Orang Dalam Gangguan Jiwa

1. 
Waktu subuh, pagi di awali dengan shalat subuh. Seperti pada hari hari yang berkesudahan. dia di bangunkan bulek (adek dari ibu). 
“Ayo tangii, subuuuh”
Selepas lulus dari sekolah dasar, dia dipindahkan ke kota sebelah, tidak lagi mengikuti kedua orang tuanya yang bolak balik pindah rumah dinas. Orang tuanya tidak rela sekolahnya terganggu seperti kakanya. Akibatnya dia di ungsikan ke rumah neneknya. Di rumah nenek, dia hidup bertiga, nenek, bulek, dan dia. Rumah nenek terletak di tengah petak petak persawahan. Membuka pintu teras dan pintu dapur yang terlihat hamparan sawah. Menengok jendela yang terlihat tanaman hijau yang tengah berusaha tumbuh, bertarung dengan mahkluk kecil yang bertahan hidup. Ada yang mengincar akar, daun, biji, dan yang memangsa kesemuanya. Berusaha hidup, dewasa, berkembang biak dan kembali menyatu dengan tanah.  
Menjelang waktu petang, katak katak kerap bernyanyi, berlomba lomba memikat betina. Makin nyaring bunyinya makin menarik bagi betina. Suaranya
terdengar jelas di penjuru ruangan saling bersahut sahutan. Masing-masing dari mereka akan berhenti ketika fajar menyingsing.
Ketika musim hujan dan tanam padi tiba, tanah menuju rumahnya becek berlumpur. Pernah suatu ketika di pagi buta, teman bertamu ke rumahnya, sepeda yang dikendarai tidak sampai di teras rumah. Karna jalanan sangatlah becek, dan hanya muat dilalui satu sepeda saja, tidak untuk berpapasan. Ketimbang teman jatuh di petak petak sawah, ia memilih menitipkan motornya ke tetangga seberang yang memiliki jalan lebar. Temannya memilih berjalan kaki ke rumah dia. Pagi sekali temannya bertamu, mengantarkan surat ijin tidak masuk sekolah. Di tahun 2004, siswa siswi bila tidak bisa masuk sekolah pastilah mengirim surat, entah surat akan di antar orang tuanya, atau dititipkan ke teman sekelas atau tetangga yang sekolahnya bersamaan….

“Becek sekali ndo jalannya, motorku di tuntun sama bapak bapak di pinggir sawah, ben iso lewat” temannya mengeluh tanpa pembalasan yang pasti oleh dia. Dia yang tengah sibuk menyiapkan peralatan sekolah menjawab sekenanya

“La ko gak nyegat nang pinggir dalan lo amu ndo, tempat biasane nunggu kol, gak sms pisan awakmu ki ndo”
“La pie, ak wedine awakmu wes budal ndo, pie pas suratku, kate titip sopo, meneh e ki ayahku wes ate budal, ak wedi gak nutut”

Nama panggilannya Ana. Ana teman dia, dikenalnya sedari rutin menunggu kol (mobil angkutan umum). Rumah mereka berjarak sekitar dua kilometer. Kelasnya bersebelahan dengan dia. Ceritanya, ada acara mendadak di keluarganya, makanya pagi sekali surat di antarakan ke rumah dia. 

Setiap hari dia bangun pagi, bila waktu sudah menunjuk 
pukul 06.00 dia harus bergegas berangkat. Menuju halte dipinggir jalan besar. Bila tidak kesiangan jalannya santai, tiap pagi dia temani kicauan burung di udara, menyambut mentari yang belum begitu terik. Sesekali katak berlomba dengan pijakan sepatunya, dan juga melompati sepatu yang ia kenakan. Terkadang terlihat keong dengan langkah super pelannya yang mulai menaiki padi, hendak menghisap batang padi. Terlihat juga keong betina tengah bertelur, telur keong berwarna merah muda, mereka berkoloni, ketika musim tetas tiba, banyak bayi bayi keong bermunculan. Belalang tak mau kalah, mereka meloncat diantara satu pohon ke pohon yang lain, mencari daun yang empuk untuk di kunyah. Kesemuanya tengah sibuk mengisi perut masing masing. Sementara tikus, trenggiling belum terlihat, karna padi masih berumur muda. Ketika padi sudah mulai menunduk, tanda mulai sempoyongan menopang biji biji padi yang gembrot, mereka akan sibuk berlalu lalang.  Setiap hari semuanya berlomba untuk mengisi perut.

