Mondok

Nabi pernah bilang khairunnas anfa’uhum linnas, sebaik baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Terjawab sudah pertanyaanku dari dulu.

Pagi ini rencanaku berkunjung ke dosen pembimbing akademik  bersama rekan seperjuanganku. Tapi urung karena jam janji berkunjung sudah lewat. Dan artinya batallah sudah rencana kami. Aku memilih melanjutkan membaca kembali buku ketiga dari trilogi negeri 5 menara. Sudah cukup lama aku meninggalkan rentetan kisah apik Ahmad Fuadi. Setelah dapat setengah halaman membaca aku merasa iri pada karyanya, lalu ku raih saja laptop di bawah meja lipatku, aku ingin menenun kata lagi. Tapi aku bingung, aku mau berkata apa dalam tulisanku. Aku berhenti membaca di akhir bab 18 dengan judul antara Jakarta dan Bogor. Di akhir tulisannya ada percakapan antara si Alif dengan Dinara. Satu pertanyaan yang memompa semangatku sekaligus menjawab pertanyaanku bertahun-tahun lalu. Begini kutipan ceritanya,

“Bagaimana agar kita menjadi manusia terbaik?” tanyanya sambil melirik ke arahku. Hmm dia rupanya sedang mengujiku. Tidak soal. Ini pertanyaan yang sudah berkali-kali dibahas ketika aku masih di Pondok Madani.

“Hmm begini” kataku bagai memulai sebuah kuliah umum. Dua penumpang baru naik gerbong, kami menggeser tikar koran untuk memberi jalan.

“Kalau dipesantren kami diajarkan nasihat nabi yang bilang khairunnas anfa’uhum linnas, sebaik baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Nah bermanfaat kan bisa pakai apa saja yang kita punya. Bahkan tersenyum saja sudah manfaat untuk menyenangkan hati orang yang melihatnya. Manusia yang bermanfaat adalah manusia yang terbaik. The most succesful person,” jawabku.

Ternyata untuk menjadi manusia terbaik itu amat mudah, contoh kecilnya hanya tersenyum pada tiap orang, tapi senyum sapa, bukan senyum gila J. Membaca lagi kisah si Alif yang dipaksa mondok aku jadi teringat kisahku 5 tahun silam. Bedanya dengan cerita si Alif, disini mondokku inisiatif sendiri, tidak ada tendensi paksaan. Ceritanya akibat tidak diterima di salah satu sekolah favorit di kotaku aku ngotot tetap bersekolah disana lewat jalur mondok. Ya, serupa politik lah. Awalnya aku berkeyakinan bakal betah disana, hidup dengan para santriwati dari berbagi daerah, kurasa menyenangkan. Ada salah satu temanku dari Bali. Cerita pendeknya, dia bertekad mondok disini, dengan basmallah dia ingin merubah kebiasaan buruknya semasa di Bali. Ada juga yang dari pelosok desa Banyuwangi, dia memilih mondok disini karena pondok ini terkenal baik dimata keluarganya. Salah satu kakak tingkat pondokku juga ada yang mengenalku, katanya si ayahnya teman kerja ayahku. ada juga cerita yang serupa denganku. 

Hidup di pondok nyatanya memiliki aturan-aturan sendiri. Bagi anak baru sepertiku pola hidup seperti itu amat mengikat. Aturan-arturan di pondok lama-lama mengekang aku dengan beberapa rekanku. Satu persatu dari kami mundur. Memilih mengurungkan niatnya untuk belajar di pondok ini. Katanya kejadian ini tidak langka lagi di tahun ajaran baru. Tapi aku mencoba bertahan :D.

Tiga bulan sudah aku belajar dipondok dan sekolah yang kataku favorit ini. tapi kondisi badan dan batinku yang tidak kuat membuatku sering jatuh sakit, bandanku mengurus, mukaku kusut. Akhirnya aku dijemput ayah ibuku, satu minggu aku berada di rumah, dan kondisiku sudah membaik. Aku siap bertempur lagi dengan rekan-rekanku. Selang beberapa hari kondisiku menurun kembali, waktu itu ayahku sendiri yang menjemputku, ibuku di rumah mempesiapkan lahirnya adik baruku. Berhari-hari demamku naik turun. Ibuku yang tengah hamil 8 bulan kewalahan meladeniku. Setelah beberapa hari demam, ternyata aku terdeteksi terkena cacar, penyakit bintik-bintik yang tumbuh disekujur tubuh berisikan nanah. Tiap manusia bakal mengalaminya kata dokter waktu merawatku.

