Dokumen Pribadi

Ikhlas memang sulit, akan tetapi keegoisan yang dikubur pelan-pelan itu pastilah membuahkan hasil dan bonusnya adalah teman baru

Jum’at malam (10/10) aku dengan kekasihku merencanakan berpiknikria, mauku hanya berdua saja, tanpa diganggu makhluk asing. Kami memilih hari minggu sebagai hari pemberangkatan. Mengenai lokasi, aku mengusulkan ke Kawah Wurung, sekaligus menagih janjinya mengajakku berkunjung kesana beberapa bulan lalu. Kawah Wurung adalah salah satu wisata alam yang berada di Bondowoso. Sepengetahuanku Kawah Wurung adalah sebuah savana luas yang masih asri, tidak banyak kaki manusia yang menginjakkan kakinya di sana.
Malam harinya (jum’at malam) aku sudah mengimpikan bakal melihat kota Bondowoso di atas ketinggian entah berapa dpl (diatas permukaan laut).
                                                            ***
Keesokan harinya (sabtu) pagi sekali, aku dikejutkan dengan pesan singkat yang berbunyi,
Ak mw k ... yang.(sensor)
Dengan perasaan kesal yang tiba-tiba muncul aku balas begini,
Lalu rencana jalan-jalan kita? Batal?
Hanya di balas
Gtw
 Itu saja, lalu dia menghilang berjam-jam
Tak ada tanggapan darinya membuatku mengeluarkan sumpah serapah berulang kali. Siang hari kekesalanku semakin memuncak dengan adanya UTS dadakan salah satu mata kuliah yang kutempuh. Panjang lebar sumpah serapah ku lontarkan tetap saja tidak meredakan kekesalanku. Hingga UTS usai tepatnya pukul 3 sore, ada pesan singkat di Hp bututku, begini,
Dimana yang? Aku g jdi ikut ini.
Senyum lebar tersungging di bibirku, namun seketika sirna bersamaan dengan rasa bersalahku. Semakin ku pikirkan, rasa bersalah itu semakin mendominasi. Tanpa menunjukkan rasa bersalah sepeserpun aku balas pesannya (kalau saja pesan itu aku baca, pastilah terdengar sinis) begini bunyinya,
Kenapa gak ikut?
Itu saja dan tidak ada respon lagi, kekesalanku seketika sirna, rasa bersalah makin memuncak saja, hingga ku putuskan untuk menelvon.  Aku rasa tidak perlu ku tulis apa isi percakapan dalam pembicaraan jarak jauh itu. Dari nadanya berbicara seolah-olah aku tidak pernah melontarkan sumpah serapah, tidak ada rasa kesal atau apalah. Dia hanya meminta bertemu saat itu juga, tanpa ada basa basi. Demi menutupi rasa bersalahku sikap acuh tak acuh masih saja menjadi tameng wajahku. Kita sepakat bertemu dan dia menjemput di kostku. Membayangkan bagaimana pertemuanku dengannya membuat batinku merinding, mungkin bakal terjadi cekcok lagi seperti yang sudah-sudah.

Pukul 16.00 WIB dia sampai di depan gerbang kostku, memandangnya dari kejauhan melelehkan sikap acuhku, aku menyambutnya dengan senyuman manis, tidak lagi acuh yang kurencanakan, dia juga J . Sepanjang perjalanan, tidak sedikitpun dia menyinggung sumpah serapahku. Aku meramalkan apa yang dia fikirkan, begini,
wajar sajalah wanita, memang begitu, sesekali perlu dimanja.
Namun aku tidak ingin lama-lama larut dalam rasa bersalah, tanpa basa basi aku lontarkan semua kekesalan serta rasa bersalahku. Panjang lebar kubercerita tangganpannya hanya dua kata,
“sudahlah, lupakan” diakhiri dengan senyuman.
Hari itu ceritaku dengannya berakhir masih dengan kesepakatan akan mengunjungi KW (Kawah Wurung) keesokan ahrinya dengan jam pemberangkatan pukul 7 pagi.
                                                                        ***
Minggu pagi aku bangun agak kesiangan, kesiangan untuk shalat subuh, J. Pukul 6 pagi tidak ada kabar apapun darinya, perasaanku waswas, sepertinya jadwal pemberangkatan yang disepakati  tidak berlaku. Kalau berangkat kesiangan bakal batal pikniknya, maklum jarak tempuh yang lumayan jauh.Tanpa basa-basi ku hubungi saja dia, sekaligus mencari kepastian sadar tidaknya dia dari nina boboknya semalam. Perasaanku lega karna ada balasan, meski hanya callme. Setelahnya, demi menyingkat waktu aku pamit mengerjakan tanggung jawabku sebagai penghuni kost, sekaligus mempersiapkan diri.