Sesampainya di halte, dia sendiri, ibu yang biasa bersamanya menunggu angkutan belum juga datang. Pagi ini dia duduk di atas lincak depan warung nasi. Warungnya masih tertutup, artinya ibu pemilik belum datang. Ibu si penjual buah juga belum terlihat. Nyatanya pagi benar dia berangkat. Tidak ada pilihan dia harus sabar duduk menunggu kol langganannya. Jalanan mulai sibuk, kendaraan berlalu lalang, dari arah timur menuju barat, sebaliknya dari arah barat menuju timur. Ada bis, motor, sesekali ada delman yang mencoba parkir di seberang jalan. Peminat delman masih ada. Kebanyakan dari mereka penumpang yang turun dari angkutan umum menuju rumah sakit atau rumah yang letaknya jauh dari jalan raya. Tidak kalah sibuknya, truk berlalu lalang membawa barang. Ada yang jalannya sempoyongan, penanda berat benar yang di angkut. Ada yang jalannya begitu cepat penanda muatan ringan atau truk dalam kondisi kosong. Yang paling menyebalkan ketika dihirup, ada bau amis yang tiba tiba muncul tatkala truk lewat. Mereka mengangkut hasil laut. 
Di seberang timur juga tak kalah sibuknya, mobil maupun motor yang antri mengisi bahan bakar. Di tengah kesibukan jalan raya, tiba tiba ada seorang pemuda mendekat. Perlahan. Dia belum menyadari kedatangan si pemuda, sementara dari seberang jalan terlihat bapak bapak tengah melambaikan tangan ke arah dia. Dia tidak paham yang di maksud. Hingga tiba tiba si pemuda yang mulai mendekatinya menari dihadapannya, menari dan bernyanyi. Seketika bulu kuduk dia berdiri
“Ini orang gila” bapak bapak di seberang jalan mengisyaratkan untuk lari menjauh. Dia takut untuk lari, dia mengingat pesan buleknya, bila melihat atau didekati orang gila jangan lari, nanti kamu di kejar. Dia menahan nafas. Jarak mereka hanya dua meter. Dia memilih menunduk lesu dengan jantung berdegub kencang.
Pemuda itu tetap menari dan bernyanyi di depannya, sambil mengayunkan jemarinya bak ada musik yang melantun di telinga. Sesekali rambut kumal di tariknya, di selipkan ke telinga. Matanya berkedip, senyumnya lebar terlihat gigi hitam dan berlubang dimana mana. Alisnya tebal dengan debu, bibirnya abu abu bak kebanyakan menghisap rokok, sementara pipinya lebam seperti habis dipukuli. Bajunya yang kedodoran dibiarkan menjuntai di pundaknya. Sementara celananya tinggi sebelah. Ada yang bening, matanya bening putih bersih. Penglihatannya ceria, seperti beban berat baru kelar ia taruh. Melihat dia ketakutan, pemuda itu menari sambil berjalan menuju warung yang terbuka sambil cengengesan dan duduk bersila. Dia melirik, si pemuda menunjukkan giginya yang bolong. Dia menunduk, menyesal karna meliriknya. Sementara si pemuda yang setengah duduk mulai berdiri dan menari lagi di teras warung yang tidak berpenghuni. 
Dia takut, tapi tidak takut seperti yang mula mula. Perasaannya sedikit lega. Sementara bapak di seberang jalan tersenyum melihat keberanian dia sambil berucap mengisyaratkan 
“Pergi ndok”
Dari kejauhan kol langganan terlihat. 
Alhamdulillah batin-nya. Beruntungnya pemuda tadi hanya menari, tidak lebih dari itu.

2.
Aku pernah mengagumi orang gila. Begini ceritanya. 
Suatu malam, dia dengan kawan organisasi gabut, ingin mencoba hal baru, mencari adakah yang bisa kami tulis untuk dijejalkan pada majalah yang bakal terbit. Kala itu dia bersama ketiga kawannya. Dia, nurma, yeni dan coi. Tiga perempuan dan satu laki laki, mereka penghuni sekret (tempat kami luntang luntung menunggu jam kuliah tiba). 
“Ayo engko bengi nang pasar tanjung”
“Nganu opo mad”
“ golek bakso. Eh beknowo oleh bahan tulisanmu bek” 
“Hem” aku ogah ogahan. Membayangkanny sepertinya capek betul. Tengah malam naik motor dingin dingin ke pusat kota
“Aku milu maaaad” celetuk yeni dari sudut ruangan
“Aku oleh milu oraaa”tanyak si coy
“Ayo wes gas budal”
Malam ini dia nurma menginap di kostan yeni. Tak lupa sebelum terlelap kami memasang alarm. Kebiasaan perempuan kalau sudah menginap 
Bersambung dulu ya 🫰