Dokumen Pribadi

Ikhlas memang sulit, akan tetapi keegoisan yang dikubur pelan-pelan itu pastilah membuahkan hasil dan bonusnya adalah teman baru

Jum’at malam (10/10) aku dengan kekasihku merencanakan berpiknikria, mauku hanya berdua saja, tanpa diganggu makhluk asing. Kami memilih hari minggu sebagai hari pemberangkatan. Mengenai lokasi, aku mengusulkan ke Kawah Wurung, sekaligus menagih janjinya mengajakku berkunjung kesana beberapa bulan lalu. Kawah Wurung adalah salah satu wisata alam yang berada di Bondowoso. Sepengetahuanku Kawah Wurung adalah sebuah savana luas yang masih asri, tidak banyak kaki manusia yang menginjakkan kakinya di sana.
Malam harinya (jum’at malam) aku sudah mengimpikan bakal melihat kota Bondowoso di atas ketinggian entah berapa dpl (diatas permukaan laut).
                                                            ***
Keesokan harinya (sabtu) pagi sekali, aku dikejutkan dengan pesan singkat yang berbunyi,
Ak mw k ... yang.(sensor)
Dengan perasaan kesal yang tiba-tiba muncul aku balas begini,
Lalu rencana jalan-jalan kita? Batal?
Hanya di balas
Gtw
 Itu saja, lalu dia menghilang berjam-jam
Tak ada tanggapan darinya membuatku mengeluarkan sumpah serapah berulang kali. Siang hari kekesalanku semakin memuncak dengan adanya UTS dadakan salah satu mata kuliah yang kutempuh. Panjang lebar sumpah serapah ku lontarkan tetap saja tidak meredakan kekesalanku. Hingga UTS usai tepatnya pukul 3 sore, ada pesan singkat di Hp bututku, begini,
Dimana yang? Aku g jdi ikut ini.
Senyum lebar tersungging di bibirku, namun seketika sirna bersamaan dengan rasa bersalahku. Semakin ku pikirkan, rasa bersalah itu semakin mendominasi. Tanpa menunjukkan rasa bersalah sepeserpun aku balas pesannya (kalau saja pesan itu aku baca, pastilah terdengar sinis) begini bunyinya,
Kenapa gak ikut?
Itu saja dan tidak ada respon lagi, kekesalanku seketika sirna, rasa bersalah makin memuncak saja, hingga ku putuskan untuk menelvon.  Aku rasa tidak perlu ku tulis apa isi percakapan dalam pembicaraan jarak jauh itu. Dari nadanya berbicara seolah-olah aku tidak pernah melontarkan sumpah serapah, tidak ada rasa kesal atau apalah. Dia hanya meminta bertemu saat itu juga, tanpa ada basa basi. Demi menutupi rasa bersalahku sikap acuh tak acuh masih saja menjadi tameng wajahku. Kita sepakat bertemu dan dia menjemput di kostku. Membayangkan bagaimana pertemuanku dengannya membuat batinku merinding, mungkin bakal terjadi cekcok lagi seperti yang sudah-sudah.