Setelah menyelesaikan pekerjaan kostku aku hubungi dia lagi, untuk memastikan apakah dia sudah siap betempur dengan jalanan. Sebelum sempat mengetik pesan, ada satu pesan dari number tidak dikenal, begini,
 Yang, diajak ke pantai naik mobil in yang, ke Payangan, mau?
Ternyata si pengirim adalah kekasihku, dari baunya, sepertinya rencana jalan-jalan berdua sudah berada di ujung tanduk. Dan dari padu padan kata dalam pesannya, sepertinya dia ingin membatalkan rencana ke KW (Kawah Wurung). Masih dengan sikap menyembunyikan egoku ku balas begini,
Sama siapa saja yang?
Dari ramalanku membaca pesannya, rasanya sama sekali tidak ada kecurigaan aku bakal keberatan dengan ajakannya. Karena dengan santai dia balas begini,
Sama teman-teman kostku dan wanita-wanitanya
Masih dengan menyembunyikan sikap egoku, aku balas dengan kata-kata yang dia bakal beranggapan bahwa aku baik-baik saja dengan tawarannya, begini,
Terserah sudah yang, aku ngikut saja.
Sudah, itu percakapan terakhir kita, kemudian dia menghilang, layaknya tidak ada fikiran aku sedang dalam posisi terpaksa. Aku menunggu sampai tertidur, kira-kira 30 menit lebih aku terlelap. Sebangunku ku telvon dia, jam pemberangkatan ke Payangan pukul 9 pagi katanya. Baiklah, aku menyabarkan diri menunggu dan memupuk keterpaksaanku, namun hingga pukul 9 masih saja tidak ada kabar. Bila aku tetap diam rasanya piknik yang direncanakan hanya akan terwujud di angan-angan saja. Aku menelvon, katanya masih belum ada kejelasan bakal berangkat jam berapa, dan aku tidak begitu tau apa alasannya, karena jengkel yang mulai muncul aku putus sambungan telvon secara tiba-tiba.

Maka dengan keputusan sepihak aku kirim pesan singkat berisi beberapa opsi lokasi wisata, otomatis dengan aku memberikan opsi lokasi wisata, batallah sudah rencana ke Payangan. Aku merekomendasikan beberapa tempat untuk dikunjungi, dan dia memilih yang berlokasi di Banyuwangi. Kita sepakat berangkat pukul 10 pagi. Setelah bertemu aku mengorek apa penyebab batalnya ke Payangan, dan salah satunya karna aku yang tidak sabar menunggu. Ouuh, lagi, aku memberantalkan semua rencananya, kali ini bukan hanya rencananya, melainkan rencana rekan-rekan kostnya. Namun sebelum aku berbicara panjang lebar, dia bilang, batalnya piknik di Payangan diganti dengan opsi lain, yaitu masak bareng. Perasaanku mulai tidak nyaman ketika dia menyebutkan kata masak diikuti kata “bareng”. Aku terdiam.

