Nia duduk di pinggir tempat tidur, dengan mata lesu, menahan kantuk. Ia menggerutu sambil memandangi ponsel yang menyala karna pesan. Malam itu berkali kali ponselnya berdering. Pesannya hampir seragam, hanya penggunaan kata-kata yang membedakan antar satu pesan dengan pesan yang lain. Jarum jam merangkak angka 12. Ia kembali merebahkan badan sambil menggerutu pelan, Nandan masih belum mengiriminya pesan. Mungkin dia lupa.
Satu
jam, Nia masih melek di tempat tidurnya, matanya memerah, tapi kantuk belum juga
menghampirinya. Ia masih memikirkannya. Harapannya gugur, jarum jam bertengger di
angka 1, tapi Nandan masih saja belum mengiriminya pesan. Lalu dia terlelap ditemani
gerutu.
----
Rinda
tertidur pulas dengan buku di dadanya. Sepertinya dia tertidur karena bacaan
yang mengakibatkan matanya panas kemarin malam. Rinda, wanita sekamar Nia.
Rinda, salah satu adik kelas di sekolah menengah atas, sekolah Nia menuntut
ilmu. Sebenarnya, tiap kamar kost berisi tiga anak, tapi salah satu diantara Nia
dan Rinda jarang tidur di kamar asalnya. Dita namanya. Dia tidak betah
berlama-lama di kamar, karena diantara Nia maupun Rinda tidak suka bercerita. Sementara dia suka cerita, dan Nia maupun Rinda jarang
menanggapi. Dita, hanya ketika makan, minum, mandi saja baru nongol. Itupun
tidak lama.
---
Nia
kembali duduk dengan mengangkat kedua tangan dan meregangkan kaki ‘gerakan
molet’ di pinggir dipan. Jarum jam bertengger pada angka 04.30. Ia bergegas membuka
pintu dan mengambil air wudhu. Rinda yang tadinya tertidur pulas sudah
mengantre kamar mandi. Mengantre kamar mandi menjadi rutinitas wajib di tempat
kost kami. Terkadang, antrean kamar mandi diumumkan semalam sebelum tidur. Bila
bangun kesiangan, kerap kali beberapa anak mandi bersamaan. Maklum, jam masuk
sekolah pukul 07.00, sementara yang ngantre tiap paginya 15 anak, belum lagi keluarga
pemilik kost yang tidak masuk hitungan.
---
Telpon
genggam Nia berdering. Dia belum masuk kamar mandi dan belum mendapat no
antrean. Sudah pasti dia masuk kamar mandi dengan urutan belakang, kecuali jika
ada yang baik hati memberi tumpangan mandi bareng. Dia mengangkat telfon.
“assalamu’alaikum” Nia mengawali percakapan
“wa’alaikumsalam
umi, hari ini tanggal brapa?” nia tersenyum lebar, raut mukanya terlihat
menahan bahagia.
“selasa”
“tanggalnya
umiiiii” kata umi dipanjangkan, suaranya terdengar manja merayu.
“empat
belas” nia kembali tersenyum. Lengah, karena salah jawab pertanyaan. Kali ini dia
menahan tawa.
“semakin bertambah ini umurnya, maaf ngge mi,
abi baru nelfon, abi mau nelvon tadi malam umi, tapi abi takut merusak bunga
tidur mean umi” dia merengek dengan nada suara terdengar menyesal dan bersalah.
Tapi tetap saja, masih terdengar manja, menggemaskan.
Nia
terdiam, menahan senyum.
“meski
abi tidak disamping mean, abi doakan umi dari sini nggeh, Umi yang berucap
amiiin entar” dia kembali melanjutkan. Kali ini dengan suara pelan, tapi
terdengar tegas.
“nggeh abi”.
doanya berbahasa arab, Nia sulit mengerti. Dia hanya berucap amin amin dan amin. Sesekali terdengar namanya disebut di tengah-tengah bahasa arab yang dilantukan. Dan di akhir kalimatnya,
“...jaga
slalu Andinia Puspi dalam lindungan-Mu ya Rabb.. karna aku teramat
meyayanginya”
Nia
hanya menanggapi amin amin dan amin.
“umi,
uda dulu ngge, abi mau mandi, abi belum mandi niii, baug, mau persiapan berangkat
sekolah juga. Abi minta doanya, hari ini ada try out sayang” dia pamit,
suaranya terdengar halus ditelinga Nia. Nadanya kembali terdengar manja. Nia
menggeram.
“
ngge abiku sayang, semoga sukses ya tryoutnya, umi bantu doa dari sini. Dan
terima kasih doanya”
”yauda
umi, abi tutup ngge, assalamu’alaikum...”
“wa’alaikumsalam
abiku sayang.” Klik. Percakapan
selesai.
---
17
tahun adalah angka keramat bagi sebagian kalangan muda. Tujuh belas. Angka
penentuan anak terlepas dari status kanak kanak. Beralih status jadi remaja dan
terlepas dari sebutan anak bau kencur.