Pukul 16.00 WIB dia sampai di depan gerbang kostku, memandangnya dari kejauhan melelehkan sikap acuhku, aku menyambutnya dengan senyuman manis, tidak lagi acuh yang kurencanakan, dia juga J . Sepanjang perjalanan, tidak sedikitpun dia menyinggung sumpah serapahku. Aku meramalkan apa yang dia fikirkan, begini,
wajar sajalah wanita, memang begitu, sesekali perlu dimanja.
Namun aku tidak ingin lama-lama larut dalam rasa bersalah, tanpa basa basi aku lontarkan semua kekesalan serta rasa bersalahku. Panjang lebar kubercerita tangganpannya hanya dua kata,
“sudahlah, lupakan” diakhiri dengan senyuman.
Hari itu ceritaku dengannya berakhir masih dengan kesepakatan akan mengunjungi KW (Kawah Wurung) keesokan ahrinya dengan jam pemberangkatan pukul 7 pagi.
                                                                        ***
Minggu pagi aku bangun agak kesiangan, kesiangan untuk shalat subuh, J. Pukul 6 pagi tidak ada kabar apapun darinya, perasaanku waswas, sepertinya jadwal pemberangkatan yang disepakati  tidak berlaku. Kalau berangkat kesiangan bakal batal pikniknya, maklum jarak tempuh yang lumayan jauh.Tanpa basa-basi ku hubungi saja dia, sekaligus mencari kepastian sadar tidaknya dia dari nina boboknya semalam. Perasaanku lega karna ada balasan, meski hanya callme. Setelahnya, demi menyingkat waktu aku pamit mengerjakan tanggung jawabku sebagai penghuni kost, sekaligus mempersiapkan diri.

Setelah menyelesaikan pekerjaan kostku aku hubungi dia lagi, untuk memastikan apakah dia sudah siap betempur dengan jalanan. Sebelum sempat mengetik pesan, ada satu pesan dari number tidak dikenal, begini,
 Yang, diajak ke pantai naik mobil in yang, ke Payangan, mau?
Ternyata si pengirim adalah kekasihku, dari baunya, sepertinya rencana jalan-jalan berdua sudah berada di ujung tanduk. Dan dari padu padan kata dalam pesannya, sepertinya dia ingin membatalkan rencana ke KW (Kawah Wurung). Masih dengan sikap menyembunyikan egoku ku balas begini,
Sama siapa saja yang?
Dari ramalanku membaca pesannya, rasanya sama sekali tidak ada kecurigaan aku bakal keberatan dengan ajakannya. Karena dengan santai dia balas begini,
Sama teman-teman kostku dan wanita-wanitanya
Masih dengan menyembunyikan sikap egoku, aku balas dengan kata-kata yang dia bakal beranggapan bahwa aku baik-baik saja dengan tawarannya, begini,
Terserah sudah yang, aku ngikut saja.
Sudah, itu percakapan terakhir kita, kemudian dia menghilang, layaknya tidak ada fikiran aku sedang dalam posisi terpaksa. Aku menunggu sampai tertidur, kira-kira 30 menit lebih aku terlelap. Sebangunku ku telvon dia, jam pemberangkatan ke Payangan pukul 9 pagi katanya. Baiklah, aku menyabarkan diri menunggu dan memupuk keterpaksaanku, namun hingga pukul 9 masih saja tidak ada kabar. Bila aku tetap diam rasanya piknik yang direncanakan hanya akan terwujud di angan-angan saja. Aku menelvon, katanya masih belum ada kejelasan bakal berangkat jam berapa, dan aku tidak begitu tau apa alasannya, karena jengkel yang mulai muncul aku putus sambungan telvon secara tiba-tiba.

Maka dengan keputusan sepihak aku kirim pesan singkat berisi beberapa opsi lokasi wisata, otomatis dengan aku memberikan opsi lokasi wisata, batallah sudah rencana ke Payangan. Aku merekomendasikan beberapa tempat untuk dikunjungi, dan dia memilih yang berlokasi di Banyuwangi. Kita sepakat berangkat pukul 10 pagi. Setelah bertemu aku mengorek apa penyebab batalnya ke Payangan, dan salah satunya karna aku yang tidak sabar menunggu. Ouuh, lagi, aku memberantalkan semua rencananya, kali ini bukan hanya rencananya, melainkan rencana rekan-rekan kostnya. Namun sebelum aku berbicara panjang lebar, dia bilang, batalnya piknik di Payangan diganti dengan opsi lain, yaitu masak bareng. Perasaanku mulai tidak nyaman ketika dia menyebutkan kata masak diikuti kata “bareng”. Aku terdiam.