Nyatanya kekhawatiranku terwujud, dengan rendah hati dan nada memohon dia mengajakku ikut serta masak dengan rekannya,dan membatalkan rencana awal piknik berdua. Sebenarnya aku sangat keberatan mengiyai permintaanya, itu juga karna aku sulit berbaur dengan orang baru. Dia menyadari sikap ketidakinginanku ikut serta, dan dengan taktiknya dia memunculkan mimik wajah yang mengingatkanku pada batalnya dua acara yang direncanakan, dimana aku berperan langsung dalam pembatalannya.

Dengan berat hati dan pembicaraan yang kian melebar akhirnya kuputusan menyepakati membatalkan rencana piknik kita. Itu artinya aku ikut serta masak dengan rekan-rekannya. Namun semua keputusanku bersyarat, janji mengunjungi KW (Kawah Wurung) harus segera ditepati.
                                                                        ***
Agen memasak kami beranggotakan delapan orang, empat laki-laki dan empat perempuan, mayoritas adalah sepasang kekasih. Namun salah dua dari kami tidak berpasangan.
“Kalau tidak menyempatkan berkumpul, maka kita tidak bakal kenal mbak”
Kata salah satu dari mereka ketika ku mulai bergabung dalam gerombolan. Aku hanya menanggapi dengan senyuman. Masak diawali dengan merekap masakan apa yang ingin di makan. Setelah bercekcok panjang mengenai jenis masakan dan bahan-bahannya, akhirnya salah satu dari kami berbelanja, dan yang lainnya mempersiapkan tata letak dapur manual.

Sesampainya bahan-bahan masakan, kita berlomba memunculkan kreativitas memasak masing-masing, ada yang menawarkan tumis sayur pakai tomat, ada yang menawarkan sambal mentah untuk lalapan, ada yang menawarkan sayuran di rebus sebelum ditumis, ada yang menawarkan mentumis ikan asin dan lainnya. Di tengah proses memasak yang paling membuat cekcok adalah perdebatan mengiris tempe berukuran jumbo, serta kesalahan memasukkan tepung bumbu. Tepung yang biasa digunakan sebagai lapisan luar ayam krispi dijadikan lapisan tempe, dan kesalahan itu tersadar ketika tempe sudah matang semua, akibatnya tempe tidak memiliki rasa apapun, alias hambar.

Di tengah memasak pastilah ada gelak tawa serta candaan yang membangun suasana. Salah satu dari mereka ada yang dipanggil Bapak RT, Bapak RW dan tetangga. Predikat Bapak RT dan Bapak RW itu muncul karena seringnya berdiam lama-lama di kost. Sedangkan predikat tetangga disandang untuk siapa saja yang jarang berdiam lama-lama di kost. Dan yang paling sering dibuli adalah salah satu dari kami yang tidak berpasangan. Dia adalah mahasiswa Politeknik Negeri Jember sekaligus yang paling muda umurnya diantara kami, dia menjadi bahan gunjingan dan penyejuk suasana.

Menu masakan yang banyak serta ketersediaan kompor yang hanya satu buah membuat proses memasak kami berjam-jam. Setelah berlama-lama mengencangkan ikat pinggang akhirnya terhidanglah beberapa menu berupa, tumis kacang dengan jagung, ikan asin, sayur lalapan, sambal, tahu serta tempe goreng hambar. Tidak lupa kerupuk dan minuman menjadi syarat ritual wajib dalam menu makanan. Seperti biasa kita memulai makan dengan berdoa, berdoa dipimpin oleh Bapak RW. Tidak hanya dalam posisi santai, dalam berdoapun masih ada saja candaan yang nyeletuk. Pembukaan doa dimulai dengan beberapa harapan seperti, harapan pertemanan serta hubungan yang baru menjadi abadi, serta dipertemukannya jodoh bagi salah satu bujang diantara kami (serentak kami tertawa), kemudian berdoa ditutup dengan doa makan menurut kepercayaan masing-masing.












Mondok

Nabi pernah bilang khairunnas anfa’uhum linnas, sebaik baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Terjawab sudah pertanyaanku dari dulu.

