1
Namaku Panji. Aku lahir dari sepasang suami istri berlainan darah. Ayahku masih keturunan kental bangsa Tionghoa. Ibuku menyandang asli darah Bugis. Aku tidak tau menahu bagaimana cara mereka bertemu hingga akhirnya menikah dan menghasilkan keluarga kecil ini. Ayahku bernama Saman, akrab di panggil Ko Man (Koko Saman), sedangkan ibuku bernama Naning, kerap dipanggil Cik Ning (Tacik Naning). Ibu yang menikah dengan keturunan Tionghoa harus merelakan darah bugisnya. Tidak banyak orang tahu bila dia keturunan asli Bugis. Hingga akhirnya dia dipanggil cik oleh para tetangganya.
Namaku Panji. Aku lahir dari sepasang suami istri berlainan darah. Ayahku masih keturunan kental bangsa Tionghoa. Ibuku menyandang asli darah Bugis. Aku tidak tau menahu bagaimana cara mereka bertemu hingga akhirnya menikah dan menghasilkan keluarga kecil ini. Ayahku bernama Saman, akrab di panggil Ko Man (Koko Saman), sedangkan ibuku bernama Naning, kerap dipanggil Cik Ning (Tacik Naning). Ibu yang menikah dengan keturunan Tionghoa harus merelakan darah bugisnya. Tidak banyak orang tahu bila dia keturunan asli Bugis. Hingga akhirnya dia dipanggil cik oleh para tetangganya.
Ayah dan Ibuku tidak bekerja layaknya orang perkantoran.
Dari kecil ayah terkenal dengan perhitungan dagangnya, sedangkan ibu dengan keuletan
kerjanya. Ayahku bekerja di salah satu toko klontong di Pasar Turi, sedangkan
ibu hanya ibu rumah tangga biasa. Selepas menikah dengan ayah, ibu memutuskan
berhenti bekerja. Hidup sendiri dengan penghasilan dari buruh di toko klontong
dapat mencukupi kebutuhannya selama ini. Tapi kini, hidup dengan seorang istri
tidak bakal cukup bila hanya bergantung dari penghasilannya di toko klontong. Penghasilannya
hanya cukup untuk makan sehari-hari, tanpa bisa menyimpan sedikit uang untuk
hari depan. Hingga akhirnya 1 tahun pernikahan mereka, dikaruniailah seorang
anak. Ayah dan ibu was-was. Sempat terfikir ibu akan menjadi TKW. Tapi ayah melarang
keras, bukan karna kehidupan TKW yang penuh dengan resiko, ayah juga memikirkan
kondisi janin yang tengah di kandung ibu. Hingga akhirnya dengan hanya bermodal
tekad yang kuat ayah dan ibu membuka toko bangunan. Toko mereka namai Anugrah
Sejahtera, berharap toko akan menghasilkan kesejahteraan bagi keluarganya. Saat
itu bahan-bahan bangunan yang dijual hanya pasir, ayah dapatkan di kali ujung
desa kami. Satu bulan toko berjalan, tidak ada pasir yang terjual, hingga
akhirnya pasir dibentuk menjadi batu bata dan paving. Satu minggu kemudian ada
permintaan 1.000 batu bata. Hasil penjualan 1.000 batu bata mereka jadikan modal
membeli bahan-bahan bangunan. Dari langkah itu, toko terus berkembang hingga
akhirnya memiliki banyak karyawan.
Aku anak kedua dari tiga bersaudara. Kakakku perempuan,
adikku laki-laki. Kami bersekolah hingga lulus dari perguruan tinggi negeri.
Kini kakakku sudah berkeluarga dan telah dikaruniai dua anak, perempuan dan
laki-laki. Banyak orang iri dengan sepasang suami istri ini. Selain memiliki
keluarga kecil yang lengkap, kini mereka tengah merintis usaha rumah makan di
daerah Kemiren. Rumah makannya lumayan cukup ramai, lokasinya trategis, banyak
digandrungi kalangan muda. Setiap harinya rumah makan ini akan buka pukul 15.30
WIB dan tutup pukul 22.00 WIB. Sedangkan adikku masih kuliah di salah satu
perguruan tinggi negeri di Kota Banyuwangi. Sedangkan aku, saat ini tinggal
jauh dari keluargaku, di salah satu kota yang terkenal akan wisatanya, Malang.
