Tujuh Belas Tahun


Nia duduk di pinggir tempat tidur, dengan mata lesu, menahan kantuk. Ia menggerutu sambil memandangi ponsel yang menyala karna pesan. Malam itu berkali kali ponselnya berdering. Pesannya hampir seragam, hanya penggunaan kata-kata yang membedakan antar satu pesan dengan pesan yang lain. Jarum jam merangkak angka 12. Ia kembali merebahkan badan sambil menggerutu pelan, Nandan masih belum mengiriminya pesan. Mungkin dia lupa.

Satu jam, Nia masih melek di tempat tidurnya, matanya memerah, tapi kantuk belum juga menghampirinya. Ia masih memikirkannya. Harapannya gugur, jarum jam bertengger di angka 1, tapi Nandan masih saja belum mengiriminya pesan. Lalu dia terlelap ditemani gerutu.
----
Rinda tertidur pulas dengan buku di dadanya. Sepertinya dia tertidur karena bacaan yang mengakibatkan matanya panas kemarin malam. Rinda, wanita sekamar Nia. Rinda, salah satu adik kelas di sekolah menengah atas, sekolah Nia menuntut ilmu. Sebenarnya, tiap kamar kost berisi tiga anak, tapi salah satu diantara Nia dan Rinda jarang tidur di kamar asalnya. Dita namanya. Dia tidak betah berlama-lama di kamar, karena diantara Nia maupun Rinda tidak suka bercerita. Sementara dia suka cerita, dan Nia maupun Rinda jarang menanggapi. Dita, hanya ketika makan, minum, mandi saja baru nongol. Itupun tidak lama.
---
Nia kembali duduk dengan mengangkat kedua tangan dan meregangkan kaki ‘gerakan molet’ di pinggir dipan. Jarum jam bertengger pada angka 04.30. Ia bergegas membuka pintu dan mengambil air wudhu. Rinda yang tadinya tertidur pulas sudah mengantre kamar mandi. Mengantre kamar mandi menjadi rutinitas wajib di tempat kost kami. Terkadang, antrean kamar mandi diumumkan semalam sebelum tidur. Bila bangun kesiangan, kerap kali beberapa anak mandi bersamaan. Maklum, jam masuk sekolah pukul 07.00, sementara yang ngantre tiap paginya 15 anak, belum lagi keluarga pemilik kost yang tidak masuk hitungan.
---
Telpon genggam Nia berdering. Dia belum masuk kamar mandi dan belum mendapat no antrean. Sudah pasti dia masuk kamar mandi dengan urutan belakang, kecuali jika ada yang baik hati memberi tumpangan mandi bareng. Dia mengangkat telfon.

“assalamu’alaikum” Nia mengawali percakapan

“wa’alaikumsalam umi, hari ini tanggal brapa?” nia tersenyum lebar, raut mukanya terlihat menahan bahagia.

“selasa”

“tanggalnya umiiiii” kata umi dipanjangkan, suaranya terdengar manja merayu.

“empat belas” nia kembali tersenyum. Lengah, karena salah jawab pertanyaan. Kali ini dia menahan tawa.

 “semakin bertambah ini umurnya, maaf ngge mi, abi baru nelfon, abi mau nelvon tadi malam umi, tapi abi takut merusak bunga tidur mean umi” dia merengek dengan nada suara terdengar menyesal dan bersalah. Tapi tetap saja, masih terdengar manja, menggemaskan.

Nia terdiam, menahan senyum.

“meski abi tidak disamping mean, abi doakan umi dari sini nggeh, Umi yang berucap amiiin entar” dia kembali melanjutkan. Kali ini dengan suara pelan, tapi terdengar tegas.

“nggeh abi”.
doanya berbahasa arab, Nia sulit mengerti. Dia hanya berucap amin amin dan amin. Sesekali terdengar namanya disebut di tengah-tengah bahasa arab yang dilantukan. Dan di akhir kalimatnya,

“...jaga slalu Andinia Puspi dalam lindungan-Mu ya Rabb.. karna aku teramat meyayanginya”

Nia hanya menanggapi amin amin dan amin.

“umi, uda dulu ngge, abi mau mandi, abi belum mandi niii, baug, mau persiapan berangkat sekolah juga. Abi minta doanya, hari ini ada try out sayang” dia pamit, suaranya terdengar halus ditelinga Nia. Nadanya kembali terdengar manja. Nia menggeram.

“ ngge abiku sayang, semoga sukses ya tryoutnya, umi bantu doa dari sini. Dan terima kasih doanya”

”yauda umi, abi tutup ngge, assalamu’alaikum...”
“wa’alaikumsalam abiku sayang.”    Klik. Percakapan selesai.
---
17 tahun adalah angka keramat bagi sebagian kalangan muda. Tujuh belas. Angka penentuan anak terlepas dari status kanak kanak. Beralih status jadi remaja dan terlepas dari sebutan anak bau kencur.

