Katanya, Bulan Sama Bintang


“Selamat malam bulan”, Kata bintang,
Bulan menoleh, sentak terkejut sambil berkata “masih disini?”
“Iya” katanya sambil tersenyum.
“Mau menemani saya ronda?” kata bulan

“Tidak, aku ingin disini, sebentar lagi pagi. Aku ingin menikmati sisa malam”

Save Our Eart


"LINDUNGI BUMI KITA" katanya. Sekumpulan mahasiswa Kota Jember menyelenggarakan event peduli lingkungan dengan aksi turun jalan dan membagikan tanaman jenis pohon-pohonan yang siap tanam. Event ini terselenggara demi memperingati hari bumi yang ke 44 tahun. Aksi turun jalan ini ber-start di kampus Universitas Muhammadiyah Jember dan finish di Bundaran Kampus Universitas Jember. Aksi turun jalan ini dibarengi pula dengan menyuarakan aspirasi dalam bentuk puisi di sepanjang jalan dan di Bundaran DPRD Kota Jember. Aspirasi Mahasiswa ini dibarengi dengan membagi-bagikan tanaman yang terbungkus polibag yang siap tanam ke para pengendara bermotor yang melintasi Bundaran DPRD Kota Jember.


Siapa?



Waktu malam  di kota kembang
Ini cerita antara aku dengan pertanyaanku
Di jantung kota kembang
Aku memulai dengan menjelajah kota
            Hembusan angin malam menyibakkan bau tak sedap menembus hidung
            Sembari didekati, bau itu semakin merajalela
            Dan aku mulai bertanya
            Bau masakan apa ini?
            Sudah jelas bukan seperti ini suasana malam dua tahun lalu
Malam makin menceritakan kejamnya kota
Rumah-rumah tertutup rapat
Kilaunya lampion-lampion tidak terlihat
Dan kota bagaikan kota mati
Aku kembali bertanya, kemana mereka semua?
Kota yang biasanya ramai dengan kilaunya lampion,
kini yang terlihat hanya gelap dimana-mana
Kota yang biasanya ramai dengan raungan mobil,
kini mobilnya berserakan tak terawat
Rumah yang biasanya ramai dengan manusia,
kini hanya tinggal ramainya suara jangkrik
Kota siapa ini?
Sesekali terdengar suara anak menangis memanggil “mama”
Dan setelah itu leyap
Aku mulai ragu, aku ini dimana?
Ini bukan kotaku, ini bukan desaku
            Perasaanku ingin berlari, tapi diri tak tau kemana
Tiba-tiba kera kemejaku digenggam  jari-jari hitam
Akupun ditarik... terseret... dan lemas
“Jangan berkeliaran di tempat ini,” bisiknya
“Masa bodoh, siapa kamu aku mencari keluargaku,” kataku
“Keluargamu sudah mati, disini hanya ada tikus-tikus yang lapar,” bisiknya
Aku mulai berteiak “Bicara apa kamu?”
Tiba-tiba tempat kita menjadi ramai
Segerombol orang muncul dari lorong-lorong sempit
Mengelilingi kami dengan senapan menjuntai ke arah kami
Lalu rekanku tadi berkata “dia temanku dari desa, bukan siapa-siapa”
Kemudian mereka pergi tanpa berkata apa apa
            Kini yang tersisa hanya aku dengan dia
            Dia yang terdiam dan ku tak tahu mengapa
            Dia yang berdusta demi membuatku agar tetap bernafas lega
            Kemudian bingungku memuncak,
            Diri menahan cengeng dan berlari sembari bertanya,
            “kamu siapa? mereka siapa? dan Aku dimana?”

________________
In pengalaman pertamaku ikut lomba menulis puisi. Kala itu di adakan di Universitas Jember. Maknanya agak random banget ya, temanya tentang kemerdekaan. Puisi ini berhasil meraih juara tiga. Sayangnya seleksi tahap selanjutnya hanya di ambil juara 1-2 saja 🥲