Pagi ini rencanaku berkunjung ke dosen pembimbing akademik  bersama rekan seperjuanganku. Tapi urung karena jam janji berkunjung sudah lewat. Dan artinya batallah sudah rencana kami. Aku memilih melanjutkan membaca kembali buku ketiga dari trilogi negeri 5 menara. Sudah cukup lama aku meninggalkan rentetan kisah apik Ahmad Fuadi. Setelah dapat setengah halaman membaca aku merasa iri pada karyanya, lalu ku raih saja laptop di bawah meja lipatku, aku ingin menenun kata lagi. Tapi aku bingung, aku mau berkata apa dalam tulisanku. Aku berhenti membaca di akhir bab 18 dengan judul antara Jakarta dan Bogor. Di akhir tulisannya ada percakapan antara si Alif dengan Dinara. Satu pertanyaan yang memompa semangatku sekaligus menjawab pertanyaanku bertahun-tahun lalu. Begini kutipan ceritanya,

“Bagaimana agar kita menjadi manusia terbaik?” tanyanya sambil melirik ke arahku. Hmm dia rupanya sedang mengujiku. Tidak soal. Ini pertanyaan yang sudah berkali-kali dibahas ketika aku masih di Pondok Madani.

“Hmm begini” kataku bagai memulai sebuah kuliah umum. Dua penumpang baru naik gerbong, kami menggeser tikar koran untuk memberi jalan.

“Kalau dipesantren kami diajarkan nasihat nabi yang bilang khairunnas anfa’uhum linnas, sebaik baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Nah bermanfaat kan bisa pakai apa saja yang kita punya. Bahkan tersenyum saja sudah manfaat untuk menyenangkan hati orang yang melihatnya. Manusia yang bermanfaat adalah manusia yang terbaik. The most succesful person,” jawabku.

Ternyata untuk menjadi manusia terbaik itu amat mudah, contoh kecilnya hanya tersenyum pada tiap orang, tapi senyum sapa, bukan senyum gila J. Membaca lagi kisah si Alif yang dipaksa mondok aku jadi teringat kisahku 5 tahun silam. Bedanya dengan cerita si Alif, disini mondokku inisiatif sendiri, tidak ada tendensi paksaan. Ceritanya akibat tidak diterima di salah satu sekolah favorit di kotaku aku ngotot tetap bersekolah disana lewat jalur mondok. Ya, serupa politik lah. Awalnya aku berkeyakinan bakal betah disana, hidup dengan para santriwati dari berbagi daerah, kurasa menyenangkan. Ada salah satu temanku dari Bali. Cerita pendeknya, dia bertekad mondok disini, dengan basmallah dia ingin merubah kebiasaan buruknya semasa di Bali. Ada juga yang dari pelosok desa Banyuwangi, dia memilih mondok disini karena pondok ini terkenal baik dimata keluarganya. Salah satu kakak tingkat pondokku juga ada yang mengenalku, katanya si ayahnya teman kerja ayahku. ada juga cerita yang serupa denganku. 

Hidup di pondok nyatanya memiliki aturan-aturan sendiri. Bagi anak baru sepertiku pola hidup seperti itu amat mengikat. Aturan-arturan di pondok lama-lama mengekang aku dengan beberapa rekanku. Satu persatu dari kami mundur. Memilih mengurungkan niatnya untuk belajar di pondok ini. Katanya kejadian ini tidak langka lagi di tahun ajaran baru. Tapi aku mencoba bertahan :D.

Tiga bulan sudah aku belajar dipondok dan sekolah yang kataku favorit ini. tapi kondisi badan dan batinku yang tidak kuat membuatku sering jatuh sakit, bandanku mengurus, mukaku kusut. Akhirnya aku dijemput ayah ibuku, satu minggu aku berada di rumah, dan kondisiku sudah membaik. Aku siap bertempur lagi dengan rekan-rekanku. Selang beberapa hari kondisiku menurun kembali, waktu itu ayahku sendiri yang menjemputku, ibuku di rumah mempesiapkan lahirnya adik baruku. Berhari-hari demamku naik turun. Ibuku yang tengah hamil 8 bulan kewalahan meladeniku. Setelah beberapa hari demam, ternyata aku terdeteksi terkena cacar, penyakit bintik-bintik yang tumbuh disekujur tubuh berisikan nanah. Tiap manusia bakal mengalaminya kata dokter waktu merawatku.