Nyatanya kekhawatiranku terwujud, dengan rendah hati dan nada memohon dia mengajakku ikut serta masak dengan rekannya,dan membatalkan rencana awal piknik berdua. Sebenarnya aku sangat keberatan mengiyai permintaanya, itu juga karna aku sulit berbaur dengan orang baru. Dia menyadari sikap ketidakinginanku ikut serta, dan dengan taktiknya dia memunculkan mimik wajah yang mengingatkanku pada batalnya dua acara yang direncanakan, dimana aku berperan langsung dalam pembatalannya.

Dengan berat hati dan pembicaraan yang kian melebar akhirnya kuputusan menyepakati membatalkan rencana piknik kita. Itu artinya aku ikut serta masak dengan rekan-rekannya. Namun semua keputusanku bersyarat, janji mengunjungi KW (Kawah Wurung) harus segera ditepati.
                                                                        ***
Agen memasak kami beranggotakan delapan orang, empat laki-laki dan empat perempuan, mayoritas adalah sepasang kekasih. Namun salah dua dari kami tidak berpasangan.
“Kalau tidak menyempatkan berkumpul, maka kita tidak bakal kenal mbak”
Kata salah satu dari mereka ketika ku mulai bergabung dalam gerombolan. Aku hanya menanggapi dengan senyuman. Masak diawali dengan merekap masakan apa yang ingin di makan. Setelah bercekcok panjang mengenai jenis masakan dan bahan-bahannya, akhirnya salah satu dari kami berbelanja, dan yang lainnya mempersiapkan tata letak dapur manual.

Sesampainya bahan-bahan masakan, kita berlomba memunculkan kreativitas memasak masing-masing, ada yang menawarkan tumis sayur pakai tomat, ada yang menawarkan sambal mentah untuk lalapan, ada yang menawarkan sayuran di rebus sebelum ditumis, ada yang menawarkan mentumis ikan asin dan lainnya. Di tengah proses memasak yang paling membuat cekcok adalah perdebatan mengiris tempe berukuran jumbo, serta kesalahan memasukkan tepung bumbu. Tepung yang biasa digunakan sebagai lapisan luar ayam krispi dijadikan lapisan tempe, dan kesalahan itu tersadar ketika tempe sudah matang semua, akibatnya tempe tidak memiliki rasa apapun, alias hambar.

Di tengah memasak pastilah ada gelak tawa serta candaan yang membangun suasana. Salah satu dari mereka ada yang dipanggil Bapak RT, Bapak RW dan tetangga. Predikat Bapak RT dan Bapak RW itu muncul karena seringnya berdiam lama-lama di kost. Sedangkan predikat tetangga disandang untuk siapa saja yang jarang berdiam lama-lama di kost. Dan yang paling sering dibuli adalah salah satu dari kami yang tidak berpasangan. Dia adalah mahasiswa Politeknik Negeri Jember sekaligus yang paling muda umurnya diantara kami, dia menjadi bahan gunjingan dan penyejuk suasana.

Menu masakan yang banyak serta ketersediaan kompor yang hanya satu buah membuat proses memasak kami berjam-jam. Setelah berlama-lama mengencangkan ikat pinggang akhirnya terhidanglah beberapa menu berupa, tumis kacang dengan jagung, ikan asin, sayur lalapan, sambal, tahu serta tempe goreng hambar. Tidak lupa kerupuk dan minuman menjadi syarat ritual wajib dalam menu makanan. Seperti biasa kita memulai makan dengan berdoa, berdoa dipimpin oleh Bapak RW. Tidak hanya dalam posisi santai, dalam berdoapun masih ada saja candaan yang nyeletuk. Pembukaan doa dimulai dengan beberapa harapan seperti, harapan pertemanan serta hubungan yang baru menjadi abadi, serta dipertemukannya jodoh bagi salah satu bujang diantara kami (serentak kami tertawa), kemudian berdoa ditutup dengan doa makan menurut kepercayaan masing-masing.