Gara gara “She’s gone”

Saya mengenal betul laki-laki itu, dia laki-lakiku, tapi dulu. Dari banyaknya rentetan nama pacar, dia cinta pertamaku. Dia mengajariku berbagai macam hal. Hanya saja, dia menyerah, karena jarak diantara kami yang cukup jauh, dia lebih merelakan aku bersanding dengan laki-laki lain. Sebut saja ia. Ia sudah lama mendekatiku, merecoki hubunganku dengan dia. Tapi aku tidak tergoda. Aku masih setia dengan dia. Dan higga saat ini rasa itu masih tersimpan rapi. Semacam buku dilan yang diakhir ceritanya bilang “aku mencintaimu, biarlah, ini urusanku, bagaimana engkau kepadaku, terserah, itu urusanmu”

Beberapa hari ini kotaku digegerkan dengan hijab. Pelakunya dia. Dia mengembara ke kotaku, entah kotaku saja yang disinggahi atau memang tiap kota disinggahi. Dia tidak sendiri, ditemani empat orang. Sepertinya mereka rekan kerjanya. Kata tetangga sebelah rumahku, dia sedang menjajakan barang wanita. Jilbab atau hijab. Entahlah aku bingung dengan kedua suku kata itu. Kata beberapa orang beda arti.

Siang itu dia tengah berkeliling ke tiap-tiap kampung dikotaku. Dengan menyinggahi lapangan yang dirasa cukup untuk menampung orang yang akan melihat. Pikirku Pede sekali. Siapa yang bakal melihat pameran hijab atau jilbab, entahlah apa namanya. Tapi nyatanya aku salah. Di siang bolong sewaktu aku berangkat menuju kampus, segerombolan ibu-ibu dan remaja putri berbondong-bondong ke tengah lapangan. Aku sempat diajak juga. Tapi aku menolak, karena aku tau betul, salah satu dari mereka ada kekasihku. Lebih tepatnya kekasih lamaku.
---
Sore hari aku diajak kekasihku dan kawannya menikmati kopi mang udin. Mang udin adalah penjual kopi, gorengan dan segala macam kawan-kawannya. Tempatnya cukup ramai, digandrungi para mahasiswa dan pegawai. Tempatnya strategis, dekat jalan raya dengan aliran sungai. Tempat yang sangat cocok untuk melepas penat di sore hari.

Di tengah-tengah perbincangan kami, laki-laki pejual jilbab itu datang. Masih bersama ke empat kawannya. Selayaknya pembeli yang lain, mereka memesan segala keperluan ngopi, lalu memilih tempat yang enak untuk bersandar. Aku kaget sekaligus terkejut. Mereka memilih bangku disebelah kami. Iya, kami, aku dengan kekasihku. Kalau saja ada kaca di depanku, mukaku pastilah terlihat merah. Merah karena malu. Bingung karena dia. Dia yang kini berdekatan denganku.

Dia menyapa, mau tidak mau kami harus menyapa balik. Kami bincang-bincang cukup lama, sampai yang namanya kopi dan segala kawannya lenyap di telan mulut. Di ujung kalimat dia meminta ijin untuk berbincara padaku. Aku mengiyakan, kekasihku mulai tegang. Dan dengan berat hati akhirnya mengiyakan dengan membisikkan berbagai macam persyaratan. Mungkin dengan nurut, rasa tegangnya bisa menurun. Aku hanya mengiyai.

Aku di ajak menjauh dari warung mang udin, menyusuri kali kecil yang masing-masing tepi kalinya dibangun pembatas sungai. Jadi kalau jalan diatasnya dibilang nyaman dan indah. Apa lagi waktu sore hari. Sinar mataharinya hampir sejajar mendekati aliran air. Menyebabkan air kalinya berwarna jingga.

Dia tanyak kabarku. Berbasa-basi cukup panjang. Jujur saja, aku bahagia. Bukan karena indahnya kali yang disorot matahari. Tapi karena dia, cinta pertamaku ada di sampingku, berjalan dan berbincang-bincang santai denganku. Dan kekasihku kini, sejenak aku lupa dia. Sejenak saja.

Akhirnya kami sampai di sebuah gubuk terbuka dengan papan nyangkut di salah satu ujung dindingnya. Beberapa warga mulai berdatangan. Aku mulai bertanya-tanya. Sekejap dia merasakan kebingunganku. Dengan isyarat mata dia memerintahku memperhatikan. Aku nurut.

Warga mulai datang, berdesak desakan. Berebut mencari posisi yang strategis untuk melihat. Aku masih diam, untung saja aku di barisan depan, jadi tidak menghalangi mataku untuk melihat apa yang akan ditulisnya. Dia mulai bicara

“saya disini dengan maksud menjual jilab untuk para ibu-ibu dan remaja putri. Kalian bisa lihat model-model jibab yang ada di majalah-majalah ini,” sambil menyodorkan majalah dengan tulisan besar disampulnya ‘NARU HIJAB’, warga hiruk pikuk saling berebut majalah. Dan aku, aku sudah memegangnya dari tadi.

“Untuk mendapatkan jilbab ini ada dua cara. Yang pertama membelinya dengan seharga lima juta rupiah per jilab. “ dia menekankan kata per. “ atau dengan ikut kompetisi sayembara untuk mendapatkan cinta saya”

Ha, aku melongo. Ternyata dia berkeliling bukan hanya menjajakan hijab, tapi juga untuk menyebarkan sayembara.