Cacar ini tumbuh disekujur tubuhku, perih bila kena sentuh. Kata dokter, cacar sengaja dikeluarkan supaya nantinya tidak terkena cacar lagi atau tertular dari penderita lain. Demi mengeluarkan serta menghilangkan benjolan berisi nanah ini, tiap harinya aku harus merelakan bokongku disuntik dua kali. Itupun selama seminggu. Banyangin, bokongku rasanya amat kaku.  Menginjak kehamilan yang ke 9 bulan ibuku tidak boleh sering-sering mengurusku, kata dokter, janin yang ada dalam perutnya takut tertular juga.
Aku diasingkan di ruangan yang berbau obat, sendiri pula. Sepulang kerja sesekali ayahku menengokku. Waktu itu di tengah siang, aku pura-pura tidur ketika ayahku menengok kondisiku, aku melihat dia duduk disebelah ranjangku, sembari mengelus rambutku yang kaku dan bau, beberapa hari aku tidak mandi, pantaslah rambutku kaku. Sesekali aku mendengar suara senggukan darinya, mataku menyipit, melirik, aku melihat di ujung mata ayah ada air yang mengalir, aku tau betul, ayah menangis, ingin rasanya aku buka mataku dan mengatakan aku tidak apa-apa dan tersenyum. Tapi aku sudah terlanjur pura-pura tertidur.
                                                                        ***
Dua minggu lamanya aku mengalami pengobatan. Bintik-bintik kecil berisi nanah ditubuhku sudah mengering. Tapi ada masalah lagi, ayah harus mencari obat mujarab agar bekas benjolan di sekujur tubuhku tak berbekas.  Saran dokter membeli obat bernama mederma. Karena pengobatanku hanya tinggal daerah luarnya saja dan itupun hanya mengoles bekas bintik-bintik yang mengering, aku diperbolehkan kembali ke pondok.
Dua minggu aku meninggalkan rutinitas pesantren dan sekolah. Sore itu rekan-rekanku berkumpul diteras depan asrama kami, mereka bersorak mengetahui aku berjalan menuruni mobil. “Nineng kembali” seru salah satu teman akrabku sembari mengajak teman-teman lain bergerumbul menyambutku. Hari terulang seperti biasa. Tak pandang dia sakit atau habis sakit, tugas piket di asrama harus tetap berjalan.
                                                                        ***
Kisah si Alif yang dipaksa mondok memiliki kesan yang amat baik. Dia punya tiga jurus mujarab dalam menghadapi hidupnya,
Man jadda wajada
Siapa yang bersunguh sungguh akan berhasil
Man shabara zhafira
siapa yang bersabar akan beruntung
Man saara ala darbi washala
siapa yan berjalan dijalannya akan sampai ke tujuan
Ikut sertanya di ekstra jurnalistik juga membuatnya menjadi penulis yang tidak dipandang remeh dimasyarakat. Coretan tintanya beruang kali menyelamatkan hidupnya dari kerasnya hidup dirantauan.

Sementara kisahku yang ngotot mondok memiliki cerita serupa dengan kawan-kawan yang memilih mundur dari pondok. Aku terus sakit-sakitan, seperti menjadi rutinitas tiap bulan akhirnya aku dipindahkan di salah satu sekolah swasta di sebelah kotaku. Badan kurus dan sakit-sakitan mereda. Bebarengan dengan pindahnya sekolahku, ayahku juga berpindah tugas di kota yang makin jauh. Yang awalya mengurus kebun kopi di daerah jember, kini beliau dimutasi di salah satu perkebunan teh di lumajang. Berunung rutinitas sakitku siuman. Di sekolah swata itu aku mencoba meraih keberuntunganku. Mengikuti ekstra baca puisi dan mading. Itupun cukup membantuku menjadi pede memampang tulisan di blogku saat ini :D.