Anak
tetangga rumah Nia diperbolehkan pacaran setelah menginjak umur 17 tahun. Hubungan
anak tetangga ibu kost direstui setelah berumur 17 tahun. Tetangga kamar kost
dibelikan laptop setelah berumur 17 tahun. Tetangga rumah teman dipersunting
setelah berumur 17 tahun. Begitulah angka tujuh belas. Dapat membius kehidupan
remaja. Termasuk Nia. Tapi dia tidak sebegitu heboh seperti cerita para
tetangganya. Pagi ini dia mendapat telfon dari Nandan. Kekasihnya. Itu sudah
membuatnya bahagia. Sampai-sampai kebahagiaan itu tersungging dibibirnya,
hingga tiba di sekolah, pelajaran berlangsung, istirahat, dan pulang. Setiap
teman curhatnya di dongengi peristiwa tadi pagi. Jangan bertanya teman satu
kost. Sudah pasti kabar itu jadi trending topik selama seminggu. Salah, lebih
tepatnya dua minggu.
---
15
februari,
Ruang
kelas Nia gaduh, siswa-siswi bolak balik. Berlalu lalang kesana kemari. Entah
apa yang dibicarakan. Jam terakhir kerap kali tidak ada guru yang mengajar. Jam
kosong. Sebagai gantinya, siswa ditugasi mencatat atau mengerjakan soal
latihan. Kurang lima menit jam sekolah berbunyi. Sebagai penanda jam sekolah
berakhir. Pulang.
Nia
duduk meringkuh memainkan bolpoint sambil mendengarkan Erna berbicara ngalor
ngidul. Erna, teman sebangkunya sekaligus salah satu teman di rumah
persinggahan ‘kost’. Dia tengah bertengkar dengan kekasihnya. Kalau sudah
begitu, lampu hijau di bibirnya terus menyala. Cerewet.
“cek
cek cek...Perhatian-perhatian, bagi siswa yang bernama Andinia Puspi kelas XI
IPA1 dimohon kehadirannya ke kantor setelah bel akhir sekolah berbunyi.”
Nia
tersentak, bangun dari duduknya, semua mata tertuju padanya. Saling pandang.
Penuh rasa curiga.
“teeeet
teeeet teeeet” bel sekolah berbunyi. Nia bergegas menuju kantor pengumuman.
---
“nia?
Benar?”
“iya
pak, ada ap ya pak?”
“ini
ada paketan, lihat di balik bungkusan, benar?” bapak itu memastikan nama si
pengirim
“oh,
iya pak, benar, makasih” nia tersenyum, sudah pasti bercampur kaget. Melihat
nia menahan senyum, bapak si pemberi bungkusan berkata
“wah
dari siapa, jombang, jauh sekali, pacarnya ya mbak?” Nia tersipu malu, kali ini
senyumnya makin lebar, diikuti pesan pamit kepada bapak si pemberi bungkusan.
Nia
memandangi bungkusan, tertera jelas di bungkusan dengan tulisan tangan yang
terbaca
Pengirim : Muhammad Nandan Putra
Untuk : Andinia Puspi kelas XI
IPA1.
Beberapa
kawan menghampiri Nia. Bertanya-tanya sambil melirik bungkusan yang dipegang
Nia. Mereka membaca ukiran huruf di sampul bungkusnya. Mereka kaget, saling
pandang. Sementara Nia, bengong.
---
bungkusnya
bersampul kertas karton berwarna coklat, beberapa tetangga kost berdatangan ke
kamar Nia. Nia masih saja memandangi bungkusan. Sampai salah satu dari mereka
bilang,
“bukaen
ni”
Dibukanya
bungkusan secara perlahan. Pelan, dan lembut. Penuh kehati-hatian. Seperti
tidak rela bungkusan dirobek. Air mata nia meleleh. Dia menciumi isi bungkusan.
Isinya, satu ikat gulungan kain putih, al_qur’an dan sebuah buku bersampul
merah muda bertuliskan ‘menjadi muslimah sukses’. Yang menarik perhatiannya
kala itu kain putih yang digulung dengan sepotong kayu ukuran 30 cm yang diikat
dengan pecahan kain putih. Dibukanya tali dengan perlahan, pelan, penuh
kelembutan. Terdapat tulisan panjang dengan huruf yang miring condong kekanan.
Tintanya warna hitam. Kain itu berisikan puisi yng dipadupadankan dengan
syair-syair al_qur’an. Di akhir barisan, tertera tanggal selesai penulisan”ba’da subuh 14 februari 2020”.
---
Nia
sibuk memencet tool di keyped telpon genggamnya. Air matanya masih tersisa,
matanya terlihat bengkak, menyipit, hidungnya memerah,
Pesan
itu tidak pernah dapat balasan. Entah sampai kapan. Dan Nia, masih saja
mengaguminya dalam diam. Bukan karena isi dalam bungkusan, tapi orangnya.
Nandan.