***
Tidak baik kiranya sebelum memulai bagian cerita yang
teramat sensitiv tanpa didahului ritual keagamaan. Tidak muluk-muluk, hanya
bacaan basmallah. Sebelumnya perkenalkan, aku mempunyai seorang istri yang
teramat cantik, tekun dan rupawan. Namanya Ajeng. Keuletan kerjanya membiusku
sekaligus mengamini kecantikannya hingga akhirnya menikahinya. Dari dia aku
mulai memahami, kecantikan seseorang tidak hanya terlihat dari parasnya, tapi
juga dari pikiran dan tingkah lakunya. Selepas menikah aku mengharuskan istriku
meninggalkan tempat kerjanya untuk mengurus rumah tangga kami sekaligus
mempersiapkan bila nantinya kami dikaruniai anak. Umur pernikahan kami tidak
begitu lama. Terhitung lima bulan lebih lima belas hari. Satu bulan pernikahan
kami, tiba-tiba ada makhluk kecil yang ingin diakui keberadaannya, dialah si
jabang bayi yang kami tunggu-tunggu. Waktu terus berjalan dengan riangnya, setiap
pagi, aku selalu dibangunkan dengan aroma secangkir kopi, senyuman manis dengan
sedikit kalimat begini,
“mas, ayuk bangun”
Bicaranya tidak di hadapanku, tidak membelakangiku atau
tengah sibuk merapikan selimut yang berantakan. Dia akan bicara tepat di daun
telingaku. Biasanya aku akan terbangun dengan sentuhan kecupan bibirnya
dikeningku. Setelahnya, aku akan bangun, mengecup keningnya, minum kopi dan
mandi. Sementara istriku akan merapikan tempat tidur dan kembali dengan
ritualnya. Ironisnya, tiap kali di kamar mandi dan pakaian sudah terlepas dari
badan, selalu teringat akan handuk yang lupa di bawa. Setelah menyelesaikan
ritual mandi aku akan membuka pintu kamar mandi sedikit dan berteriak. Teriakan
itu selalu urung, karna handuk sudah terlipat rapi di atas kursi yang sengaja
di taruk di depan pintu kamar mandi. Keluar dari kamar mandi aku akan bersiul
sambil berteriak begini,
“terimakasih istriku”
Tidak pernah ada jawaban. Biasanya, kalau sudah mendengar
teriakanku, dia akan tersenyum disaksikan pisau, panci dan kawan-kawannya.
Tidak pernah ada kegaduhan di pagi kami. Pagi, selalu kami
lalui dengan syahdu. Di daun jendela, sesekali mentari pagi akan mencuri
pandang pada kami dengan jengkelnya.
Setelah sarapan
selesai, aku bergegas berangkat kerja. Sebelum keluar dapi pintu rumah, selalu
terdengar kalimat begini,
“hati-hati di jalan mas, pulangnya jangan lupa bawa
oleh-oleh, anakmu yang di perut ini lagi pengen makan mangga” setelahnya dia
akan tersenyum dan meraih tanganku.
Senyummu selalu mengurungkan niatku untuk berkata, “kamu
bohong ya”. Aku tahu pasti itu bukan ngidam yang biasa diperbincangkan banyak orang.
Yang apabila tidak di turuti jabang bayi akan ngiler. Itu hanya keinginan
istriku, karna malu mintak ini itu, si jabang bayilah yang dijadikan sasaran.
***
Suatu pagi yang gaduh di toko Anugrah Sejahtera. Sedari pagi
Ko Man dan Cik Ning tengah sibuk di tokonya, mencatat pesanan para pelanggan. Hilir
mudik pekerja melayani pembeli, ada yang mengangkut semen, lem kayu, ember dan
lain sebagainya. Toko Anugrah Sejahtera mulai beroperasi dari pukul 08.00 WIB
sampai pukul 15.00 WIB. Setiap harinya kurang lebih 100 karung semen, 1.000
batu bata, 50 tumpukan pasir terjual habis. Itu masih barang-barang berat yang
berwujud. Barang kecil seperti paku, baut dan kawan-kawannya belum terhitung.