“sayembaranya di mulai selama tiga hari. Dengan langsung saja datang ke alamat Jln Kertosari No. 34 Mayang Jember. Tanggal sayembaranya yaitu tanggal 10 , 12, 15 oktober 2015. Untuk pemenang sayembara akan saya persunting jadi istri sekaligus dapat menikmati jilbab-jilbab modern karya naru hijab”

Warga saling hiruk pikuk. Berteriak bersemangat tidak sabar menantikan ketiga tanggal sayembara. Aku hanya melongo. Setelah pengumuman demi pengumuman diutarakan, warga lekas bergegas pergi meninggalkan gubuk dengan senyum sumringah dan harapan dapat lolos sayembara. Aku masih duduk melongo ke papan yang tertera tanggal. Di sebelahnya dia dengan ke empat kawannya berbincang-bincang entah membicarakan apa. Seketika aku terbersit pikiran untuk mengikuti sayembara.  Ingin, dan pasti aku satu satunya wanita yang akan berhasil. Lamunanku buyar seiring dering handphone. Kekasihku.

“halo, dimana?”

“ini masih bersama mas baron, di gubuk tepi kali, habis promosiin hijabnya”

“iya, cepat balik, ayo pulang”

“iya”

Seketika itu aku mau pamit. Tapi mas baron mencegah, dia masih ingin bincang-bincang. Setelah membereskan semua peralatnya, kami berbegas kembali ke warung mang udin.

“kamu ikut ya” katanya di tengah perjalanan

“ha?” aku belum paham arah pembicaraanya

“iya, kamu ikut sayembara, mau kan? saya berharap kamu ikut. Penentuan pemenangnya nanti aku sendiri “ katanya sambil senyum

Aku terperangah, senyumnya masih sama. Masih sama seperti tujuh tahun lalu “eh, liyat nanti saja deh mas” kataku asal nanggapi. Bingung mau bilang apa
“baiklah, saya tunggu”

Aku terdiam. Bingung mau menanggapi apa. Menutupi rasa bingungku, tanganku mencari kesibukan dengan menggulung-gulung majalah, memukul-mukulkan ke tangan kiriku, tapi pelan. Di perjalanan ke warung mang udin, entah rasa apa yang terbersit di benakku. Rasa yang sepatutnya harus ada apa rasa yang sama sekali tidak boleh ada. Satu kata ‘bahagia’. Sesampainya di warung mang udin aku segera pamit untuk pulang dengan kekasihku. Waktu berjalan seperti biasa.

Glodak, pintuku terbuka. aku memicingkan kedua mataku. Ah, sudah pagi kataku

“pagi niaaaaaaaaa, banguuuuun” kata teman sebelah kamarku menyambut pagiku. Lebih tetapnya bukan menyambut, tapi membangunkan.

Aku buka mata, melihat benda-benda samping dipan. Berantakan. Benar juga, aku semalam pulang larut malam. Akibat kopi, aku juga susah tidur semalam. Dan malam kuhabiskan membaca buku pinjaman teman.

........................................................................................................

Selesai, itu kisah hanya mimpi, mimpi yang janggal. Gegara baca “she’s gone”.


Dia Itu Aku

Aku. Aku adalah sosok yang selalu menjadi sorotan utama. Aku adalah orang yang selalu mempunyai nasib baik. Terkadang. Aku adalah orang yang dibanggakan. Terkadang. Aku selalu menjadi orang nomor satu. Aku selalu dicari kemana-mana. Sedikit saja aku menghilang, puluhan ribu orang mencariku. Aku. Aku pikir aku adalah orang yang egois. Maunya sendiri. Bertingkah sesuka hati. Tapi aku merasa sepi bila terlalu lama sendiri. Susah kadang. Aku tidak ingin diduakan dengan kamu ataupun dia, apalagi mereka. Karna aku bakal iri. Dan bagaimanapun, kodratku selalu semacam itu. Satu lagi. Ceritaku selalu baik, tapi terkadang juga buruk. Selalu antara keduanya.

Aku. Terkadang, aku dibanggakan. Terkadang aku di puja-puja. Terkadang aku disanjung. Terkadang aku diabaikan. Terkadang aku dibenci.Terkadang aku dicela. Terkadang aku dicemooh. Terkadang aku dimusuhi. Terkadang aku dihindari.

Aku. Kehidupanku selalu diumbar-umbar. Segala tentangku. Semuanya. Tentang kehidupanku. Percintaanku. Aktivitasku. Tiap detik yang kulakukan. Tiap detik yang kuperbuat. Tiap detik yang kupandang. Tiap detik yang ku sapa. Tiap detik yang ku sentuh. Tiap detik yang ku raba. Tiap detik yang ku injak. Tiap detik yang ku makan. Tiap detik yang kuhirup. Mandipun aku dibicarakan. Bertegur sapa dengan orang dibicarakan. Bercanda dengan orangpun dibicarakan. Bahkan mimpikupun juga.

Caraku menjalani hidup juga diumbar. Bagaimana caraku berkata. Bagaimana caraku bicara. Bagaimana caraku makan. Bagaimana caraku jalan. Bagaimana caraku duduk. Bagaimana caraku tidur. Bagaimana caraku berdiri. Bagaimana caraku berjalan. Bagaimana caraku mandi. Bahkan caraku kencing juga diumbar. Semuanya.
Ah aku. Aku bosan. Kehidupanku selalu seperti itu. coba jangan hanya aku yang dibicarakan. Coba jangan hanya aku yang dibanggakan. Coba jangan hanya aku yang di puja. Coba jangan hanya aku yang di katai. Coba jangan hanya aku yang dihujat.


Kalian tau. Itu sungguh tidak adil bagiku. Aku selalu bertanya. Kenapa selalu aku yang jadi tokoh utama dalam setiap buku. Iya. Dia itu aku.