Cacar ini tumbuh disekujur tubuhku, perih bila kena sentuh. Kata dokter, cacar sengaja dikeluarkan supaya nantinya tidak terkena cacar lagi atau tertular dari penderita lain. Demi mengeluarkan serta menghilangkan benjolan berisi nanah ini, tiap harinya aku harus merelakan bokongku disuntik dua kali. Itupun selama seminggu. Banyangin, bokongku rasanya amat kaku.  Menginjak kehamilan yang ke 9 bulan ibuku tidak boleh sering-sering mengurusku, kata dokter, janin yang ada dalam perutnya takut tertular juga.
Aku diasingkan di ruangan yang berbau obat, sendiri pula. Sepulang kerja sesekali ayahku menengokku. Waktu itu di tengah siang, aku pura-pura tidur ketika ayahku menengok kondisiku, aku melihat dia duduk disebelah ranjangku, sembari mengelus rambutku yang kaku dan bau, beberapa hari aku tidak mandi, pantaslah rambutku kaku. Sesekali aku mendengar suara senggukan darinya, mataku menyipit, melirik, aku melihat di ujung mata ayah ada air yang mengalir, aku tau betul, ayah menangis, ingin rasanya aku buka mataku dan mengatakan aku tidak apa-apa dan tersenyum. Tapi aku sudah terlanjur pura-pura tertidur.
                                                                        ***
Dua minggu lamanya aku mengalami pengobatan. Bintik-bintik kecil berisi nanah ditubuhku sudah mengering. Tapi ada masalah lagi, ayah harus mencari obat mujarab agar bekas benjolan di sekujur tubuhku tak berbekas.  Saran dokter membeli obat bernama mederma. Karena pengobatanku hanya tinggal daerah luarnya saja dan itupun hanya mengoles bekas bintik-bintik yang mengering, aku diperbolehkan kembali ke pondok.
Dua minggu aku meninggalkan rutinitas pesantren dan sekolah. Sore itu rekan-rekanku berkumpul diteras depan asrama kami, mereka bersorak mengetahui aku berjalan menuruni mobil. “Nineng kembali” seru salah satu teman akrabku sembari mengajak teman-teman lain bergerumbul menyambutku. Hari terulang seperti biasa. Tak pandang dia sakit atau habis sakit, tugas piket di asrama harus tetap berjalan.
                                                                        ***
Kisah si Alif yang dipaksa mondok memiliki kesan yang amat baik. Dia punya tiga jurus mujarab dalam menghadapi hidupnya,
Man jadda wajada
Siapa yang bersunguh sungguh akan berhasil
Man shabara zhafira
siapa yang bersabar akan beruntung
Man saara ala darbi washala
siapa yan berjalan dijalannya akan sampai ke tujuan
Ikut sertanya di ekstra jurnalistik juga membuatnya menjadi penulis yang tidak dipandang remeh dimasyarakat. Coretan tintanya beruang kali menyelamatkan hidupnya dari kerasnya hidup dirantauan.

Sementara kisahku yang ngotot mondok memiliki cerita serupa dengan kawan-kawan yang memilih mundur dari pondok. Aku terus sakit-sakitan, seperti menjadi rutinitas tiap bulan akhirnya aku dipindahkan di salah satu sekolah swasta di sebelah kotaku. Badan kurus dan sakit-sakitan mereda. Bebarengan dengan pindahnya sekolahku, ayahku juga berpindah tugas di kota yang makin jauh. Yang awalya mengurus kebun kopi di daerah jember, kini beliau dimutasi di salah satu perkebunan teh di lumajang. Berunung rutinitas sakitku siuman. Di sekolah swata itu aku mencoba meraih keberuntunganku. Mengikuti ekstra baca puisi dan mading. Itupun cukup membantuku menjadi pede memampang tulisan di blogku saat ini :D.