Krisis Pede

Pernah merasakan gugup ketika akan berbicara?
Ketika akan mengeluarkan pendapat?
Atau ketika akan bertanya?

atau hanya sekedar bincang-bincang saja?

Ketika kalian merasa gugup dalam memulai pembicaraan, baik itu perbincangan comunication ala horizontal maupun ala vertikal, itu merupakan keadaan yang amat menyiksa. Keadaan semacam ini wajar memang. Akan tetapi melihat si gugup itu adalah seorang mahasiswa, itu bukan hal yang wajar lagi.


Baiklah, kita koreksi bersama.


Ketika kita ingin bicara tapi kita takut, tidak percaya diri dengan arah pembicaraan kita, kita takut mutu bicara kita rendah, kita takut dengan apa yang akan kita sampaikan tidak nyambung atau kebanyaan orang kota bilang miss comunication, itu merupakan salah satu penyakit. Penyakit itu dinamakan krisis pede. Yang dinamakan penyakit itu harus dan wajib disembuhkan. Ada beberapa trik menarik untuk mengatasi penyakit tersebut.

Trik pertama mengatasi krisis pede: kita bisa mulai dengan berbicara di depan kaca ataupun berbicara dengan cara direkam. Setelah itu koreksi, kalau menggunakan rekaman, kita bisa mendengarkan kembali perkataan kita. Kalaupun dari kaca, kita dapat melihat ekspresi muka kita. Utarakan semua yang ingin kalian utarakan, Dan dari situlah kita bisa menilai bagaimana arah bahasa kita sesungguhnya. Dari situ temukan titik kelemahan kita.
Trik yang ke 2 : banyak menulis, menulis disini tanpa ada coretan, stipo atau bahkan backspace . Mulailah menulis dengan otak kanan, biarkan otak kananmu mengalir dengan sendirinya, karena itu akan membuatmu mengerti olah bahasamu yang sesungghnya.
Trik yang ke 3 : carilah teman yang menurutmu mampu membimbingmu berbicara secara benar. Ajak temanmu sharing. Dan di akhir kamu bisa mengetahuinya dengan “ aku nyambung gak sih sama arah bicaranya”
Trik yang ke 4 : sering sering mengikuti diskusi, dengan mengamati cara bicara si pemateri maupun sipenanya, kita bakal menyerap olah bahasa mereka.
Trik yang ke 5 : perbanyak membaca. Dengan membaca kita akan menemukan kosakata baru, kita akan menemukan cara bicara baru. Itu bisa dijadikan referensi bicaramu. Ada satu kenyataan, semakin banyak kamu membaca, dengan sendirinya arah maupun logat bicaramu bakal sama dengan buku yang kamu baca
Trik yang ke 6 : sering-sering kumpul dengan teman yang memiliki arah bicara bagus
Inti dari semua trik diatas hanya satu. Perbanyak latih bicaramu, terutama dalam forum. Dengan banyak melatih bicaramu, kamu bakal kehilangan peyakit krisis pedemu. Kalaupun dalam forum arah bicaramu ditertawakan, jadikan itu sebagi lelucon.

Selamat mempraktekkan
  


Nenun


doc. nineng (salah satu suku adat di Mataram)
Menenun, adalah suatu kegiatan memadupadankan benang satu dengan yang lain hingga menghasilkan kain. Menurutku menenun sama halnya dengan menulis

Menulis, merangkai kata demi kata hingga menghasilkan kalimat yang mudah dimengerti.

Indahnya kain tergantung siapa yang menenun, tapi juga tak luput dari kreativitas si penenun, dan juga pastinya tidak mengenyampingkan keahlian.