Toko Anugrah Sejahtera menjadi rujukan utama para tukang karena di toko ini
tersedia barang bangunan terlengkap di Kota Genteng.
Pagi ini banyak pelanggan datang. Biasanya bila sudah memasuki
musim TKI pulang kampung, mereka akan berbondong-bondong membeli peralatan dan
bahan bangunan. Toko yang biasanya buka pukul 08.00 WIB dimajukan jadi pukul
07.00 WIB. Buka lebih awal bukannya berakibat toko tutup lebih awal, karna
ramainya pemesanan bahan bangunan, toko akan tutup pukul 18.00 WIB, keadaan ini
akan terus belanjut hingga toko kembali sepi. Dengan durasi kerja 11 jam berturut-turut setiap harinya, membuat
kondisi Ko Man jatuh sakit. Ko Man harus di rawat di Rumah Sakit. Anak-anaknya
tidak diperbolehkan pulang, karna memang kondisi ayahnya hanya kecapekan dan
butuh istirahat. Selang beberapa hari Ko Man sudah diperbolehkan pulang, dengan
syarat tidak boleh terlalu kecapekan.
***
Siang itu, saat aku sedang asyik merekap data pengiriman
barang, tiba-tiba telephoneku beredering.
“Hallo, dengan siapa?”
“Mas, ini aku Budi, Bapak masuk rumah sakit mas”
“apa, saakit apa mas Bud? Mulai kapan, kenapa ibu tidak kasi
kabar?”
“anak- anak suruh diam mas, tidak boleh ngub mas, mbak Keke
sama mas Adit, tapi aku ndag enak, jadi samean yang tak hubungi, sudah 3 hari
ini bapak di rawat”
“Baiklah, besok lusa aku pulang”
***
Sesampainya di rumah, Istriku tengah asik membuat kue pukis.
Hari ini ada rapat besar di desa kami. Setelah peristiwa anak-anak di desa sebelah
terjangkit demam berdarah, kepala desa mengundang warganya bermusyawarah
mufakat di balai desa. Masing-masing rumah dimintai sumbangan kuenya untuk
sajian rapat malam nanti. Setelah membersihkan badan, aku langsung pergi ke
balkon rumah, menikmati sore. Biasanya ditemani istriku, karna dia tengah sibuk
dengan pukisnya, aku sendiri. Rumah kami strategis, dapat melihat matahari
terbit, juga dapat melihat matahari terbenam,. Mungkin yang punya rumah ini
dulunya pengagum matahari celetuk istriku ketika dulunya memilih rumah ini jadi
hunian kami. Rumahnya menghadap ke utara, tapi ada balkon khusus supaya leluasa
melihat senja dan matahari terbit. Dari dalam rumah terdengar suara pijakan
kaki menyentuh lantai, disusul suara begini,
“mas, ibu tadi nelfon, bilang ayah sedang di rumah sakit,
alhamdulillah besok sudah dibolehin pulang” sambil meletakkan sepiring pukis
dan secangkir teh manis.
“iya, aku dapat kabar dari Mas Budi, bilang ayah sedang di
rawat, syukurlah kalau besok sudah dibolehin pulang. Jadi aku batal cuti”
“iya mas, ibu bilang tidak usah repot-repot pulang, ayah
sudah baikan”
“baiklah, hem, ini pukis apa bronis, ko rasanya gini dek?”
“kenapa mas? Gak enak ya?, aduh, gimana ini, kuenya sudah di
bawa Bu RT barusan mas, .....”
“hehe, enggak, kuenya enak ko”
“heeem, samean ini mas, bikin aku kaget saja, yasudah, aku
mau mandi dulu”
***
Baiklah bapak-bapak, kesimpulan rapat pada malam hari ini,
mau tidak mau harus kita sepakati bersama. Bahwasanya nyamuk harus di usir dari
Desa Suka Miskin ini.