruntung bola itu bersedia lari, kalau dia diam, dia bakal membawa bencana besar. Tapi jujur bola itu buatku waswas. Bola itu semakin hari semakin mendekati benda hitam di sudut ruangan. Dan itu adalah masalah. Untung saja bola itu masih terkungkung bangun ruang bentuk segitiga, kalo tidak dia bakal menyenggol benda-benda seisi ruangan. Dan kalian tau apa artinya, ruangan bakal berantakan.

Suara lalat tadi sudah tidak terdengar, sepertinya mereka mulai memperkecil suaranya, atau membiarkan diri mereka masuk dalam dunia malamnya.

Dan aku tetap memilih terdiam, perasaan waswas tadi seketika hilang, lincahnya bola yang meloncat-loncatpun tak ku hiraukan. Aku memilih pasrah, biarlah bola itu tetap terus meloncat sesuka hatinya, aku tau ini adalah masalah, tapi sudahlah.

Resensi Novel "Autumn In Paris"


Judul                : Autumn In Paris
Penulis             : Ilana Tan
Bahasa              : Indonesia
Penerbit            : PT Gramedia
Tahun Terbit     : Juli 2007
tempat Terbit    : Jakarta
Tebal                : 272 halaman
Ukuran             : 13 x 19 cm
 Gadis Paris

Aku tidak begitu ingat, sudah berapa lama aku meninggalkan dunia bacaku, memasuki dan menyelami tulisan penulis. Autumn In Paris karya Ilana Tan dapat membiusku serta membawaku menyelami kisah yang diangkat pada buku ini. Ilana Tan adalah seorang penulis, penikmat film, buku dan penggelut bahasa asing.  Autumn In Paris adalah buku keduanya. Buku pertamanya berjudul Summer In Seoul. Pada bukunya ini Ilana Tan tidak setengah-setengah membawa pembaca menyelami kisah hingga mengurai air mata.

Autumn In Paris, 
Novel ini menceritakan kisah cinta Victoria Dupont atau dalam novel dipanggil Tara. Tara adalah anak blasteran (Perancis-Indonesia). Tara menyukai Paris dan musim gugur, ia tinggal di Paris bersama ayahnya, dia bekerja sebagai penyiar radio di salah satu radio terkenal di Paris. Sampai pada suatu ketika ia bertemu dengan Fujisawa Tatsuya, rekan kerja sahabatnya. Fujisawa Tatsuya adalah seorang arsitek yang bekerja di Paris. Ia adalah orang berkebangsaan Jepang yang sangat membeci Paris dan musim gugur. Namun pertemuanya dengan Tara merubah semuanya, ia jadi menyukai Paris dan musim gugur. Pertemuan yang bermula dari kebetuan menjadi pertemuan yang selalu direncanakan. Mereka sering bersama, berjalan dan menghabiskan waktu bersama menjelajah kota Paris, dari seringnya bersama mereka menyadari perasaan masing-masing. Dan pada suatu ketika sebuah masa lalu pahit kedua orang tuanya terkuak. Membuat keduanya berada dalam dilema yang mencekik. Mulanya mereka tidak menyadari bahwa mereka memiliki ayah kandung yang sama. Dan sampai pada suatu ketika mereka mendapati kenyataan itu. Mereka berada dalam dilema yang berkepanjangan. Berbagai cara mereka lakukan untuk melupakan keduanya, sampai pada suatu ketika Fujisawa Tatsuya mengalami kecelakan dan meninggal dunia.

Buku ini merupakan salah satu buku yang patut di baca. Iya, sangat dan sangat patut di baca. Banyak rona-rona kehidupan yang disiratkan penulis dalam buku ini. Mulai dari sisi romantis hingga komitmen. Meskipun sisi keromantisannya membuat pembaca cengeng, tapi di satu sisi, novel ini memberikan gambaran kehidupan untuk selalu ikhlas dalam menjalani hidup. Dan satu lagi, dari novel ini kita akan menyadari, apabila kita mencintai seseorang, tidak selalu kita bersanding dengan seseorang tersebut. 

Kelebihan :
-         Ending ceritanya sulit ditebak, sehingga membuat para pembaca penasaran dan buru-buru menyelesaikan kisahnya. Tulisannya juga menarik, membuat pembaca nyaman menikmati tiap kata.
      Kekurangan :
-         Ada beberapa kesalahan redaksional dalam sub bab 

Anyam-Anyaman Nyaman




Dua hari yang lalu (7 juni 2014) aku terbius dengan lirik lagu anyam-anyaman nyaman karya sujiwo tejo. Sudah dua hari ini aku mengulang lagu ini tiap waktu. Padu padan kata serta nada yang dipilih membuat lagu ini sangat nyaman didengarkan, apalagi menjelang mau tidur, heeeem, berasa tentram. Aku tidak tau apa arti dari lagu ini. Tetapi ada nada-nada yang membuatku berfikir ini adalah lagu yang menerangkan tentang nikah, mungkin. Nadanya membius jari telunjukku untuk memutar tombol play pada handphoneku tiap waktu.

Awalnya lagu ini tidak begitu asing ditelingaku. Sering teman-teman persku memutar lagu ini, namun tak menggugah hatiku. Tapi kemarin, di sebuah ruangan berukuran 5x4 meter dengan suasana ruangan yang berantakan dan bau aku mendengarkan lagu ini dengan posisi badan terlentang sambil melihat langit-langit ruangan. Aku mendengarkan dengan seksama dan langusng ada fiil, oh meeen, heeeem. Dari situ aku mulai bertekad mengumpulkan lagu-lagu sujiwo tejo :D.