Begitupula dengan kalimat, indahnya kalimat tergantung kreativitas si penulis. Yang harus mereka kantongi yakni pengalaman. Semakin banyak pengalaman si penenun, si penulis, maka kain dan tulisan yang mereka ciptakan bakal diacungi jempol.

Berbicara tentang kain dan tulisan membuat kita tergesa-gesa menancapkan gas ke depan laptop atau ke alat tenun. berbicara memang mudah, tapi untuk memadupadankan itu rumit. Kita kerap kali geleng-geleng heran, kenapa?



Jawabannya ada di Pengalaman 

Bola

Suara itu terdengar renyah. Terdengar nyaring di tiap ruangan, apalagi di  ruanganku. Suara gemericik air, jangkrik, tawa, bicara, nada marah, jengkel, semuanya berisik seperti suara lalat mengerubungi makanan. Kalau melihat waktu, ini hari sudah petang, malah-malah mendekati pagi. Namun di ruangan tempatku duduk semuanya berbeda. Di sini benda-benda serta aku semuanya memilih diam.

Dan aku memilih memperhatikan bolaku. Bola itu semakin lincah berlari, kesana ke mari. Beruntung bola itu bersedia lari, kalau dia diam, dia bakal membawa bencana besar. Tapi jujur bola itu buatku waswas. Bola itu semakin hari semakin mendekati benda hitam di sudut ruangan. Dan itu adalah masalah. Untung saja bola itu masih terkungkung bangun ruang bentuk segitiga, kalo tidak dia bakal menyenggol benda-benda seisi ruangan. Dan kalian tau apa artinya, ruangan bakal berantakan.

Suara lalat tadi sudah tidak terdengar, sepertinya mereka mulai memperkecil suaranya, atau membiarkan diri mereka masuk dalam dunia malamnya.

Dan aku tetap memilih terdiam, perasaan waswas tadi seketika hilang, lincahnya bola yang meloncat-loncatpun tak ku hiraukan. Aku memilih pasrah, biarlah bola itu tetap terus meloncat sesuka hatinya, aku tau ini adalah masalah, tapi sudahlah.

Resensi Novel "Autumn In Paris"


Judul                : Autumn In Paris
Penulis             : Ilana Tan
Bahasa              : Indonesia
Penerbit            : PT Gramedia
Tahun Terbit     : Juli 2007
tempat Terbit    : Jakarta
Tebal                : 272 halaman
Ukuran             : 13 x 19 cm
 Gadis Paris

Aku tidak begitu ingat, sudah berapa lama aku meninggalkan dunia bacaku, memasuki dan menyelami tulisan penulis. Autumn In Paris karya Ilana Tan dapat membiusku serta membawaku menyelami kisah yang diangkat pada buku ini. Ilana Tan adalah seorang penulis, penikmat film, buku dan penggelut bahasa asing.  Autumn In Paris adalah buku keduanya. Buku pertamanya berjudul Summer In Seoul. Pada bukunya ini Ilana Tan tidak setengah-setengah membawa pembaca menyelami kisah hingga mengurai air mata.

Autumn In Paris, 
Novel ini menceritakan kisah cinta Victoria Dupont atau dalam novel dipanggil Tara. Tara adalah anak blasteran (Perancis-Indonesia). Tara menyukai Paris dan musim gugur, ia tinggal di Paris bersama ayahnya, dia bekerja sebagai penyiar radio di salah satu radio terkenal di Paris. Sampai pada suatu ketika ia bertemu dengan Fujisawa Tatsuya, rekan kerja sahabatnya. Fujisawa Tatsuya adalah seorang arsitek yang bekerja di Paris. Ia adalah orang berkebangsaan Jepang yang sangat membeci Paris dan musim gugur. Namun pertemuanya dengan Tara merubah semuanya, ia jadi menyukai Paris dan musim gugur. Pertemuan yang bermula dari kebetuan menjadi pertemuan yang selalu direncanakan. Mereka sering bersama, berjalan dan menghabiskan waktu bersama menjelajah kota Paris, dari seringnya bersama mereka menyadari perasaan masing-masing. Dan pada suatu ketika sebuah masa lalu pahit kedua orang tuanya terkuak. Membuat keduanya berada dalam dilema yang mencekik. Mulanya mereka tidak menyadari bahwa mereka memiliki ayah kandung yang sama. Dan sampai pada suatu ketika mereka mendapati kenyataan itu. Mereka berada dalam dilema yang berkepanjangan. Berbagai cara mereka lakukan untuk melupakan keduanya, sampai pada suatu ketika Fujisawa Tatsuya mengalami kecelakan dan meninggal dunia.