Anak tetangga rumah Nia diperbolehkan pacaran setelah menginjak umur 17 tahun. Hubungan anak tetangga ibu kost direstui setelah berumur 17 tahun. Tetangga kamar kost dibelikan laptop setelah berumur 17 tahun. Tetangga rumah teman dipersunting setelah berumur 17 tahun. Begitulah angka tujuh belas. Dapat membius kehidupan remaja. Termasuk Nia. Tapi dia tidak sebegitu heboh seperti cerita para tetangganya. Pagi ini dia mendapat telfon dari Nandan. Kekasihnya. Itu sudah membuatnya bahagia. Sampai-sampai kebahagiaan itu tersungging dibibirnya, hingga tiba di sekolah, pelajaran berlangsung, istirahat, dan pulang. Setiap teman curhatnya di dongengi peristiwa tadi pagi. Jangan bertanya teman satu kost. Sudah pasti kabar itu jadi trending topik selama seminggu. Salah, lebih tepatnya dua minggu.
---
15 februari,
Ruang kelas Nia gaduh, siswa-siswi bolak balik. Berlalu lalang kesana kemari. Entah apa yang dibicarakan. Jam terakhir kerap kali tidak ada guru yang mengajar. Jam kosong. Sebagai gantinya, siswa ditugasi mencatat atau mengerjakan soal latihan. Kurang lima menit jam sekolah berbunyi. Sebagai penanda jam sekolah berakhir. Pulang.

Nia duduk meringkuh memainkan bolpoint sambil mendengarkan Erna berbicara ngalor ngidul. Erna, teman sebangkunya sekaligus salah satu teman di rumah persinggahan ‘kost’. Dia tengah bertengkar dengan kekasihnya. Kalau sudah begitu, lampu hijau di bibirnya terus menyala. Cerewet.

“cek cek cek...Perhatian-perhatian, bagi siswa yang bernama Andinia Puspi kelas XI IPA1 dimohon kehadirannya ke kantor setelah bel akhir sekolah berbunyi.”
Nia tersentak, bangun dari duduknya, semua mata tertuju padanya. Saling pandang. Penuh rasa curiga.

“teeeet teeeet teeeet” bel sekolah berbunyi. Nia bergegas menuju kantor pengumuman.
---
“nia? Benar?”

“iya pak, ada ap ya pak?”

“ini ada paketan, lihat di balik bungkusan, benar?” bapak itu memastikan nama si pengirim

“oh, iya pak, benar, makasih” nia tersenyum, sudah pasti bercampur kaget. Melihat nia menahan senyum, bapak si pemberi bungkusan berkata

“wah dari siapa, jombang, jauh sekali, pacarnya ya mbak?” Nia tersipu malu, kali ini senyumnya makin lebar, diikuti pesan pamit kepada bapak si pemberi bungkusan.

Nia memandangi bungkusan, tertera jelas di bungkusan dengan tulisan tangan yang terbaca
Pengirim       : Muhammad Nandan Putra
Untuk            : Andinia Puspi kelas XI IPA1.

Beberapa kawan menghampiri Nia. Bertanya-tanya sambil melirik bungkusan yang dipegang Nia. Mereka membaca ukiran huruf di sampul bungkusnya. Mereka kaget, saling pandang. Sementara Nia, bengong. 
---
bungkusnya bersampul kertas karton berwarna coklat, beberapa tetangga kost berdatangan ke kamar Nia. Nia masih saja memandangi bungkusan. Sampai salah satu dari mereka bilang,

“bukaen ni”

Dibukanya bungkusan secara perlahan. Pelan, dan lembut. Penuh kehati-hatian. Seperti tidak rela bungkusan dirobek. Air mata nia meleleh. Dia menciumi isi bungkusan. Isinya, satu ikat gulungan kain putih, al_qur’an dan sebuah buku bersampul merah muda bertuliskan ‘menjadi muslimah sukses’. Yang menarik perhatiannya kala itu kain putih yang digulung dengan sepotong kayu ukuran 30 cm yang diikat dengan pecahan kain putih. Dibukanya tali dengan perlahan, pelan, penuh kelembutan. Terdapat tulisan panjang dengan huruf yang miring condong kekanan. Tintanya warna hitam. Kain itu berisikan puisi yng dipadupadankan dengan syair-syair al_qur’an. Di akhir barisan, tertera tanggal selesai penulisan”ba’da subuh 14 februari 2020”.
---
Nia sibuk memencet tool di keyped telpon genggamnya. Air matanya masih tersisa, matanya terlihat bengkak, menyipit, hidungnya memerah,

“assalamu’alaikum... abi terima kasih ngge, umi baru nyadar kenapa abi tanya alamat lengkap umi. Umi senang banget abi. Melihat dan membacanya hati umi terasa tenang. Tapi, kenapa harus ke alamat sekolah? Untuk al_qur’anya dan bukunya terima kasih ngge. Umi berjanji akan menjaga kadonya, karna ini kado yang paling baik dari sekian kado yang umi peroleh, dan tulisan di kain itu. Suatu saat, ajari umi nggeh. Ajari menulis di atas kain. wassalamu’alaikum.”

Pesan itu tidak pernah dapat balasan. Entah sampai kapan. Dan Nia, masih saja mengaguminya dalam diam. Bukan karena isi dalam bungkusan, tapi orangnya. Nandan.