Satu lagi,
Kata-katanya yang menarik juga membuat saya penasaran, apa sih arti lagu ini. Ini lo liriknya

Anut runtut tansah reruntungan 
Munggah mudhun gunung anjlog samudra 
Gandheng rendhengan jejering rendheng 
Reroncening kembang 
Kembang temanten 

Mantene wus dandan dadi dewa dewi 
Dewaning asmara gya mudhun bumi 
Ela mendhung, bubar mawur, mlipir-mlipir, gya sumingkir 
Mahargya dalan temanten 
Dalanpun dewa dewi 

Swara trompet, ting celeret, arak-arak, sigra-sigrak, 
Datan kendat, anut runtut, gya mudhun bumi...

Coba tengok


dua jam yang lalu kakaku tiba di rumah. Spontan aku langsung pamer lagu sujiwo tejo ini, dan tanggepanyya hanya " itu lo lagu lawas" dengan muka datarnya.
aku tak mau kalah "selera itu tak ada selang waktu kakaaaak" sambil mencibir dan berlalu ke kamarku

Sebuah Reality Show

Sore itu aku beranjak  keluar dari kamarku dan tertuju pada televisi di ruang tengah. Ketika itu salah satu saluran TV terputar acara reality show. Aku tidak tau begitu pasti apa tema acara kali ini, yang ku tahu seorang anak kecil sedang memanjat salah satu pohon jamblang. Dari cuplikan itu membuatku ingin melihat acara reality show sampai akhir.

 “Buah jamblang yang sudah masak itu berwarna ungu, rasanya masam dan pohonnya curam. Hanya di waktu bulan idul adha saja tanaman ini berbuah. Demi sesuap nasi untuk keluarnganya Andi memberanikan diri memanjat pohon jamblang”, kata salah satu crew acara reality show.
 “Ditengah teriknya mentari di siang hari Andi merelakan waktu istirahatnya untuk mecari uang, ajakan bermain teman-temannyapun tak ia hiraukan” Tambah crew dengan suara yang sama.

Andi adalah anak berumur 10 tahun, ia tinggal bersama adik dan ibunya. Adiknya berumur 5 tahun sedangkan ibunya berumur 35 tahun. Dua tahun yang lalu ibunya divonis menderita kanker rahim dan tidak dapat beraktivitas. Sedangkan ayahnya sudah 5 tahun merantau dan hingga kini tidak pernah pulang. Mengalami keadaan ini, mau tidak mau Andi yang menjadi anak sulung di keluarganya harus menghidupi adik serta ibunya.

Berkat beasiswa dari sekolah Andi masih bisa menuntut ilmu, Andi duduk dibangku kelas 4 SD di salah satu desa di Bandung. Sepulang sekolah Andi memiliki rutinitas, yakni mencari uang dengan cara mencari keong di sawah dekat rumahnya. Dulu, sebelum ibunya jatuh sakit, beban Andi berkurang. Ibunya sering membuat tempe goreng yang bakal dijual di warung-warung dan lebihnya di jual keliling desa, namun kini melihat kondisi ibunya yang tidak dapat beraktivitas Andi memiliki tanggung jawab penuh untuk memberi penghidupan keluarganya.

Pada saat idul adha Andi memiliki rutinitas tambahan, yakni memetik tanaman jamblang dihutan, selebihnya ia biasa mencari keong emas yang tersebar di sawah. Hasil kerjanya itu biasa ia jual di pasar. Terkadang ada saja yang menyeloteh jualannya tidak terlihat segar dan dibeli dengan harga dibawah harga pasar. Apabila buah jamblang dan keongnya tidak habis dijual ia tdak putus asa, Andi kembali menjualnya dipinggir jalan raya. Terkadang ada juga yang membeli, akan tetapi apabila jualannya tidak habis terjual, terpaksa jualannya diolah untuk makan pada hari itu juga. Sering juga Andi dan keluarganya menerima belas kasihan dari tetangganya berupa makanan dan baju bekas.

Di malam harinya Andi selalu menyempatkan diri ke langgar untuk belajar mengaji bersama teman-temannya.
Ritunitas ini Andi lakukan tiap hari sepulang dari menuntut ilmu.

Coba di renungkan. Sampai kapan kita akan membuang-buang waktu, tenaga, uang hanya untuk hal yang tidak berguna, hanya untuk memuaskan diri, dan ketika puas kita bakal lupa akan nikmat yang diberikan sang Illahi.  Apalagi yang sering membuang-buang makanan. Sudah banyak kisah hidup yang menceritakan kisah serupa yang dialami Andi. Yuk buka mata dan hati kita.


Mari berbedah diri J

Dimana ?


Tidak mudah mengenal dirimu
Seperti menekuni jalan dipadang pasir
Atau seperti menekuni lorong di labirin
Yang kemudian...
Tersesat

Iya, aku mulai tersesat
Bingung menentukan arah
Dimana kamu?
Aku menantimu diujung jalan persimpangan labirin
Tapi... kau tak juga datang

Dari jauh aku melihat panah
Aku mereka itu petunjuk jalanmu
Ku telusuri, namun...
Aku tersesat lagi
Dimana kamu?

                                                                                      8.44 am, 10 Jan. 14