Buku ini merupakan salah satu buku yang patut di baca. Iya, sangat dan sangat patut di baca. Banyak rona-rona kehidupan yang disiratkan penulis dalam buku ini. Mulai dari sisi romantis hingga komitmen. Meskipun sisi keromantisannya membuat pembaca cengeng, tapi di satu sisi, novel ini memberikan gambaran kehidupan untuk selalu ikhlas dalam menjalani hidup. Dan satu lagi, dari novel ini kita akan menyadari, apabila kita mencintai seseorang, tidak selalu kita bersanding dengan seseorang tersebut. 

Kelebihan :
-         Ending ceritanya sulit ditebak, sehingga membuat para pembaca penasaran dan buru-buru menyelesaikan kisahnya. Tulisannya juga menarik, membuat pembaca nyaman menikmati tiap kata.
      Kekurangan :
-         Ada beberapa kesalahan redaksional dalam sub bab 

Anyam-Anyaman Nyaman




Dua hari yang lalu (7 juni 2014) aku terbius dengan lirik lagu anyam-anyaman nyaman karya sujiwo tejo. Sudah dua hari ini aku mengulang lagu ini tiap waktu. Padu padan kata serta nada yang dipilih membuat lagu ini sangat nyaman didengarkan, apalagi menjelang mau tidur, heeeem, berasa tentram. Aku tidak tau apa arti dari lagu ini. Tetapi ada nada-nada yang membuatku berfikir ini adalah lagu yang menerangkan tentang nikah, mungkin. Nadanya membius jari telunjukku untuk memutar tombol play pada handphoneku tiap waktu.

Awalnya lagu ini tidak begitu asing ditelingaku. Sering teman-teman persku memutar lagu ini, namun tak menggugah hatiku. Tapi kemarin, di sebuah ruangan berukuran 5x4 meter dengan suasana ruangan yang berantakan dan bau aku mendengarkan lagu ini dengan posisi badan terlentang sambil melihat langit-langit ruangan. Aku mendengarkan dengan seksama dan langusng ada fiil, oh meeen, heeeem. Dari situ aku mulai bertekad mengumpulkan lagu-lagu sujiwo tejo :D.

Satu lagi,
Kata-katanya yang menarik juga membuat saya penasaran, apa sih arti lagu ini. Ini lo liriknya

Anut runtut tansah reruntungan 
Munggah mudhun gunung anjlog samudra 
Gandheng rendhengan jejering rendheng 
Reroncening kembang 
Kembang temanten 

Mantene wus dandan dadi dewa dewi 
Dewaning asmara gya mudhun bumi 
Ela mendhung, bubar mawur, mlipir-mlipir, gya sumingkir 
Mahargya dalan temanten 
Dalanpun dewa dewi 

Swara trompet, ting celeret, arak-arak, sigra-sigrak, 
Datan kendat, anut runtut, gya mudhun bumi...

Coba tengok


dua jam yang lalu kakaku tiba di rumah. Spontan aku langsung pamer lagu sujiwo tejo ini, dan tanggepanyya hanya " itu lo lagu lawas" dengan muka datarnya.
aku tak mau kalah "selera itu tak ada selang waktu kakaaaak" sambil mencibir dan berlalu ke kamarku