Ketika ku susuri tepian pantai,
angin membisikkan pecahan memori yang tak kunjung datang,
hasrat tuk slalu bersama tak jua reda.
berlari di pesisir pantai bersamamu, dengan golatan tawa riang.
Lalu . . .
tiba tiba lamunanku buyar akibat sentuhan air pantai di ujung jemari kaki,
dengan mata terpejam kubiarkan diri ini bersandar pada angin,
berharap meneruskan pecahan memori yang hilang
dan ketika ku buka kedua bola mataku
kau berdiri didepanku
hati bergejolak tanda riang
dengan memejamkan mata aku berhasil memasuki kabut kelam
kau melambaikan tangan ditemani ulasan senyum manjamu, mengisyaratkanku untuk terus mengikutimu J
namun . . .
perlahan kubuka mataku, yang kudapat hanya pesisir pantai yang lengang dan kosong,
kudapati diriku berdiri sendiri menatap ladang lautan
angin membisikkan pecahan memori yang tak kunjung datang,
hasrat tuk slalu bersama tak jua reda.
berlari di pesisir pantai bersamamu, dengan golatan tawa riang.
Lalu . . .
tiba tiba lamunanku buyar akibat sentuhan air pantai di ujung jemari kaki,
dengan mata terpejam kubiarkan diri ini bersandar pada angin,
berharap meneruskan pecahan memori yang hilang
dan ketika ku buka kedua bola mataku
kau berdiri didepanku
hati bergejolak tanda riang
dengan memejamkan mata aku berhasil memasuki kabut kelam
kau melambaikan tangan ditemani ulasan senyum manjamu, mengisyaratkanku untuk terus mengikutimu J
namun . . .
perlahan kubuka mataku, yang kudapat hanya pesisir pantai yang lengang dan kosong,
kudapati diriku berdiri sendiri menatap ladang lautan
Pagi
menjelang 8.40 am 5 Juni 13

0 komentar:
Posting Komentar